The Goodbye Party (side story of BDM 2008)

Cerita pendek ini merupakan side story dari cerita serial 7 episode berjudul “Bunuh Diri Massal 2008” karya Fajar Nugross & Alanda Kariza yang menjadi fenomena tersendiri di jagat tulis-menulis Indonesia. Suatu tantangan tersendiri untuk menulis cerita ‘gelap’ seperti ini. Makasih ya Mas Fajar telah membuat hari Mingguku jadi depresi, hihi… Ayo bergabung di Bunuh Diri Massal 2008!

BUNUH DIRI MASSAL

by Fajar Nugross & Alanda Kariza

—————————————————————————–

THE GOODBYE PARTY

by Dimas Novriandi

Kerlip lampu jalanan Jakarta berpendar hambar di antara gedung-gedung tinggi yang tampak kosong dan letih. Aku memejamkan mata, mendengarkan sepenggal lagu asing yang samar-samar berdesing di kedua telinga ditingkahi suara deru mobil. ANJING! Bayangan sosok dia terus-menerus berputar, menari-nari bagaikan peri neraka yang tak kuasa kusingkirkan dari pelupuk. Dia yang meninggalkan, dia yang merayakan tragedi, dan dia yang merinai kegetiran. Aku masih hidup, tapi jiwaku mati.

Aku tak tahan mendengarkan lagi lagu getir yang mengalun pelan di radio. Kusingkap lengan kiriku, menekan sekilas satu tombol, dan mulai terdengar suara penyiar dengan nada hiperbola,

Listeners, udah denger belom lo kalo bentar lagi di Jakarta bakal ada acara yang gila banget! Gue gak nyangka ada orang yang berani bikin acara sekontroversial ini, edan pokoknya! Nama acaranya aja serem banget, Bunuh Diri Massal 2008! Iya listeners, bunuh diri, ngilangin nyawa lo secara sepihak atas kemauan lo. Tertarik? Gampang men… Selama lo cowok alias laki-laki, dan ngerasa udah gak punya hati lagi, you should join them! Keterangan lebih lanjut telpon aja Ketua Panitianya, nomernya ….”

Aku tersentak. Kuhentikan mobil secara mendadak. Tak peduli dengan teriak-teriakan nama binatang dari pengendara di belakang, kuambil handphone dan dengan sigap mulai menyimpan nomer kontak Ketua Panita Bunuh Diri Massal 2008. Entah kenapa otak dan hatiku secara reflek bersimbiosis menyuruhku untuk melakukannya. Aku laki-laki, tentu saja. Aku gak punya hati lagi, sungguh jelas, hatiku telah lama hilang. Tapi mati? Gila, itu di luar bayanganku. Walau kadang pernah terlintas, jika aku mati, siapa sajakah yang akan menangisi aku, apakah aku punya secret admirer, bunga apa yang tertabur di pusaraku, dan apakah dia akan datang dan tersenyum menang akan kematianku?

Setelah berhari-hari aku mencari keputusan konklusif, dan tentu saja aku tak layak bertanya kepada Tuhan, disini lah sekarang aku berada. Di lantai 15 gedung megah di tengah kota biadab Jakarta. Finance Director, tulisan itu terukir apik di pintu ruang kerjaku. Seakan tak terusik suara deringan telepon dari penjuru kantor, aku hanya menatap lekat formulir pendaftaran Bunuh Diri Massal 2008. Alasan…. Alasan apa yang harus aku tulis? Kenapa mati harus dengan alasan? Apakah kita lahir di dunia juga butuh alasan? I’m always thinking; life is not a matter of reason, but a matter of choice. Ah sudahlah! Kuambil pena berlapis emas, hadiah sebagai lulusan terbaik sewaktu kuliah MBA di US, dan mulai menulis alasan yang realistis buatku, “Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!” Kutulis dengan kasar dan penuh amarah. Sekali lagi, mati tak pernah perlu alasan. Sama seperti ketika dia meninggalkanku.

***

Ya, namaku Irawan. Lengkapnya Irawan Tanoeatmajda. Anak konglomerat dengan kekayaan nomer urut 21 di Asia versi majalah Forbes. Tidak ada yang kurang dari sosokku. Pintar, karir yang bagus dan sialnya, aku punya wajah yang rupawan. Siapa suruh wanita-wanita itu jatuh cinta kepadaku? Toh aku tak pernah memohon hati mereka. Barak hatiku terlanjur penuh dengan sumpah serapah, sampai-sampai tiada lagi tempat untuk satu kata cinta. Hei wanita! Laki-laki bukanlah sepatu, yang kalian bisa pilih sesuka hati, dipakai, diinjak, lalu setelah bosan, hanya teronggok berdebu di sudut ruang. Tak sadarkah kalian bahwa kami makhluk berdaging yang punya hati?

