#14 cup: Room service, I love you full!

Muka daku udah kayak ondel-ondel. Okey, kayaknya gak seganteng itu. Tepatnya, muka daku kayak ondel-ondel versi Zimbabwe. Setelah seminggu terakhir kerjaan kayak bengawan Solo, mengalir mulu kagak berhenti-henti, bentuk daku udah gak ada lucu-lucunya. Mata item kayak panda, rambut jigrak kemana-mana, jerawat bermunculan gak liat-liat tempat. Tiap malam kerjaannya mantengin laptop, ngerjain tugas-tugas yang lum kelar selama 10 menit, 10 menit lainnya nge-fesbuk,  hihi… Begitu terus alurnya sampe jam 12 malam setiap hari, du du du…

 

Anyway, setelah sepagian daku meluncur ke daerah Pandaan bareng temen-temen wartawan, dan berkeliling di salah satu pusat pelatihan wirausaha milik perusahaan yang keren dan luas banget, alhasil bikin kaki daku berasa dipegangin sama Julia Perez di kiri dan Dewi Perssik di kanan. Beraaat! Jadi lengkap sudah, ujung kepala sampe ujung kaki gak layak uji jadi model dan VJ *ya iyalah, pas baik-baik aja gak pantes, hihi*

 

Pendek cerita, menjelang malam akhirnya daku sampe juga di hotel. Entah kenapa, perasaan hotel yang disediain kantor segambreng, tapi selalu kalo nginep pas dapet brand hotel ini, udah 3 kota aja gitu… Nah, setelah bantu temen wartawanku buat check in, daku pun dengan semangat masuk kamar, lepas sepatu, stocking, bulu mata palsu, sama wig, eh… itu ntar malam ding. Jadi daku ngelepas sepatu, celana, dan ganti celana pendek. Baju? Tetep dong pake seragam kebanggaan, hihi.

 

Kemudian, hal pertama yang daku lakukan adalah berdoa… *hening* Oke, oke,  daku bohong! Hal yang daku lakuin adalah buka daptar menu buat dinner, rasanya pengen pesen semua yang ada di situ. Tapi dijamin, besok yang dateng bukan bill tagihan, tapi surat disuruh resign, kekeke…. Akhirnya daku pun pesan ke room service buat dinner. Telpon ah…

 

Dimas : ”Malam Mas. Mas, saya mau pesan chicken burger, french fries, sama milk… milk… milk shake vanilla!”


Room service: “Baik Pak, saya catat, jadi Bapak pesan bla bla bla… tapi…. French fries itu udah ada satu paket sama chicken burgernya. Atau mau diganti pisang goreng?”

 

Dimas: “Pisang goreng?! Gak ada pisang goreng mas ditulis di sini?” *buka-buka menu sampe bego*

 

Room service: *hening* “Mas… Itu kan menunya bahasa Inggris, banana fritter mas, BANANA FRITTER.”

.

Dimas: ”Oh…. iya iya, saya pesen itu ya. Saya minta saus cabenya yang banyaaaak ya Mas, gak perlu saus tomat.”

.

Room service: “Baik Pak, akan kami antarkan segera ke ruang 361.”

 

Baiklah, sebentar kan, kalo sebentar itu artinya paling lama 10 menit kan? Iya kan? Seeeep! Gak usah mandi dulu ah, nonton tipi dulu sambil bengong.

 

*setengah jam lebih kemudian*

Wajah lumutan. Bibir mangap segede keong mas TMII. Laper! Tau gitu daku mandi dulu, kan enak kalo dinner, daku pas udah ganteng, udah wangi, walau sendirian. Tapi ya sudah lah, nanggung juga kalo gak ditungguin.

 

Ah akhirnya datang juga!  

Room service: ”Pak Dimas, silahkan chicken burgernya, milkshake vanilla, dan banana fritternya.”

 

Dimas: ”Terima kasih ya, Mas.” *ngasih tip*

 

Setelah mas room service baru saja keluar, daku pun langsung ngecek makanan menggiurkan itu, dan… saus daku mana?!

 

Daku dengan sedikit terburu-buru lari keluar tanpa sandal, celana pendek najis plus baju seragam kantor mengejar mas room service, dan…. BLAK!

 

Hah? Suara apa itu? Oh pintu kamar doang… *kalem*

 

PINTU KAMAR?! Kuncinyaaaaaa! *panik*

.

Coba buka sekali, gak bisa. Dua kali, tetep gak bisa, huhu. Aduh gimana ini? Masa harus ke lobby tanpa sandal, celana pendek dan seragam kantor? Aduhhhh! Daku pun mondar-mandir di selasar kamar-kamar tapi gak nemu telpon bebas yang biasanya disediain buat menghubungi departemen tertentu di hotel.

 

Aduh, masa daku kudu bengong di depan kamar. Makanan daku gimana dong? Huhu. Akhirnya, setelah menguatkan hati, dengan slogan ’lebih cepat, lebih baik, lebih malu’ daku pun berjalan dalam keadaan gak banget itu menuju lobby, dan dengan kalimat pengantar panjang kali lebar, akhirnya dengan tawa yang ditahan, mas receptionist pun mau bukain pintu daku, fiuh akhirnya bisa masuk kamar lagi deh.

 

*beberapa saat kemudian*

 

Ting tong! Ting tong!

 

”Maaf Pak Dimas, saos cabenya ketinggalan,” ujar mas room service dengan senyum tiga jari.

 

*bilang makasih sambil pasang tampang judes sejudes-judesnya, ambil saos, tutup pintu!*.

