kenapa harus aku?

“Iman! Kenapa harus aku sih yang jadi interpreternya representative UNSW?! Lu kan tau English ku lagi cacat-cacatnya?”

Rasanya ingin menangis. Aku gak PD. Sudah lama tak berkomunikasi dengan bahasa asing itu. Membayangkan orang-orang mengantri ke meja konsultasi UNSW (University of New South Wales – Australia), dengan 2 representative bule di kanan-kiriku, dan aku harus menterjemahkan kata per kata yang mereka bicarakan kepada orang Indonesia yang bertanya, langsung membuat keringatku mulai mengalir.

Sudah sejak 2001 aku bekerja lepas sebagai Liaison Officer, istilah kerennya perantara atau pendamping (eh moga bener ya), istilah gak kerennya, bagian bantu-bantu serba bisa, hihi… Pengalaman bekerja pertama sebagai LO sewaktu ada event internasional Asean Tourism Forum tahun 2001. Bertemu dengan orang-orang asing dari seluruh dunia dan berinteraksi dengan mereka sungguh menyenangkan. Seharusnya. Read More “kenapa harus aku?”

gagal diet

“Diiim! Bangun! Ayo makan!”

Ijul tetangga kamar kos, sudah mulai memanggil-manggil dari luar kamar untuk menjalankan ritual pagi anak-anak kosku, makan soto bersama.

“Tidakk!! Udah jam 7 aja, gak terasa waktu dari Shubuh berjalan cepet banget. Duh!”

Mata mulai mengintai ketiga HPku. Cek HP 1, no sms. Cek HP 2, 2 sms received. Tut tut tut… Dalam keadaan terpejam pun aku mulai membalas sms satu persatu (ini bakat terhebat yang pernah aku miliki, sms sambil merem, hihi).

“Hoah… Tidur lagi ah… Zzz!”

“Dimm! Makan soto… soto… Ikutan gak?”

Iqbal anak kosku yang laennya meluncur masuk kamar sambil menggoyang-goyangkan badanku.

“Gak ah Bal, masih kenyang banget…. Met makan ya…”

Ucapku sambil membuka mata cukup setengah terbuka dan tangan masih memeluk guling.

“Eh tolong pintunya tutup lagi Bal”

Yes! Kapan lagi bisa tidur nyenyak, libur begini memang paling enak buat sleeping handsome.

“Duh sebenarnya laper juga sih, tapi aku harus ngurusin badan, perutku udah membuncit. Udah jomblo, perut buncit juga, malangnya nasibku, huhu.”

Hampir seminggu ini, aku dalam sehari cuma makan 2 kali. Siang dan malam. Cara diet yang kurang efektif sebenarnya. Tapi perutku memang tak bisa ditolerir lagi. Gendut. Adekku memanggil gembul. Hiks!

Padahal dari jaman smu sampai lulus kuliah pertama, berat badanku masih standar, 55 kg. Terlalu kurus sih untuk cowok ganteng setinggi 170 cm kayak aku, halah! Haha… Dulu mau makan apa aja hayuk, gak bakal berat badan ini bertambah.

Tapi sekarang, berat badan ini pasti sudah diatas 60 kg. Mending kalau gemuknya merata, lemak-lemak itu lebih memilih duduk manis di pipi dan perut. Damn! Kenapa harus ditempat yang terlihat. Coba gemuknya cuma di jempol.

Aku harus menghentikan semua kebiasaanku. Gak ada lagi Chuncky Bar, gak ada lagi Biskuat, gak ada lagi wafer Superman, gak ada lagi Saif Kebab, gak ada lagi kue-kue lucu toko roti Merdeka, gak ada lagi late nite burjo. Selamat tinggal sahabat-sahabatku.

Tapi, masih ada lagi satu tantangan yang tak bisa aku tepis. Mereka… Yang selalu menunggu dibawah. Dengan motor-motor yang siap meluncur. Dengan mata berbinar-binar menanti saatnya makan. Mereka… Anak-anak kosku!

Pagi. Siang. Malam. Mereka menghantui dengan wisata kulinernya. Dan beberapa kali aku pun yang akhirnya menjadi guidenya. Oh tidak! Gagal sudah dietku. Read More “gagal diet”

dimas novriandi Proudly powered by WordPress