#DearBangkok: daku bangga berbatik!

Tiba-tiba daku teringat dengan Fitria, sahabat daku ketika masa SMA di Kota Jogja. Sosok wanita njawani sesungguhnya: berparas ayu, tutur katanya lembut, dan murah senyum. Persahabatan kami tidak terhenti hanya di bangku sekolah, terkadang daku juga main ke rumahnya di kawasan Tirtodipuran yang merupakan kawasan pengrajin batik dan bertemu dengan orang tuanya yang baik hati dan ramah. Satu hal yang begitu melekat dengan keluarga bersahaja ini adalah semua hal mengenai batik. Iya, batik. Rumahnya tepat di belakang show room batik milik keluarga secara turun-menurun dan sangat luas. Daku sampe bengong pada awalnya. Disamping rumahnya pun ada beberapa pengrajin batik yang sudah bekerja dengan keluarga tersebut dalam waktu cukup lama. Ada beberapa guide yang juga bekerja untuk menjelaskan proses pembuatan batik dalam berbagai bahasa. Sangat khas suasananya dan daku masih bisa mengingatnya secara detail sampai sekarang.

Seiiring berjalannya waktu dan karena frekuensi daku cukup sering berkunjung ke rumah Fitria, lama-lama daku pun tertarik untuk belajar membatik. Sampai suatu hari daku meminta ijin kepada orang tuanya untuk bisa ikut ‘bantu-bantu’ *tepatnya ngerusuhin, hihi* mbak-mbak yang lagi bekerja. Daku pun dikenalkan satu persatu dengan yang namanya kain mori, canting, gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), malam batik (lilin), sampai panci dan kompor kecil untuk mencairkan lilin. Exciting banget! Bayangin aja, daku sudah tinggal di Jogja bertahun-tahun tetapi baru kali itu bisa merasakan membuat batik secara langsung. Daku pun akhirnya sempat merasakan belajar batik (dan gratis) untuk beberapa waktu, seru kan? Hihihi…

Tapi yang perlu dipahami juga, ternyata batik itu tidak hanya sekedar menggambar di atas kain mori. Tetapi semua pola yang terbentuk, pasti ada filosofi jawa dibalik itu. Kalau mengenai filosofi batik sendiri, daku banyak belajar dari Museum Ullen Sentallu di kaki langit gunung Merapi yang sudah berkali-kali daku kunjungi selama tinggal di Jogja. Mereka memiliki satu ruangan penuh dengan kain batik, dimana guide museum akan menjelaskan dengan detail arti filosofi dari masing-masing pola batik tersebut. Definitely, you will fall in love with Batik after you know all the philosophies behind it!

Selain itu, sejak daku sempat dipercaya bertugas membawa nama Kota Jogja untuk promosi pariwisata pada tahun 2003, daku pun semakin banyak belajar mengenai batik. Karena bagaimanapun juga, daku menjadi garda terdepan yang harus dapat memberikan penjelasan mengenai batik. Karena itu, daku sempet kesel waktu Hari Batik kemarin ketika daku ganti avatar pake batik, lah ada yang nyinyir katanya cuma ikut-ikutan euphoria. Pengen rasanya lempar pake lilin batik yang masih panas. #eh

Tanpa disangka, kepulangan daku ke Jakarta minggu lalu dari Bangkok, bertepatan banget dengan acara peluncuran kartu BCA Card Platinum pada hari Jumat (28/10) minggu lalu, dimana kartu private label BCA ini menggunakan design batik yang dirancang untuk pribadi yang eksklusif, elegan, mapan dan peduli dengan heritage Indonesia *sisiran*. Kartu yang memang ditujukan untuk segmen Platinum ini merupakan kepedulian BCA untuk melestarikan kekayaan warisan budaya Indonesia. Seneng deh kalau ada perusahaan Indonesia yang peduli dengan budayanya sendiri. Jadi inget perusahaan tempat daku bekerja dulu yang seragamnya pake batik.

Acara yang berlangsung di Atrium Senayan ini pun seru banget! Kami yang hadir disuguhi dengan tarian Bedhoyo kontemporer, peragaan busana Iwan Tirta Private Collection, sampai penampilan Maliq & D’essential. Selain itu, di acara ini juga berderet toko-toko batik non-permanen yang sengaja berpameran selama acara ini berlangsung. Sayang, waktu itu daku baru sampe di Jakarta, jadi mood belanjanya belum timbul dengan paripurna. Coba iya, bisa-bisa gesek kartu credit card BCA sampe tipis, hihi.

Eh iya, tentu penasaran dong kayak apa bentuk kartunya? Lihat deh di bawah. Menurut daku motifnya keren banget karena didesain sama Iwan Tirta, salah satu perancang busana ternama Indonesia yang telah melestarikan seni batik nasional dan memperkenalkannya ke dunia internasional. Motifnya sendiri adalah seekor Burung Phoenix dan Mega Mendung. Burung Phoenix merupakan burung yang hidup abadi dan melambangkan keberuntungan, sedang motif Mega Mendung merupakan motif yang menyerupai awan yang melambangkan perjalanan hidup manusia yang terus berkesinambungan. Demikian filosofi ini diangkat agar menjadi lambang keberuntungan yang selalu berkesinambungan. Dalem ya, cuy!

