#15 cup: (tiada) resolusi yang terlambat, bukan begitu?

Di kantor. Daku menguap berulang kali. Mata sudah memerah tetapi tetap tak bisa mengalihkan pandangan dari layar monitor laptop. Tak kerasa. Satu, dua, sampai belasan bulan sudah berlalu. Dan daku resmi, menjadi blogger durhaka lagi, du du du…

Frekuensi postingan di blog daku pun menurun drastis, karena keseharian dipenuhi dengan kerjaan. Rasa-rasanya daku sudah bisa memahami perasaan Vena Melinda yang jadi jarang joget salsa karena terlalu sibuk menjadi anggota DPR. Berkali-kali pertanyaan mampir di jendela percakapan dunia maya, “Dimas kenapa gak ngeblog lagi?”. Ah daku ingin! Tapi kapan ya? Padahal jujur aja, salah satu resolusi daku di tahun 2010 adalah pengen rajin ngeblog! Tapi bahkan posting resolusi 2010 seperti yang biasa daku lakukan di setiap awal tahun aja gak kesampaian, hihi… *disamber petir*

Ngomong-ngomong resolusi, kayaknya biar semakin afdol menjalani tahun 2010, daku pengen berbagi resolusi kecil-kecilan daku di tahun ini. Apa aja itu? Ini dia:

· LEBIH SEHAT

Simpel sih. Tapi ngejalaninnya yang susah. Dari dulu pengen banget namanya nge-gym. Padahal yang namanya gym center cukup tinggal ngesot dari lantai kantor daku ke lantai bawah. Tetapi dasar niat berbanding terbalik dengan semangatnya, akhirnya bertahun-tahun berlalu ya badan daku gini-gini aja. Gendut sih gak, tapi daku udah ngerasa kalo butuh gaya hidup sehat. Umur udah nyaris 20 masak masi demen makan junk food, ih! *dikeplak*


Karena itu, ketika daku tau kalo Soy Joy Indonesia ngadain reality show online dengan tema SoyJoy Healthylicious, dimana mereka akan memilih 10 finalis untuk bisa hidup sehat, daku langsung daptar dan senangnya daku terpilih menjadi salah satu kandidat finalis, yay! Yang pasti, kalo daku berhasil masuk sebagai salah satu dari 10 finalis gak bakal daku sia-siain dah kesempatan ini. Kapan lagi bisa ngejalani pola makan sehat dan olahraga teratur dengan bimbingan para pakar? Mimpi aja gak pernah, hihi… Kalo gagal gimana, Dim? Daku udah janji dengan diri sendiri, kalo gagal, daku akan tetap daftar gym dan tunjukin kepada dunia kalo tahun ini tahun anti sakit, tahun tambah keren, dan tahun tanpa dugem! *kapan daku pernah dugem ya?*


· LEBIH RAJIN BACA dan NGEBLOG

Kalau jaman kuliah dulu, pengen banget bisa beli buku apa aja yang daku mau. Tapi yang namanya anak kuliahan dan walau udah kerja part time, tetep aja untuk bisa beli beberapa buku sekaligus itu kemewahan. Mungkin karena efek itu kali ya, ketika daku udah kerja dan punya penghasilan sendiri, daku seneng banget beli buku dan majalah *beli baju dan sepatu juga ding, hihi* Setiap ada kesempatan, daku usahain untuk beli buku yang daku pengenin. Tapi, ujung-ujungnya balik lagi sama permasalahan waktu yang dimiliki. Daku gak punya banyak waktu luang untuk bisa duduk manis, menyeruput kopi, sambil membaca buku diiringi musik santai di dalam kamar atau coffee shop *ngelirik di meja yang udah lebih dari 50 buku yang belum ke baca*. Tapi sebenarnya sih, karena daku lebih banyak malesnya, hihi… Eh iya, tiba-tiba daku jadi inget satu teori seperti ini:

Remaja: punya TENAGA punya WAKTU tapi gak punya UANG

Bekerja: punya TENAGA punya UANG tapi gak punya WAKTU

Ketika tua: punya UANG punya WAKTU tapi gak punya TENAGA

Duh bingung mau ketawa atau senyum miris, tapi emang bener sih, hihi… Karena itu mumpung daku masih muda *yang protes keplak!*, kayaknya gak pengen menyia-nyiakan waktu berlalu begitu aja. Harus sering mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat *tarik selimut*, lebih banyak ngeluangin waktu buat ngeblog lagi, dan yang penting kalo tinggal di Jakarta, harus lebih banyak bersyukur. Gak bohong si, kadang pernah ngerasa jadi orang paling merana se dunia, tapi di dunia ini masih banyak yang belum seberuntung kita. Daku bersyukur masih bisa kerja, punya penghasilan, dan bisa tinggal di tempat yang hangat.