# 13 cup: Are you the exception… or the rule?

“Kenapa ya aku ngerasa lebih nyaman pacaran sama cowok asing dibandingin sama cowok Indonesia?”

 

Daku menatap sohib lamaku itu sambil tersenyum bingung, lalu mataku pun tertuju ke sohibku yang lain. Daku tatap lekat kedua matanya seakan menanti rangkaian kalimat yang akan meluncur dari bibirnya.

 

“Emm… Iya sih Dim, cowok bule itu… mereka lebih bisa kita ajak ngobrol banyak hal, mulai tentang kegiatan dia dari pagi hari sampai malam, tapi tak pernah terasa membosankan. Coba sama orang Indo, paling cuma ditanya udah makan belum, dll… Standar!”

 

Daku pun menyemburkan kesimpulan sekilas,

“Ah, itu kan karena kalian lama tinggal di luar negeri, at least, itu gelar S 2 kalian pun dari luar sono, wajar dong kalau pandangan kalian ke cowok lokal jadi beda, hehe…” ujarku usil.

 

“Nggak Dim, serius deh, pacaran sama cowok bule itu… sama seperti kami ngobrol sama kamu, bisa seperti sahabat, mengalir kalau cerita, dan satu lagi… straight to the point kalo mengungkapkan apapun itu.”

Tapi…. Kalian pernah nonton He’s Not That Into You kan? Di cerita itu dibedakan, are you the exception or the rule? Dalam cerita ini, kalian the exception. Sekarang, cewek Indonesia pasti demen tuh tiap hari ditanyain, udah makan belum, lagi ngapain, dan hal-hal simpel lainnya. That’s the rule! Kalo kalian… I bet you both don’t like it, iya kan? Hahaha!”

 

Kedua sohib wanitaku itu berpandangan dan lalu menjawab, “Yeah… We are the exception, indeed. Haha….”

 

Cerita kami pun terus mengalir. Bagaimana pun juga hubungan antara dua jenis manusia dari planet yang berbeda ini akan selalu menarik untuk dikulik.

“Girls, bagaimanapun juga cowok dimanapun juga sama aja… Mungkin kalian menemukan bule yang tepat, you find the right guys on the right place. Pasti banyak juga cowok bule yang basi, hehe.” Lalu aku menyimpulkan.

 

Simply, kalian itu menemukan bule-bule kaum ‘the exception’ bukan ‘the rule’.

mars-venus 

Pikiranku pun tiba-tiba teringat dengan acara Take Me Out Indonesia. Dimana ada 30 wanita yang menjadi hakim cinta dalam menilai seorang pria yang gagah-berani-malu untuk ‘dihujat’ berjamaah di layar kaca. Seandainya wanita-wanita itu menjadi contoh mutakhir wanita Indonesia masa kini, doh betapa kejamnya alam nyata. Daku merasa, para wanita cantik ini merasa mereka adalah ‘the exception’ yang menemukan ladang cowok ‘the rule’ alias biasa-biasa aja untuk dibantai habis-habisan. Kebayang kalo daku ditolak di depan tipi karena dibilang gigi daku tonggos, bisa-bisa daku tiap hari berangkat kerja pake masker, atau pake helm full face selama sebulan penuh, hihi….

 

Entahlah, mungkin dalam keseharian mereka, para wanita cantik ini juga udah capek dengan tingkah laku para pria yang mereka suka. Apalagi, dalam keseharian, teman-teman wanita daku juga beberapa kali jatuh cinta dengan pria yang salah. Seperti kata salah satu tokoh film, “all girls are programmed to believe that if a guy acts like a total jerk that means he likes you.”  So guys, kalo pengen bikin wanita jatuh cinta, just become a total jerk. *digaplok*

 

Terkadang, memang dunia ini tidak adil, kawan. Ada beberapa orang yang menemukan pasangan yang hubungannya so sweet romantic, seperti kata Fifi Tropica. Atau pun pasangan yang begitu sempurna, baik secara fisik ataupun dengan indikator lain. Pengen Dim? Ya iyalah tentunya, hehe… Tapi, apakah kebahagiaan hanya ditentukan dengan memiliki pasangan? Terkadang kita gak sadar, kalo kita terlalu fokus dalam menemukan kebahagiaan. Padahal kebahagiaan itu sendiri belum tentu harus termasuk ‘berbagi dengan pasangan’, bisa saja kebahagiaan itu hanya… kamu, hidup kamu, bagaimana kamu bisa bangkit dari kesedihan lalu tersenyum, membebaskan dirimu untuk meraih masa depan yang sesuai dengan keinginanmu. Mungkin… kebahagiaan itu sendiri hanya… terus melangkah ke depan menghadapi hidup. Who knows?

 

Dalam hal ini, yeah, mungkin daku termasuk ‘the exception’. Tapi setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, bukan? Hehe. Terkadang kita harus sadar bahwa dalam hidup selalu ada ‘the rule’. Pria dan wanita, menikah, tidak bahagia, lalu bercerai, well that is the rule. Pola yang terjadi dalam keseharian biasanya seperti itu. Kalo the exception-nya gimana Dim? Itu terjadi kalo ada anak raja di Malaysia yang menikahi model abege dari Indonesia, ternyata hidupnya tak bahagia lalu mau cerai dengan cara melarikan diri tanpa lupa membawa semua seri tas Hermes seharga puluhan juta ke negaranya, eh di negaranya malah terkenal dan jadi artis sinetron dengan judul namanya, nah… that’s an exception! Begitulah bedanya. Jadi, percayakah kamu dengan the rule dan the exception dalam hidup? (*)