Beneran deh, rasanya pengen punya Kartu BCA Card Platinum ini. Pasti bangga banget kalau bisa ditunjukkin ke temen-temen di Bangkok sambil menceritakan betapa kayanya budaya Indonesia, tentu saja salah satunya adalah batik. Apalagi ya, secara daku disini kemana-mana bawanya Kartu BCA bergambar Batman aja gitu *nangis dipojokan*. Tetapi, berbangga dengan batik bisa dilakukan dengan banyak cara. Seperti daku yang telah pindah ke negara orang dan baju yang paling banyak daku bawa adalah batik! Daku bangga berbatik dan bangga dengan kebudayaan daku sendiri. Nah, buat kamu yang ingin tahu lebih banyak mengenai batik, bisa follow akun Twitter @BanggaBatikID dan ‘Like’ Facebook page BanggaPakaiBatik. Jadi, banggakah kamu dengan batik? (*)

#DearBangkok: a postcard to remember

Dear Hanny,

Apa kabarmu disana? Masih memandangi lampu-lampu berpendar pelan di jalanan Jakarta yang muram? Atau sekedar menghitung titik air hujan yang jatuh di jendela taksi sembari berharap kamu memegang secangkir cokelat hangat di genggaman? Ah, seandainya aku ada disisi kananmu saat ini, kita bisa tertawa lepas dan memulai menertawakan hal yang sama tanpa kita pernah tahu: kenapa, mengapa, bahkan apa yang membuat kita memecah keheningan. Kita hanya tahu satu: kamu dan aku, berada di dunia yang sama.

Jangan khawatir Han, aku baik-baik saja disini. Tidak ada setumpuk berkas, sederet email dengan tanda kotak tertutup, atau nada pesan yang masuk di telepon genggam yang membuat mata kita memerah ditengah malam seperti saat itu. Disini hanya ada detak suara jam dinding yang semakin malam terasa semakin memekakkan telinga, disela sinar bulan yang mengintip dari balik jendela. Ya bulan itu, yang setia menjadi penghantar pesan diantara kita. Karena kita selalu tahu, disaat-saat tertentu, kamu, aku, memandang bulan yang sama.

Disini aku belajar Han, ternyata sendiri – atau perasaan sepi? – tidak sebegitu menakutkan. Aku masih menyimpan dan berteman dengan balon-balon harapan yang pernah aku ceritakan dulu. Beberapa masih kudekap di sela-sela jemari, sebagian telah aku lepaskan diantara ratusan terang jendela condo di tempat aku tinggal saat ini. Lalu aku mulai menggantinya dengan menyusun balon-balon kenangan.

Terkadang, lebih mudah mengingat dan menyimpan masa lalu. Bukankah aku berada disini karena langkah-langkah kecil yang berani aku ambil dengan dorongan semangat darimu, tepukan hangat dari orang-orang terdekat, dan senyum lebar dari mereka yang bilang, “Hei, kamu bisa! Ayo terus!” ketika aku terjatuh dan enggan untuk bangkit lagi? Aku yakin aku bisa selalu tersenyum dan terus melangkah sampai bayanganku meredup.

Malam selalu berganti dengan pagi dan aku terus menghitung hari yang kulewati disini. Menggores satu garis lurus di buku saku yang mulai tampak usang. Satu, dua, tiga, sampai aku terlupa karena sederet angka itu berjalan beriringan dengan rasa rinduku untuk pulang. Terkadang diantara langkah-langkah pelanku, aku berhenti sejenak memandangi kedai kopi bernuansa serba putih di seberang jalan yang menanti kedatanganmu. Aku melihat: bayanganku berbagi cerita-cerita kepadamu, mendengar derai tawamu, atau sekedar duduk dalam hening sambil menunjukkan postcard-postcard yang telah kukumpulkan selama ini.

Karena postcard-postcard itu Han, aku menyusuri lorong-lorong penjaja untuk mencari secarik postcard cantik yang pantas untuk aku layangkan. Ritual baru yang menjadi alasan baru untuk beranjak melangkahkan kaki di setiap akhir pekan. Aku pernah cerita, kan? Postcard-postcard inilah yang akan menyampaikan rasa rindu, sedih, senang, bahagia, atau hanya sapaan ringan untuk orang-orang terdekat. Seperti kamu, dia, mereka, yang selalu mendoakan aku dijeda waktu.

Satu postcard. Satu lembar dua sisi bergambar kota Bangkok dan pesan bertulisan tanganku yang akan menjadi satu pengingat: semua tentang ceritaku. Mungkin aku hanya semakin tua dan takut kehilangan, lalu dilupakan. Postcard-postcard ini yang akan menyebarkan puluhan puzzle kenangan dan menanam ratusan senyum. Karena, suatu saat nanti, mungkin kamu dan entah siapa pun yang menggengamnya, akan bergumam dalam hati, “Aku mengenal lelaki ini yang begitu mencintai hidupnya”.

Dear Hanny. Iya, aku baik-baik saja. Tanpa secangkir kopi digenggaman dan senyumanmu dengan mata memerah yang selalu aku ingat. Jangan khawatirkan aku.

PS: I’ll send you – a first postcard to remember.