balada vany dan hape

Namanya Vany. Dia bunga kampus Psikologi UGM. Rambut tergerai panjang. Bermata lentik. Selalu ramah. Dan hidung yang… merah. Lho? Ternyata matanya pun tak jauh berbeda, berbayang merah dan berderai air mata.

Vany: “Hapeku hilang Mas! Huhu….”

Dimas: “Lho memang tadi di taruh mana toh Dek Van?” *kaget berat*

Vany: “Aku lupa Mas… Tapi kayaknya di tas. Tak cari-cari udah gak ada, huhu….”

Namanya Vany. Gemar menari dan bertutur medhok sekali. Hihi… Walaupun sedih, dia tetap mengumbar senyum seperti biasa. Karena hapenya hilang pun tepat ketika kegiatan pameran pendidikan Australia dari IDP masih berlangsung. Apalagi dia harus bertugas di bagian registrasi. Mungkin karena saking ribetnya, ada tangan jahil mengambil kesempatan untuk meyambar HP di dalam tasnya. Sebagai project coordinator temen-temen yang bertugas sebagai interpreter dan assistant, dengan perasaan ikut bersalah, aku pun mencoba menghibur Vany.

Dimas: “Ya udah, kita coffee break dulu aja. Banyak makanan enak tuh, pasti doyan kan? Hehe.”

Vany: “Iya Mas….”

Lalu kami berdua pun mencomot makanan hotel nan lezat itu satu persatu. Ajaib! Ketika mengunyah makanan tangis Vany pun terhenti dengan sempurna. Tapi kemudian…

Vany: “Huhu….”

Dimas: “Lho kok nangis lagi Van?”

Vany: “Gak papa Mas, jadi inget hapenya lagi aja… Tapi kalo makan… Gak nangis lagi…” *berbicara dengan wajah lugunya*

Dimas: *ketawa ngakak* “Yo wis toh makan lagi aja, haha.”

Namanya Vany. Hobinya makan dan tak bisa duduk diam.

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Continue reading “balada vany dan hape”

aku di dunia serba kanan

Bukannya Tuhan menciptakan kedua tangan kita untuk dapat digunakan kedua-duanya? Sama lah seperti dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, dan dua hati untuk selingkuh *PLAK!*. Pertanyaanku nih, kenapa banyak orang menganggap aneh jika ada seseorang menggunakan tangan kirinya untuk menulis? KIDAL, begitu orang-orang menyebutnya. Mungkin mereka gak pernah tahu, betapa capeknya hidup di dunia yang serba kanan ini. Semua fasilitas tampaknya ditujukan untuk mereka yang beraktivitas menggunakan tangan kanan. Dan sayangnya, aku pun dilahirkan untuk menjadi seorang kidal. Untung saja aku punya orang tua yang sangat demokratis *atau dibiarkan sebenarnya, hihi*. Mereka tak pernah memaksaku untuk menggunakan tangan kanan untuk kegiatan yang bersifat personal. Walau untuk kegiatan yang bersifat sosio-normatif seperti bersalaman, makan, menerima barang, dan hal-hal lain tentu aku harus menggunakan tangan kanan dong. Bisa-bisa gak diakuin sebagai anak kalau daku makan di depan umum pakai tangan kiri, du du du. Tapi ssttt… kadang kalau pakai sumpit aku tetap menggunakan tangan kiri, susah sih!

Anyway, penderitaanku menggunakan tangan kiri dimulai sejak jaman sekolah dasar, dimana guru-guru SD itu dengan tak tahu dirinya berbicara,

“Ayo Dimas, nulisnya pakai tangan yang manis. Nah seperti itu… Jangan dibiasakan pakai tangan kiri ya. Gak bagus.”

URGH! Gak tahukah mereka kalau penelitian terbaru jika anak-anak kidal dipaksakan menulis tangan kanan secara terus-menerus bisa menyebabkan disleksia dan mengaburkan dominasi fungsi otak? Untung saja aku gak sampai disleksia, adanya sekarang malah menjadi manusia yang super duper berisik. Nyebelin pula. Continue reading “aku di dunia serba kanan”