#1 Golden Ticket Trip: Welcome to USA!

Akhirnya. Daku sekarang di Seattle. Majikan pun udah jemput di Bandara International Seattle – Tacoma*digaplok*. Bukan! Daku bukannya mau kerja disini, tapi kali ini daku menjadi salah satu dari tiga orang yang beruntung menjadi pemenang program Golden Ticket – Napak Tilas Perjalanan Obama di empat kota yaitu Seattle, Washington, Chicago, dan Hawaii. Semua di Amerika, yay! *ya iyalah Dim, masa di Hong Kong! Hihi…*. Program ini sendiri merupakan inisiatif dari Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta yang diawali dengan membuka kesempatan kompetisi ini di Facebook Page mereka ketika Presiden Amerika Serikat Obama akan datang ke Indonesia, walau akhirnya tertunda. Siapa sangka, dari 12 ribu orang pengirim aplikasi – daku, Baban Sarbana seorang blogger dan writer dari Bogor serta Vivi Hasyim pekerja swasta dari Surabaya berhasil menjadi pemenang kompetisi ini.

Daku jadi inget pembicaraan dengan salah satu rekan jurnalis yang ikut perjalanan kami *pengen jambak si jurnalis yang katanya gak boleh disebut namanya, hihi* kenapa daku kok bisa menang? Kalo Baban kan karena dia seorang writer dan sangat berkarakter, Vivi satu-satunya wanita dari Top 5 finalis dan paling banyak menjawab dengan benar setiap trivia kuis tentang Obama dan Amerika. Nah kalo daku?

Daku bilang, “karena daku model sih ya, jadi pasti menang gitu…” *semuanya langsung pengen pulang ke Indonesia, hahaha*

Yang pasti, daku merasa beruntung. Intinya Tuhan selalu memberikan rejeki yang tak akan pernah kita duga. Siapa sangka karena social media, Tahun lalu bisa berangkat ke Singapore gratis, tahun ini bisa berangkat ke Amerika. Thanks God!

Sebenarnya daku tuh pengen banget cerita detail keberangkatan daku dari Jakarta bisa sampe Seattle, tapi daku kan cacat tuh ya kalo cerita sesuatu yang detail. Jadi boleh lho mampir ke blog Kang Baban aja di Kompasiana, doi cerita cukup detail perjalanan kami, hihi… *ditendang karena malas*.

Intinya perjalanan daku selama 16 jam dari Jakarta dengan pesawat EVA Air plus transit di Taipe, daku lalui dengan santai dan gak ngerasa begitu lelah. Di pesawat kerjaan daku pun cuma nonton pelem mulai dari Sex & The City 2, Glee, sampai reality show Stylista, hihi… Yang pasti, pramugarinya EVA Air ini cantik-cantik sekali! Set dah…

O iya, waktu di bandara Taipe kami sempat deg-degan juga, karena tiket connecting kami sempat bermasalah, jadi harus menunggu beberapa jam untuk mendapatkan kepastian keberangkatan ke Seattle. Tapi namanya orang Indonesia ya cyin, ada waktu luang dikit ngilang ke toko-toko atau foto-foto, hihi… Ini buktinya di bawah:

Akhirnya setelah sekian lama, plus pake acara teman kami Dian dari Kedutaan Amerika Serikat sempat berdebat sedikit, akhirnya tiket ke Seattle pun di tangan, hore! Perjalanan 10 jam ke Seattle pun banyak daku habiskan dengan tidur dan makan. Niat untuk baca novel yang udah dibawa pun bablas tak berbekas, hihi…

Sejujurnya daku rada deg-degan ketika mau mendarat di Bandara Seattle. Sepertinya yang banyak diceritakan orang, pengawasan pendatang asing di Amerika Serikat itu sangat ketat sekali. Selain ada interview awal ketika masuk, untuk para pria dari Indonesia dengan umur tenaga kerja, biasanya akan kena secondary interview untuk diinterograsi lebih detail. Daku pun selama diantrian awal udah deg-degan, bakal ditanyain apa aja ya?

