Merdeka, Untuk Kita Semua

kojakers

Merdeka. Satu kata berbaris makna. Tiap orang pasti memiliki kemerdekaannya masing-masing. Merdeka untuk berbicara, merdeka untuk mecinta, merdeka untuk menjadi diri sendiri, atau apapun bentuk kemerdekaan yang mereka pegang sebagai satu kunci untuk menjalani hari dengan langkah pasti.

 

Lalu, apa kemerdekaanmu Dim? Dulu, buat daku merdeka itu artinya kebebasan untuk melakukan apapun yang daku mau. Mulai dari bagaimana daku mengisi waktu luang, memilih jurusan kuliah, atau bahkan merdeka untuk menjadi jomblo *begh, curcol!*

 

Tetapi, kemerdekaan yang sudah diperjuangan oleh pahlawan bangsa tidaklah sesimpel itu. Mereka menggadangkan senjata melawan musuh, berpeluh darah dan berlari diantara desingan peluru, bukanlah untuk melihat kita berkeluh kesah.

 

Karena itu, kemerdekaan yang telah kita rasakan selama 64 tahun terakhir ini akan daku tunjukan dengan bernyanyi-nyanyi di kamar, pake daster, pake wig pirang, terus di rekam pake handy cam. Tentu saja tak lupa bakal daku upload di Youtube supaya semua orang bisa liat aksi daku *lho ini yang nulis Marshanda atau Dimas sih? Kekeke*.

.

Well, menurut daku sih, kemerdekaan yang kita rasakan harus diisi dengan penuh tanggung jawab. Apa sih yang bisa dilakukan orang biasa seperti daku di negara seindah, sebesar dan sebhinneka ini? Simply, tidak membuang sampah sembarangan, membayar pajak, mematuhi hukum yang berlaku dan masih banyak hal ‘kecil’ lain sebagai penghargaan dan perhatian kepada bangsa ini. Tapi kamu kan masih beli DVD bajakan Dim? Errrr iya sih, tapi itu kan…. *kabur ke Segitiga Bermuda sama Gita Gutawa*.

 

Perhatian ‘kecil’ itu pun muncul dari Goenrock, teman karib saya di Kopdar Jakarta. Keahliannya dalam menyuting pelem, membuat animasi dan hal-hal kreatif lainnya, mencetuskan ide untuk membuat video dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke – 64 mendatang. Video apa itu? Tentu saja tak lepas dari kegemaran keluarga besar Kopdar Jakarta untuk berkaraoke bersama, tapi kali ini kami menyanyikan lagu Hari Merdeka dengan masing-masing versi *walaupun daku menyanyi seperti di bawah todongan senjata tentara Jepang, huhu*.

 

Sungguh, hasilnya keren banget. Perjuangan Goenrock untuk merekam dan mengedit, Imam dan daku mencari pernak-pernik kemerdekaan, serta semangat temen-temen Kopdar Jakarta untuk berkumpul di hari Minggu yang cerah menghasilkan video yang menjadi hadiah kami bagi bangsa Indonesia, bangsa yang kami cintai, bangsa yang telah membebaskan kami *dengan bertanggungjawab* sebagai blogger untuk bisa mengekspresikan diri di dunia maya serta bangsa di mana para warga mayanya dengan lantang meneriakkan “Kami Tidak Takut!” kepada teroris yang sempat ‘menjatuhkan’ semangat negeri.

 

Inilah hasil video dari Kopdar Jakarta menyanyikan lagu ‘Hari Merdeka’ sebagai persembahan kami kepada Republik Indonesia:



Kami pun tak lupa untuk mendukung gerakan #IndonesiaUnite, sebuah gerakan atas prakarsa warga Indonesia yang menggalang kebersamaan melalui jaringan sosial twitter, yang kemudian oleh Mas Ramya digagas untuk membuat situsnya dan Iqbal yang mempopulerkan gerakan ini melalui Facebook. Di bawah ini adalah video dari Kopdar Jakarta untuk mendukung atas gerakan hebat ini:



Nah, menurut kamu sendiri, apa arti dari kemerdekaan? (*)

#14 cup: Room service, I love you full!

