Yuk, Vote for Indonesia!

Image and video hosting by TinyPic

Sepatu pantofel, celana bahan hitam, baju seragam kantor yang sudah dipermak supaya oke, dan rambut model ‘menantang langit’ andalan alias jigrak, wew, just a perfect combination to start my day! Daku merasa hari itu adalah salah satu momen terganteng daku *ngaca sambil sisiran*.  Apalagi, waktu itu juga pengalaman perdana daku bakal ngikutin salah satu program CSR (Corporate Social Responsibility) kantor yang berada di salah satu wilayah Jawa Timur. Daku semangat banget, karena sejak daku menjadi Miss Indonesia dengan gelar ‘Beauty with Purpose’ senang sekali rasanya bisa menjadi bagian kegiatan yang memiliki komitmen untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar *dadah dadah ke penggemar, lalu digaplok pake high heels*.

 

Nah, dengan penampilan yang mentereng ini, daku pun meluncur ke… tengah hamparan sawah *mangap*. Walau awalnya sempet panik karena kulit bakal jadi item *selamat tinggal dunia model, hiks!* tetapi setelah daku mendengar penjelasan dan menyaksikan sendiri, betapa berbagai program yang dijalankan ini menginspirasi orang banyak serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, daku pun merasa kagum. Karena berkomitmen dengan tulus untuk membantu sesama, tentu lah bukan sekedar lip service belaka. Harus ada aksi nyata, bukti nyata, dan yang paling penting adalah program berkelanjutan. Jadi bukan hanya sekedar dateng kayak buang ingus, langsung menghilang ditelen bumi. Daku pun akhirnya tahu, selain perusahaan daku yang keren abis *berharap di baca bos terus naik gaji* masih banyak perusahaan nasional atau multinasional yang memiliki kepedulian dan kepekaan tinggi terhadap lingkungannya. Daku tahu banyak, ya karena daku memang demen baca-baca mengenai berbagai implementasi program CSR serta browsing untuk menambah pengetahuan *nerusin baca detikhot.com*.

 

Pagi tadi, waktu daku lagi asik-asiknya browsing sambil maen fesbuk plus belly dancing, gak sengaja daku di invite salah satu PAGE di Facebook yang titelnya Vote for Indonesia – World Challange 09. Wuih, program apakah ini? *bertanya sebentar ke galileo*. Daku pikir ini ajang seperti lomba band, musik atau pemilihan tempat wisata terbaik gitu, ternyata program ini adalah kompetisi global yang disponsori oleh Shell dan BBC London untuk program CSR yang dinilai memberikan added value bagi masyarakat dengan meningkatkan taraf sosial-ekonomi dan juga sebagai aksi penyelamatan lingkungan *gaplok yang mau nyela karena daku lagi serius*.

 

Ternyata, selain Indonesia yang baru-baru saja berhasil menjadi juara umum lomba matematika tingkat internasional untuk adik-adik SD, kita juga berjaya dalam ajang ini. Dimana tahun ini Indonesia berhasil menjadi salah satu dari 12 finalis dari berbagai negara di dunia yang sukses nunjukin nilai inovasi dan insiatif untuk berusaha ningkatin kualitas kehidupan di tingkat grassroots. Begh keren bener yak! Dan yang lebih penting, pemenang untuk ajang ini ditentuin berdasarkan vote dari penduduk seluruh dunia alias global di website www.theworldchallenge.co.uk. Sebagai blogger tampan nan rupawan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, tentu daku menggunakan kesempatan ini dengan langsung Vote untuk Indonesia! (tinggal klik terus pilih Indonesia deh). Apalagi Indonesia menjelang memperingati Hari Pahlawan, jangan sia-siakan perjuangan pahlawan kita untuk bikin negara ini merdeka, tapi buat dukung negara sendiri dengan satu klik aja pada ogah *nangis pake baju paskriba*.

 

Kalo daku baca dari profil finalis Indonesia ini, daku bisa bilang kita kudu ikut berbangga hati, karena melalui Danamon Go Green, Danamon Peduli Foundation dengan program Kompos Sampah Pasar ‘NOTHING WASTED’nya, mereka bekerja sama dengan 31 pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk mengkonversi sampah pasar tradisional menjadi kompos berkualitas tinggi *melarikan diri takut ikut dikonversi*. Melalui program ini, berarti mereka berkontribusi sebagai warga usaha yang baik dan nunjukin kalo Indonesia pun mampu plus berhasil njalanin misinya sebagai agen perubahan dengan mencetak inovasi penting untuk memperbaiki kondisi bumi. Sampah yang dulu terbengkalai dan terbuang sia-sia, kini berhasil diolah untuk menyelamatkan dunia *efek api berkobar-kobar di atas kepala*.  

 

Jadi temans, ini kesempatan kita untuk ikut membuat perubahan di Indonesia, dengan cara melalui ikut vote untuk kampanye “Nothing Wasted” yang tinggal… *menghitung hari* di bawah 10 hari! *panik, teriak-teriak keliling komplek pake daster*. Voting ini tepatnya akan ditutup tanggal 13 November 2009 mendatang, jadi jangan sampe kelewatan. Lalu jangan lupa juga untuk gabung dengan dukungan ribuan masyarakat Indonesia di Facebook Page – Vote for Indonesia. Yuk kita vote untuk Indonesia yang lebih bersih dan hijau, Indonesia kebanggaan kita semua! (*)

mitos-mitos di jogja itu

Kalau mau kembali lagi ke Jogja harus minum air selokan Mataram? Atau kalau mau lulus kuliah cepet harus memeluk Tugu Jogja? Wah, pasti pada penasaran, emang bener harus seperti itu?