Daaaan, ternyata bener, setelah menjawab ini dan itu di first interview, daku langsung diminta untuk masuk ke bagian secondary interview. Bayangan daku bakal serem dan bisa ngompol di celana ini, huhu… Ternyata selain daku, Baban dan rekan jurnalis kami pun kudu ikut masuk di ruangan yang sama. Tapi entah kenapa daku kudu masuk ruangan terpisah dengan petugas bernama Ramos yang mukanya mirip banget sama bintang film Mario Lopez, hihi.

Ngapain di dalam situ Dim? Jiaaah ternyata kami berdua banyak ketawa-ketawanya! Mulai dari alat finger print elektronik yang ngadat jadi sampe daku kudu nyoba lebih dari 10 kali. Ngobrolin tentang kerjaan daku di industri rokok, sampe ngakak berat waktu doi gak yakin berat daku 63 kg.

Ramos: “Would you mind to stand up and turn around?”

Daku: “Hah? Do I look fat, Ramos?”

Ramos: “No, you don’t! Well I’ll put your weigt 60 kg anyway, hahaha”.

Tuh kaaaan! Daku kurus! *tampar-tampar yang bilang daku gemuk*.

Gak kerasa, daku diruangan interview itu lebih dari 1 jam! Bahkan Baban, Vivi, dan Dian sudah mulai khawatir, kenapa daku kok bisa lama banget! *ssst! Waktu daku keluar ruangan, itu bandara bener-bener kosong! Jadi daku memang orang terakhir yang keluar*. Mereka sempat ngira kalo daku ditahan karena nama bokap yang mencurigakan, atau daku ketahuan bawa saos cabe, sumpia dan camilan ‘rambut nenek’! Wakakak!

Akhirnya daku keluar dan disambut dengan tangis bahagia dari rombongan Golden Ticket *adanya daku pengen ditimpuk, karena kelamaan si Dian gak jadi belanja sepatu boots, hahaha*.

Kami pun dijemput oleh George dan Larry yang sudah menunggu cukup lama. Ouch, sorry for both of you! Kami langsung dikasih topi bertuliskan Seattle oleh George, hihi, senangnya!

Sampe di hotel Maxwell yang kamarnya ciamik banget *baru lima bulan cyin umurnya* kami mulai berfikir untuk cari makan di luar sambil jalan-jalan. Berhubung udah jam 11 malam, akhirnya kami berlima menelusuri jalanan Seattle dalam hujan, dan sampailah di salah satu supermarket yang cukup lengkap. Daku, Dian, dan si jurnalis pun panik cari makanan buat ganjel perut sambil lirik barang-barang yang lucuuuu semua, huhu. Pengen ambil cokelat sampai berbagai oleh-oleh. Tapi masa hari pertama udah borong sih? Akhirnya daku cuma ngambil beberapa camilan plus beberapa kartu pos yang bakal dikirim untuk temen-temen di Indonesia. Malam harinya kami berlima pun menghabiskan waktu dengan berbagi panganan sambil ngobrol dan ketawa-ketawa. Setelah cukup lelah, kami pun masuk ke kamar masing-masing. So, untuk hari kedua daku bakal ngapain ya? Nah tunggu cerita daku selanjutnya yaaa! 🙂

Another Love Story #2

Kelas 1 SMU

 

Ku duduk diam di dalam kelas sambil menatap lekat cewek manis yang duduk tepat di samping mejaku. Wajahku tak mampu berpaling selain menuju ke arahnya: menatap tajam gerai rambut panjangnya dan matanya yang  indah. Mantra dihatiku pun lagi-lagi kembali kulafalkan, “seandainya saja dia milikku, seandainya…”. Tentu saja, dia tak pernah tahu kalau aku begitu menyukainya, yah, aku paham itu. Setelah lonceng kelas terakhir berdentang, dia berdiri dan melangkah pelan menuju ke arahku untuk mengambil buku miliknya yang tak sengaja tertinggal di kelas beberapa hari yang lalu. Dia mengucapkan ‘terima kasih’ dan memberikan usapan lembut di kepalaku. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu.

