skripsi yang malang

Pagi tadi dengan semangat Supersemar daku ngacir ke kampus. Ngapain Dimas? Apalagi kalo bukan buat bimbingan skripsiku yang udah jadi prasasti dengan debu setebal 5 senti di atasnya karena udah gak kesentuh hampir… *menghitung dengan jari* ya… kira-kira satu tahun lebih lah! Hihi…

Jadi inget obrolanku dengan Dita sohibku dari kelas magister beberapa waktu yang lalu,

Dita: “Dim, piye skripsimu? Mosok udah mau wisuda magister malah S 1 nya belum? Padahal… Bukannya dirimu udah ngerjain skripsi dari awal kita masuk magister?! Dua tahun lalu dong! Ngapain aja lu?” *Dita geleng-geleng prihatin plus cemas dengan nasibku*

Dimas: “Ah masa? Gosip itu Dita, jangan percaya sama infotainment, hihi. Daku kan soalnya konsentrasi ma kuliah magister Dit.” *ngeles tentunya*

Padahal, sungguh beruntung daku mendapat dosen pembimbing skripsi paling baik hati, cerdas, dan menawan. Tapi dasar dakunya aja yang geblek, selalu menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa lulus segera.

Alhasil tadi pagi daku duduk manis di sofa berwarna merah pudar mengerikan dengan tiga orang lainnya yang menunggu Bu Antari, sang dosen pembimbing kami. Tiga orang yang bersamaku itu tentu saja adek-adek angkatan yang dengan terpaksa harus menyapa daku duluan. Yang pertama Si Gendut Nan Ramah *sebut saja dia SGNR*, yang kedua Si Manis Berjilbab *sebut saja dia Bunga, eh SMB ding* dan satu lagi Si Diam Gak Penting *gak penting lah pokoknya, lho?*.

SGNR: “Mas mau bimbingan ya?” *dengan senyum sumringah*

Dimas: *gak, daku mau dongkrak mobil!* “Eh iya nih, bimbingan Bu Antari juga ya?”

SGNR: “Iya Mas, ini baru mau bimbingan bab tiga. Mas mau bimbingan apah?”

Dimas: “Baru masukin draft skripsi si… Rencana wisuda kapan?”

SGNR: “Pengennya bulan Mei besok Mas, Mas sendiri?”

Dimas: “Mei juga dong!” *dengan pede amit-amit*

SMB: *melotot tak percaya sambil mengasah pisau* “Gak mungkin banget Mas! Keajaiban kalo Mas bisa pendadaran bulan ini!”

Dimas: “Kenapa gitu?” *shock berat, banting meja dan kursi, bakar mobil dosen, eh boong ding*

SMB: “Soalnya Bu Antari itu detail banget ngecek tiap tulisannya. Titik koma aja jangan ampe dah ada yang salah.”

SGNR: “Saya aja ya Mas, baru masuk bab tiga sebelumnya dah DELAPAN kali bimbingan!” *dengan bangganya, du du du*

Dimas: *mangap dan dirubung lalat*

SMB: “Tabahkan hatimu Mas, tetaplah semangat… Sudahlah, ikut wisuda Agustus saja.”

SGNR: “Eh Mas emangnya angkatan berapa sih?”

Dimas: “Dua ribu satu… Makanya mau ngerayu ibunya supaya bisa dicepetin sebelum daku terancam DO, huhu.”

SGNR: “KAKAKA…. Ternyata ada yang lebih tua dari aku! YES!” *tertawa dengan sangat girangnya*

Dimas: *tersenyum getir*

Dan obrolan kami pun terus berlanjut sampai akhirnya Bu Antari datang dengan sumringah. Kami berempat pun bersiap-siap dengan bergerola untuk bertemu dengan beliau. Rambutku masih oke, baju rapi, lipstik masih nempel, lho?

Eh pas si SMB berdiri mau masuk ke ruangan, tiba-tiba aja ada mas-mas-bodoh-tak-berpendidikan-pake-dasi-udah-jelek-item-pula ngeloyor masuk bertemu Bu Antari. Anjrit! Padahal kami dah sampe ingusan nungguin hampir dua jam dan dia baru aja dateng! Sial!

SGNR: “Dasar anak magister tak tahu di untung, apa seh maunya dia?!”

SMB: “Kurang ajar! Mas-mas jelek gak tau diri! Minta ditampar bolak-balik itu orang!”