Tinggal di Jogja lebih dari sepuluh tahun tampaknya cukup bagi saya untuk mendalami sedikit banyak denyut kehidupan kota ini, kota yang sering dianggap sebagai pusat budaya Jawa. Budaya yang bisa dibilang sarat akan mitos-mitos yang berkembang dan tentu saja sudah turun-temurun diceritakan oleh masyarakat sekitar.

Intinya sih, bukannya saya ingin mengajak teman-teman untuk berfikir irrasional ataupun melupakan kaidah-kaidah yang kita anut. Ya anggap saja sebagai cerita sebelum tidur seperti dongeng-dongeng di masa kecil. Seperti cerita Kancil Mencuri Ketimun, lho? Hehe…

Nah buat kamu nih, terutama pendatang yang berkeinginan atau sudah menempuh studi di Jogja, inilah sedikit mitos yang kamu harus tahu:

1. Memeluk Tugu Jogja

Mitos ini telah berkembang di kalangan mahasiswa sejak dahulu kala. Dari jaman saya masih kuliah sampai sekarang saya belum lulus lagi. Padahal perasaan sudah meluk Tugu berkali-kali sampe bobok-bobok disana segala, huehe… Tugu Jogja ini tepat berada ditengah-tengah perempatan jalan besar, salah satunya Jalan Mangkubumi yang menuju ke Jalan Malioboro. Biasanya pada malam hari banyak gerombolan anak muda yang berfoto-foto riang di depan ataupun samping Tugu Jogja yang pada awalnya bernama Golog Giling ini. Kamu pengen cepet lulus kuliah? Cepetan peluk Tugu! Jangan lupa foto-foto disana buat ditaruh di Friendster atau Multiply kamu *narsis mah kudu!*

peluk-tugu1

2. Suara derap kaki kuda di malam hari

Nah, kalau kamu pas tengah malam tiba-tiba merasa mendengar suara andong lengkap dengan suara langkah derap kaki kuda melewati depan rumah atau kamar kamu, itu artinya kamu bakal betaaaaaaah sekali tinggal di Jogja. Mitosnya itu adalah suara andong milik Kanjeng Ratu Kidul yang memberi pangestu kepada kita untuk tinggal di Jogja dengan damai. Tapi hati-hati jangan kecelek seperti temen saya, merasa denger suara andong, eh yang lewat cuma tukang sate, hihi….

3. Minum air selokan Mataram

Kalau kamu tinggal di utara dan timur Jogja pasti sudah gak asing sama yang namanya selokan Mataram. Selokan yang melewati tempat hunian anak-anak kos di daerah Pogung sampai di daerah Babarsari yang menggurita akan kampus-kampus. Mitos yang berkembang nih kalau kamu minum air selokan ini katanya setelah kamu meninggalkan kota Jogja, suatu hari nanti pasti akan kembali dan terus kembali ke Jogja. Bisa jadi karena dapat jodoh cowok atau cewek asli Jogja, mungkin lho…. Tapi menarik juga nih! *tuing tuing*

4. Tidak boleh foto-foto di depan gerbang utama kampus UGM yang bertuliskan Universitas Gadjah Mada.

 

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

 

Nah! Ini yang paling menarik menurut saya, hehe… Mitosnya adalah kalau kamu belum lulus kuliah dan berani foto-foto di depan tulisan itu, maka kamu akan menjadi mahasiswa abadi, selamanya! S-E-L-A-M-A-N-Y-A! Duh kayak dikutuk aja….

Tapi entah kenapa memang biasanya mereka yang foto-foto disana adalah hanya wisudawan serta wisudawati atau sekedar pengunjung yang iseng. Kalau mahasiswa UGM sendiri jarang sekali yang iseng foto-foto disana. Ah saya tak mau foto disana, bisa jadi saya tambah lama nanti lulusnya. *meratapi nasib*

5. Suara korps drum band di waktu subuh

Dulu nih jaman saya SMP, entah kenapa sering denger suara musik drum band di waktu subuh, sempet bingung juga suara-suara itu berasal darimana? Sampai suatu hari tetangga cerita kalau mendengar suara musik itu artinya saya mendengar korps drum band dari kerajaan Merapi yang sedang apel pagi, hyuk. Gak ada artinya apa-apa sih, tapi memang gak semua orang bisa dengerin suara musik drum band yang berirama flat itu.

Sebenarnya masih banyak mitos-mitos yang bisa saya diceritakan, tapi tentunya akan lebih menarik kalau kamu datang langsung ke Jogja dan cari tahu sendiri apa aja sih mitos yang beredar disini. So, tunggu apa lagi? Liburan besok jalan-jalan ke Jogja ya! Jangan lupa minum air selokan Mataram, huehe… (*)

Note:

Tulisan ini ditulis dua tahun yang lalu dan saya re-post kembali untuk memperingati Hari Jadi Kota Yogyakarta yang ke 253. O iya, akhirnya pada awal tahun 2008 daku poto-poto di depan tulisan UGM itu dan akhirnya…. Lulus! Wakakak *tertawa kejam* Terima kasih Jogja telah menampung daku selama 15 tahun!

Foto dipinjam dari jengjeng.matriphe.com/ dan Ari Indyastomo, thanks bro!