· MERAIH MIMPI

Daku masih punya banyak mimpi di dalam hidup ini. Kata orang tua, mimpi harus selalu dijaga karena mimpi itulah yang membuat kita hidup dan terus bangun setiap paginya. Mungkin banyak orang disekitar kita yang telah menemukan mimpinya dan bahkan menjalani mimpinya. Kayaknya hanya Agnes Monica yang mimpinya untuk go international tapi sampe sekarang kok ya gak kesampaian mulu *ditendang Agnes ke jurang*. Lalu apa mimpi kamu sendiri apa Dim? Banyak. Ya daku kan tetep manusia biasa, hehe… Tapi ada beberapa hal yang dari dulu pengen banget daku lakuin, mulai dari nerbitin novel yang sudah tertunda sekian tahun sampai bikin fashion blog buat cowok yang sekarang lagi digodok rame-rame bareng temen-temen blogger lainnya yang juga antusias pengen ngereleasasikan blog ini bersama. Semoga saja dalam tahun ini bisa terwujud ya, amien…

Semua resolusi di tahun ini memang tampak sederhana. Semakin bertambah umur memang terkadang semua menjadi harus lebih realistis, trust me, haha… Waktu masih muda dulu, rasanya begitu banyak keinginan yang harus tercapai di dalam satu waktu. Yah memang terkadang, tanpa sadar kita terlena, kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri. Apalah artinya kesuksesan dalam hidup kalo tidak bisa berbagi? Toh esensi dari kebahagiaan itu sendiri adalah berbagi dengan orang-orang yang kita sayangi: keluarga, sahabat, kekasih, rekan kerja, bahkan si mbak yang bantu-bantu beberes di rumah. Ah, setidaknya ada satu hal yang ingin aku lakukan setiap harinya di tahun ini, bangun dari tidur selalu dengan senyuman, dan lalu berkata, “terima kasih Tuhan, untuk hari kemarin, hari ini, dan mungkin, hari esok.” (*)

THE GOODBYE PARTY

Kerlip lampu jalanan Jakarta berpendar hambar di antara gedung-gedung tinggi yang tampak kosong dan letih. Aku memejamkan mata, mendengarkan sepenggal lagu asing yang samar-samar berdesing di kedua telinga ditingkahi suara deru mobil. ANJING! Bayangan sosok dia terus-menerus berputar, menari-nari bagaikan peri neraka yang tak kuasa kusingkirkan dari pelupuk. Dia yang meninggalkan, dia yang merayakan tragedi, dan dia yang merinai kegetiran. Aku masih hidup, tapi jiwaku mati.

Aku tak tahan mendengarkan lagi lagu getir yang mengalun pelan di radio. Kusingkap lengan kiriku, menekan sekilas satu tombol, dan mulai terdengar suara penyiar dengan nada hiperbola,

Listeners, udah denger belom lo kalo bentar lagi di Jakarta bakal ada acara yang gila banget! Gue gak nyangka ada orang yang berani bikin acara sekontroversial ini, edan pokoknya! Nama acaranya aja serem banget, Bunuh Diri Massal 2008! Iya listeners, bunuh diri, ngilangin nyawa lo secara sepihak atas kemauan lo. Tertarik? Gampang men… Selama lo cowok alias laki-laki, dan ngerasa udah gak punya hati lagi, you should join them! Keterangan lebih lanjut telpon aja Ketua Panitianya, nomernya ….”

Aku tersentak. Kuhentikan mobil secara mendadak. Tak peduli dengan teriak-teriakan nama binatang dari pengendara di belakang, kuambil handphone dan dengan sigap mulai menyimpan nomer kontak Ketua Panita Bunuh Diri Massal 2008. Entah kenapa otak dan hatiku secara reflek bersimbiosis menyuruhku untuk melakukannya. Aku laki-laki, tentu saja. Aku gak punya hati lagi, sungguh jelas, hatiku telah lama hilang. Tapi mati? Gila, itu di luar bayanganku. Walau kadang pernah terlintas, jika aku mati, siapa sajakah yang akan menangisi aku, apakah aku punya secret admirer, bunga apa yang tertabur di pusaraku, dan apakah dia akan datang dan tersenyum menang akan kematianku?

Setelah berhari-hari aku mencari keputusan konklusif, dan tentu saja aku tak layak bertanya kepada Tuhan, disini lah sekarang aku berada. Di lantai 15 gedung megah di tengah kota biadab Jakarta. Finance Director, tulisan itu terukir apik di pintu ruang kerjaku. Seakan tak terusik suara deringan telepon dari penjuru kantor, aku hanya menatap lekat formulir pendaftaran Bunuh Diri Massal 2008. Alasan…. Alasan apa yang harus aku tulis? Kenapa mati harus dengan alasan? Apakah kita lahir di dunia juga butuh alasan? I’m always thinking; life is not a matter of reason, but a matter of choice. Ah sudahlah! Kuambil pena berlapis emas, hadiah sebagai lulusan terbaik sewaktu kuliah MBA di US, dan mulai menulis alasan yang realistis buatku, “Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!” Kutulis dengan kasar dan penuh amarah. Sekali lagi, mati tak pernah perlu alasan. Sama seperti ketika dia meninggalkanku.