Sungguh aku tak dendam. Aku hanya mencari ketenangan. Lelah berlari di antara desingan waktu yang berpendar terlalu lambat. Pelan-pelan ku ambil secarik kertas putih di laci, dan kumulai menuliskan surat ini,

Surat selamat tinggal untuk semua,

Tolong, tulis jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku ini dan letakkan di atas pusaraku bila aku telah terbujur mati.

Cinta itu seperti hujan… Aku tak pernah paham seberapa deras tetes air itu akan terus jatuh dan entah sampai kapan pula hujan itu akan membasahi bumi. Apakah kalian tahu kapan cinta akan datang dan pergi dari hatimu? Jangan tanya aku, aku tak pernah tahu. Karena hujan itu masih terus membasahi hatiku tanpa pesan.

Cinta itu seperti musik… Aku bisa bersenandung lagu yang sama dan menari tanpa dahaga. Tapi kapankah musik cinta itu akan terhenti? Aku tak tahu, karena aku masih terus menari walau musik cinta itu telah berakhir.

Cinta itu seperti sebatang rokok… Sungguh manis terasa di bibir pada awal sentuhannya, terlena dalam setiap hela hembusannya, tapi semua akan terhenti seketika bila aku tak mampu mempertahankan bara yang tersisa. Apakah kalian tahu bagaimana cara mempertahan nyala cinta seseorang yang kita cintai?

Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu, cinta itu hanyalah penderitaan yang aku nikmati. Dan aku memilih mengakhiri penderitaan itu. Cintaku akan abadi tapi kematian lebih abadi.

Selamat tinggal,

Irawan

***
22 September 2008 jam 10 pagi. Ini saatnya, baliho dan spanduk-spanduk perayaan kematian di Gedung DPR/MPR luar biasa marak, malah bisa dibilang terlalu berlebihan. Warna merah darah mendominasi dekorasi seperti pemuliaan kematian berjamaah.

Sekilas ku melihat sang Ketua Panitia BDM 2008, ah tak layak sepertinya bila aku tak sekedar menyapanya, memberinya penghormatan terakhir yang layak dia dapatkan.

“Saatnya telah datang, kamu gak ada rasa takut bos?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.

“Ketakutan itu hanya milik pengecut. Cinta telah menghapus rasa takut itu.”

“Sungguh bodoh orang yang mati karena cinta.”

“Lebih bodoh lagi orang yang hidup tanpa cinta.”

“Jadi… Kita hanyalah orang bodoh yang tetap akan bodoh ketika mati.”

“Setidaknya kita menjadi orang yang bodoh yang bisa mencintai.”

Dia tersenyum dan aku pun mengangguk setuju.

Kutulis pesan terakhir untuk dia, wanita yang telah membunuh kata cinta,

Lebih baik kubiarkan engkau mencuri hatiku. Tolong, jika engkau bosan dengan hatiku, kuburkan dia di sebelah hatimu. Tak perlu nisan. Karena memang tak ada yang perlu engkau kenang.

Ah! Aku tak sabar lagi untuk mengejang, menggelinjang, dan diam. Aku ingin mati di kursi dewan terhormat. Tanpa cinta. Tanpa jeda. Hanya ingin mati bersama dia. Dia yang tercabik hatinya oleh sosok wanita yang sama. Dia… Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. (*)

#4 cup: Apa Lentera Hatimu?

Dulu, sewaktu jaman masih kuliah di Jogja, daku sering berandai-andai sama Ageng temen kosku. Seandainya di kamar kos kami ada unlimited access internet, AC dan suasana kamar yang nyaman, pasti kita gak bakal pernah keluar kamar karena saking betahnya, ngendon sampe bego, berjenggot, mata melotot dan rambut menjadi gondrong ala Wiro Sableng 212. Kalau daku, tentu ditambah cita-cita bakal ngeblog tiap hari sampe jari-jari tangan segede jempol kaki! Tapi setelah pindah ke Jakarta, well, I’ve got those all, tapi… balik kantor, sampe rumah, makan, terus masuk ke kamar dan langsung tewas kayak manusia dikasih racun tikus satu gentong. Mulut mangap dan bahkan sering banget malas mandi, hihi. Iya sih, kadang-kadang masih sering chat sama temen-temen, itu pun supaya daku gak jadi total manusia autis yang sampe lupa sama temen-temen. Sebulan terakhir sering muncul pertanyaan, misalkan aja,

“Mas, mana ‘kopi’nya gak pernah dibuat lagi?”

“Duh Mas, kok jadi blogger durhaka lagi nih.”

“Dimas, mana reportnya, kok belum ada? Cepetan!”