SDGP: *tetep diam gak penting*

Dimas: “Iya! Anak-anak magister memang kayak gitu! Gak tau diri, nyebelin, sok asik, bla bla bla!” *untung aja mereka gak tau daku baru lulus dari magister, hihi…*

Setelah mereka puas maki-maki itu manusia, dan daku pun juga puas ngomporin mereka, ya dengan sangat terpaksa kami menunggu dan menunggu lagi… Setelah menunggu satu jam, akhirnya daku berhasil menyerahkan itu draft skripsi dan harus menemui beliau satu minggu kedepan buat bimbingan perdana. Lama sekali ya, huhu… Duh semoga saja nanti semua lancar dan keajaiban lagi-lagi menghampiriku, amien. (*)

magister hukum bisnis menulis

Setelah daku pontang-panting setengah hidup dan setengah mangap mengurus ujian pendadaran sampe berhasil dieksekusi lulus, akhirnya sampai juga daku ke tahap ngurus wisuda. YES! Pada awalnya daku pikir yang namanya ngurus wisuda tentu saja tak susah, paling tinggal ngisi formulir dan bayar wisuda, kelar dah! *abis itu kipas-kipas sambil minum soda gembira di taman* Tapi… Impian tak seindah kenyataan kawan. Kuliah di kampus yang besarnya se-lapangan bola dikali seratus, terus dibagi dengan pola jajaran genjang, tentu saja membuat mimpi buruk kembali menghantui. Harus mengurus surat keterangan bebas pustaka di tiga perpustakaan yang berbeda *dan berjauhan!* tentu saja sangat menggairahkan. Menggairahkan untuk ditinggalkan tentunya. Ke perpustakaan pusat naik ke lantai dua, terus pindah gedung ke perpustakaan pascasarjana, naik ke lantai dua, terus pindah gedung lagi ke perpustakaan fakultas, ngesot dah di lantai. Capek berat! Belum lagi bawa jilidan tesis segede gaban kemana-mana.

Yah tapi yang namanya mau lulus ya memang butuh pengorbanan. Kalau ingin mencapai sesuatu yang baik, tentu saja ada rintangan terlebih dahulu. Mungkin begitu juga dengan ritual mengurus wisuda ini. Nah, selain daku kudu mengurus surat bebas pustaka itu, daku juga kudu mengetik ulang segambreng formulir yang kudu diisi, mulai dari data penulisan ijazah sampai kartu alumni Gadjah Mada. Dan kawan, telah terjadi kebodohan tingkat tinggi yang membuat daku sangat amat malu sekali. Begini ceritanya… Perhatikan data penulisan ijazah di bawah ini:

Nama

Nomor Mahasiswa

Program Studi

Minat

Fakultas

: Dimas Novriandi

: 18203/PS/MH/05

: Magister Hukum Bisnis

: Menulis

: Hukum

Ada yang aneh gak dengan data di atas? Gak kan?! Daku juga begitu dengan yakin seyakin-yakinnya. Tapi ketika daku ketemu Mas Asep di sekretariat Magister Hukum, beliau bilang begini,

Mas Asep: “Mas Dim, dirimu kok lugu banget ya? Haha…”

Dimas: “Heh kenapa gitu Mas?”

Mas Asep: “Coba deh cek di data ini yang bagian minat.”

Dimas: “Lho kan bener Mas? Daku kan mang minatnya menulis, hihi…. Mang aneh ya?”

Mas Asep: “Bukan gitu… Maksudnya Minat itu adalah jurusan spesifik yang diambil di program Magister, bukan hobi.” *menahan tawa*

Dimas: *bengong bin malu* “Oh gitu ya Mas, jadi harusnya Program Studi Magister Hukum dengan Minat Hukum Bisnis ya Mas?” *ketawa bodoh dengan wajah memerah – cari lubang buat sembunyi*

Mas Asep: “Iya harusnya gitu… Terus kamu isi apa di formulirnya si Ari?”

Dimas: “Olah Raga Mas…. “ *ketawa ngakak setelahnya*

Ya ampun! Mungkin daku adalah lulusan Pascasarjana terbodoh bin terlugu dari UGM. Gak kebayang aja nanti di ijazahku tertulis Magister Hukum Bisnis Menulis dan di ijazah sahabatku Ari *yang daku urus semua syarat wisudanya* juga tertulis Magister Hukum Bisnis Olah Raga. Kakaka….Duh jadi gak yakin ni mau wisuda. (*)