***

Ya, namaku Irawan. Lengkapnya Irawan Tanoeatmajda. Anak konglomerat dengan kekayaan nomer urut 21 di Asia versi majalah Forbes. Tidak ada yang kurang dari sosokku. Pintar, karir yang bagus dan sialnya, aku punya wajah yang rupawan. Siapa suruh wanita-wanita itu jatuh cinta kepadaku? Toh aku tak pernah memohon hati mereka. Barak hatiku terlanjur penuh dengan sumpah serapah, sampai-sampai tiada lagi tempat untuk satu kata cinta. Hei wanita! Laki-laki bukanlah sepatu, yang kalian bisa pilih sesuka hati, dipakai, diinjak, lalu setelah bosan, hanya teronggok berdebu di sudut ruang. Tak sadarkah kalian bahwa kami makhluk berdaging yang punya hati?

Sungguh aku tak dendam. Aku hanya mencari ketenangan. Lelah berlari di antara desingan waktu yang berpendar terlalu lambat. Pelan-pelan ku ambil secarik kertas putih di laci, dan kumulai menuliskan surat ini,

Surat selamat tinggal untuk semua,

Tolong, tulis jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku ini dan letakkan di atas pusaraku bila aku telah terbujur mati.

Cinta itu seperti hujan… Aku tak pernah paham seberapa deras tetes air itu akan terus jatuh dan entah sampai kapan pula hujan itu akan membasahi bumi. Apakah kalian tahu kapan cinta akan datang dan pergi dari hatimu? Jangan tanya aku, aku tak pernah tahu. Karena hujan itu masih terus membasahi hatiku tanpa pesan.

Cinta itu seperti musik… Aku bisa bersenandung lagu yang sama dan menari tanpa dahaga. Tapi kapankah musik cinta itu akan terhenti? Aku tak tahu, karena aku masih terus menari walau musik cinta itu telah berakhir.

Cinta itu seperti sebatang rokok… Sungguh manis terasa di bibir pada awal sentuhannya, terlena dalam setiap hela hembusannya, tapi semua akan terhenti seketika bila aku tak mampu mempertahankan bara yang tersisa. Apakah kalian tahu bagaimana cara mempertahan nyala cinta seseorang yang kita cintai?

Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu, cinta itu hanyalah penderitaan yang aku nikmati. Dan aku memilih mengakhiri penderitaan itu. Cintaku akan abadi tapi kematian lebih abadi.

Selamat tinggal,

Irawan

***
22 September 2008 jam 10 pagi. Ini saatnya, baliho dan spanduk-spanduk perayaan kematian di Gedung DPR/MPR luar biasa marak, malah bisa dibilang terlalu berlebihan. Warna merah darah mendominasi dekorasi seperti pemuliaan kematian berjamaah.

Sekilas ku melihat sang Ketua Panitia BDM 2008, ah tak layak sepertinya bila aku tak sekedar menyapanya, memberinya penghormatan terakhir yang layak dia dapatkan.

“Saatnya telah datang, kamu gak ada rasa takut bos?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.

“Ketakutan itu hanya milik pengecut. Cinta telah menghapus rasa takut itu.”

“Sungguh bodoh orang yang mati karena cinta.”

“Lebih bodoh lagi orang yang hidup tanpa cinta.”

“Jadi… Kita hanyalah orang bodoh yang tetap akan bodoh ketika mati.”

“Setidaknya kita menjadi orang yang bodoh yang bisa mencintai.”

Dia tersenyum dan aku pun mengangguk setuju.

Kutulis pesan terakhir untuk dia, wanita yang telah membunuh kata cinta,

Lebih baik kubiarkan engkau mencuri hatiku. Tolong, jika engkau bosan dengan hatiku, kuburkan dia di sebelah hatimu. Tak perlu nisan. Karena memang tak ada yang perlu engkau kenang.

Ah! Aku tak sabar lagi untuk mengejang, menggelinjang, dan diam. Aku ingin mati di kursi dewan terhormat. Tanpa cinta. Tanpa jeda. Hanya ingin mati bersama dia. Dia yang tercabik hatinya oleh sosok wanita yang sama. Dia… Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. (*)

Note: Cerita pendek yang saya reposting ini merupakan side story dari cerita serial 7 episode berjudul “Bunuh Diri Massal 2008” karya Fajar Nugross & Alanda Kariza yang menjadi fenomena tersendiri di jagat tulis-menulis Indonesia dan telah dibukukan menjadi novel, termasuk tulisan ini.