Muka daku udah kayak ondel-ondel. Okey, kayaknya gak seganteng itu. Tepatnya, muka daku kayak ondel-ondel versi Zimbabwe. Setelah seminggu terakhir kerjaan kayak bengawan Solo, mengalir mulu kagak berhenti-henti, bentuk daku udah gak ada lucu-lucunya. Mata item kayak panda, rambut jigrak kemana-mana, jerawat bermunculan gak liat-liat tempat. Tiap malam kerjaannya mantengin laptop, ngerjain tugas-tugas yang lum kelar selama 10 menit, 10 menit lainnya nge-fesbuk,  hihi… Begitu terus alurnya sampe jam 12 malam setiap hari, du du du…

 

Anyway, setelah sepagian daku meluncur ke daerah Pandaan bareng temen-temen wartawan, dan berkeliling di salah satu pusat pelatihan wirausaha milik perusahaan yang keren dan luas banget, alhasil bikin kaki daku berasa dipegangin sama Julia Perez di kiri dan Dewi Perssik di kanan. Beraaat! Jadi lengkap sudah, ujung kepala sampe ujung kaki gak layak uji jadi model dan VJ *ya iyalah, pas baik-baik aja gak pantes, hihi*

 

Pendek cerita, menjelang malam akhirnya daku sampe juga di hotel. Entah kenapa, perasaan hotel yang disediain kantor segambreng, tapi selalu kalo nginep pas dapet brand hotel ini, udah 3 kota aja gitu… Nah, setelah bantu temen wartawanku buat check in, daku pun dengan semangat masuk kamar, lepas sepatu, stocking, bulu mata palsu, sama wig, eh… itu ntar malam ding. Jadi daku ngelepas sepatu, celana, dan ganti celana pendek. Baju? Tetep dong pake seragam kebanggaan, hihi.

 

Kemudian, hal pertama yang daku lakukan adalah berdoa… *hening* Oke, oke,  daku bohong! Hal yang daku lakuin adalah buka daptar menu buat dinner, rasanya pengen pesen semua yang ada di situ. Tapi dijamin, besok yang dateng bukan bill tagihan, tapi surat disuruh resign, kekeke…. Akhirnya daku pun pesan ke room service buat dinner. Telpon ah…

 

Dimas : ”Malam Mas. Mas, saya mau pesan chicken burger, french fries, sama milk… milk… milk shake vanilla!”


Room service: “Baik Pak, saya catat, jadi Bapak pesan bla bla bla… tapi…. French fries itu udah ada satu paket sama chicken burgernya. Atau mau diganti pisang goreng?”

 

Dimas: “Pisang goreng?! Gak ada pisang goreng mas ditulis di sini?” *buka-buka menu sampe bego*

 

Room service: *hening* “Mas… Itu kan menunya bahasa Inggris, banana fritter mas, BANANA FRITTER.”

.

Dimas: ”Oh…. iya iya, saya pesen itu ya. Saya minta saus cabenya yang banyaaaak ya Mas, gak perlu saus tomat.”

.

Room service: “Baik Pak, akan kami antarkan segera ke ruang 361.”

 

Baiklah, sebentar kan, kalo sebentar itu artinya paling lama 10 menit kan? Iya kan? Seeeep! Gak usah mandi dulu ah, nonton tipi dulu sambil bengong.

 

*setengah jam lebih kemudian*

Wajah lumutan. Bibir mangap segede keong mas TMII. Laper! Tau gitu daku mandi dulu, kan enak kalo dinner, daku pas udah ganteng, udah wangi, walau sendirian. Tapi ya sudah lah, nanggung juga kalo gak ditungguin.

 

Ah akhirnya datang juga!  

Room service: ”Pak Dimas, silahkan chicken burgernya, milkshake vanilla, dan banana fritternya.”

 

Dimas: ”Terima kasih ya, Mas.” *ngasih tip*

 

Setelah mas room service baru saja keluar, daku pun langsung ngecek makanan menggiurkan itu, dan… saus daku mana?!

 

Daku dengan sedikit terburu-buru lari keluar tanpa sandal, celana pendek najis plus baju seragam kantor mengejar mas room service, dan…. BLAK!

 

Hah? Suara apa itu? Oh pintu kamar doang… *kalem*

 

PINTU KAMAR?! Kuncinyaaaaaa! *panik*

.

Coba buka sekali, gak bisa. Dua kali, tetep gak bisa, huhu. Aduh gimana ini? Masa harus ke lobby tanpa sandal, celana pendek dan seragam kantor? Aduhhhh! Daku pun mondar-mandir di selasar kamar-kamar tapi gak nemu telpon bebas yang biasanya disediain buat menghubungi departemen tertentu di hotel.

 

Aduh, masa daku kudu bengong di depan kamar. Makanan daku gimana dong? Huhu. Akhirnya, setelah menguatkan hati, dengan slogan ’lebih cepat, lebih baik, lebih malu’ daku pun berjalan dalam keadaan gak banget itu menuju lobby, dan dengan kalimat pengantar panjang kali lebar, akhirnya dengan tawa yang ditahan, mas receptionist pun mau bukain pintu daku, fiuh akhirnya bisa masuk kamar lagi deh.

 

*beberapa saat kemudian*

 

Ting tong! Ting tong!

 

”Maaf Pak Dimas, saos cabenya ketinggalan,” ujar mas room service dengan senyum tiga jari.

 

*bilang makasih sambil pasang tampang judes sejudes-judesnya, ambil saos, tutup pintu!*.