 

Kelas 2 SMU

 

Teleponku berbunyi. Siapa lagi kalau bukan dia. Dia berbicara dalam tangisan pelan tentang hubungan cintanya yang baru saja berakhir. Dia memintaku untuk datang ke rumahnya, karena dia tak ingin sendiri dalam keadaan sedih. Tentu saja aku memenuhi permintaannya. Ku duduk disebelahnya di sofa, kutatap mata lembutnya, lagi-lagi aku berharap, seadainya saja dia milikku, tak akan pernah aku lukai hatinya. Setelah dua jam, satu film drama romantis, dan 3 bungkus makanan ringan kesukaannya, dia memutuskan untuk tidur. Dia melihatku, dan mengucapkan ‘terima kasih’ dan usapan lembut di kepalaku. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu.

 

Hari Kelulusan SMU


Sehari sebelum malam perpisahan, ia menghampiriku di meja kelas. “Pasanganku untuk malam perpisahan sakit,” ucapnya pelan sambil menatapku penuh harap; dan dia pun mengingatkan perjanjian kami ketika masuk SMU, yaitu bila nanti salah satu dari kami tidak punya pasangan di malam perpisahan, maka kami akan berangkat berdua sebagai sepasang ‘sahabat’. Jadi itulah yang kami lakukan. Malam perpisahan, aku berdiri di depan pintu rumahnya. Aku hanya bisa menatapnya tanpa jeda, dan dia tersenyum dan menatapku kembali dengan mata jernihnya. Seandainya saja di milikku, tapi aku selalu tahu, dia tidak pernah berfikir sejauh itu mengenai hubungan kami berdua. Dan kemudian, dia bilang, “Aku seneng banget malam ini! Thanks ya!” dan dia pun memberikan usapan lembut di kepalaku. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu.


Wisuda

 

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Waktu berlalu begitu cepat dan hari ini adalah hari wisuda kami di kampus. Aku menatapnya seperti malaikat yang turun ke bumi, melihat sosoknya berdiri di panggung penerimaan ijazah. Aku masih menginginkannya, tetapi dia tak pernah akan mau lebih dari bersahabat, dan aku tahu itu. Sebelum kulangkahkan kaki untuk pulang, dia mendatangiku, dan menangis ketika kumemeluknya. Kemudian dia mengangkat wajahnya dari pundakku dan berkata, “kamu sungguh sahabat terbaikku, terima kasih…” dan dia memberikan usapan lembut di kepalaku. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu.

 

 


Beberapa Tahun Kemudian


Sekarang aku duduk diam di dalam masjid. Wanita itu, sahabatku, menikah hari ini. Aku melihatnya mengucapkan ijab kabul dan siap menjejaki hidup baru, menikah dengan pria lain pilihannya. Aku ingin dia menjadi milikku, tetapi aku tahu, dia tak akan pernah berfikir hal yang sama. Sebelum dia meninggalkan tempat ijab kabul, dia melangkah kepadaku dan mengucapkan, “hei, kamu datang!”. Dan dia mengucapkan “terima kasih” dan memberikan usapan lembut di kepalaku. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu.


Pemakaman

 

Tahun demi tahun berlalu, aku menatap pedih ke makam yang masih basah, disana berbaring selamanya yang selama ini aku sebut ‘sahabat’. Sebelum aku melangkah pergi meninggalkan pemakaman, seseorang teman memberikanku diary yang pernah dimilikinya ketika masih SMU. Inilah yang tertulis: “Aku menatapnya dan aku berharap dia milikku, tetapi aku tahu dia tak pernah berfikir sejauh itu, dan aku tahu itu. Ingin sekali aku mengutarakan, kalau aku ingin lebih dari bersahabat, karena aku mencintainya, tetapi aku terlalu malu. Seandainya saja dia mau mengatakan kalau dia mencintaiku!”

 

Aku terdiam dan aku pun mulai menangis. Sendiri. Tanpanya yang akan mengusap lembut kepalaku. Selamanya.

 

Have you ever wondered which hurts the most: saying something and wishing you had not, or saying nothing, and wishing you had?

 

Disadur dari satu cerita – Jakarta, 24 Agustus 2010.