Eh kalo yang terakhir itu dari temen kantor ding, hihi. Yang pasti, terima kasih untuk yang udah dengan rela hati ‘mengingatkan’ daku via comment, YM, FS, FB sampe secara langsung menanyakan nasib blog daku yang mati suri. Hidup segan, nge-Plurk tetep jalan, kikiki. *sambil ngelirik blog tikabanget*

Hidup di Jakarta memang gak semudah yang daku kira. Waktu berasa berputar cepat, ngupil aja rasanya udah ngabisin waktu sejam, kebayang kan kalo ditambah loncat kodok atau atau maen hula-hula? *lho ini di Jakarta ngapain je Dim?* Belum lagi macetnya yang amit-amit, apalagi daku bukan tipe manusia yang bisa tidur dalam keadaan apa aja, jadinya selama macet daku cuma bisa pasang tampang kosong sambil dengerin Gen FM yang lagu-lagunya itu mulu dari pagi ampe malem, sampe heran, ini radio gak punya lagu laen apa yak?! Dan yang lebih parahnya, guys, bukan ngeblog aja daku berhenti, daku juga dah gak nonton tipi udah sebulan! Kebayang kan seorang Dimas yang infotainment junkie ini gak nonton TV?! Daku sakau teman, daku sakau!

Akhirnya daku pun teriak dengan semangat di kantor,

Dimas: “Jeungg, gossip terbaru di TV apaan seh?!”

*krik krik krik* Suasana hening, tanpa ada jawaban.

Dimas: “Jeungg, tau gak seh si Sheila pacarnya Roger ketangkep karena narkoba?”

Tatapan mata bingung menghujam ke arahku,

“Mang Sheila itu sapa Dim? Kok gue gak pernah denger?”

Dan seakan-akan mata yang lain pun menyetujui pertanyaan itu. GUBRAK! Kikiki…. Besok-besok daku akan ngasi kelas training buat mereka “Gossip for the dummies”, dengan mata kuliah pertama “Who’s Who in Indonesian Infotainment”, peringkat pertama tentu saja neng Cinta Laura dan kedua Dewi Perssik *gak ada yang tau kan kalo penulisan Perssik yang bener harusnya dobel S?*, kakaka.

Ada cerita apa lagi Dim? O iya, daku mau sedikit berkomentar mengenai kemunduran idola daku, Andy F. Noya dari Pemred Metro TV, beliau bilang dalam artikelnya bahwa menemukan lentera jiwa itu adalah satu hal terpenting dalam hidup, begitu pun juga dalam memilih jurusan kuliah dan pekerjaan yang kita jalani. Beliau menuliskan,

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.”

WEW! Seandainya Pak Andy udah ngomong begini dari jaman daku SMU dulu, tentu daku gak bakal ngerasain kuliah di lima tempat berbeda, hihi. Seperti Bara Patirajawane yang lulus dari kuliah Hubungan Internasional banting stir menjadi chef terkenal, daku pun merasa ‘terbanting’ dengan ilmuku yang sudah daku dapat dengan pekerjaan yang daku jalani sekarang. Dulu kuliah sampe level S 2 di bidang Hukum tapi akhirnya jadi Associate Public Relation? Pertanyaan itu muncul berkali-kali dari orang sekitar, bahkan sepertinya ‘lentera hati’ku pun bertanya. Apakah ini yang ingin daku jalani? Well, seperti kata Demian Aditya, “I do what I like, I like what I do”, sampai sekarang, daku masih suka untuk menjalaninya, tantangannya begitu banyak dengan profesi ini. Walaupun sebenarnya daku masih ada cita-cita untuk jadi penulis suatu hari dan kesempatan untuk itu sudah datang sekian kali, tapi daku masih belum begitu yakin dengan apa yang daku inginkan *lho gimana sih Dim?*. Teringat obrolan daku dengan Raditya Dika, si blogger kondang nan ramah itu, setelah perbincangan panjang di dunia maya, tentang apa yang kupertimbangan, dan munculah kalimat bijak ini yang disadur dari ayahnya, “Do what you do best and money will come by itself”. Di balik tulisannya yang gokil, ternyata muncul sisi Dika yang bijak, kikiki. Nah, kalau kamu sendiri, apa ‘lentera hati’ kamu sebenarnya?

Wah kok jadi berat ya obrolannya, hihi. Okey deh, kembali ke semula. O, iya, daku juga janji dengan beberapa temen yang tanya, apa kabar dengan novelet yang daku tulis dulu ketika belajar di Yayasan Umar Kayam? Well, hasil tulisannya bisa di klik di sini. Mohon masukannya ya… Itu tulisan genre komedi panjang pertamaku, hihi. Kemudian, thanks banget buat Wiku Pulangasih yang membuat komik lucu dan serunya untuk kedua kedua kalinya dari tulisan daku yang tentang Bangkitnya Cinta Laura, keren! Gambarnya bisa di klik di sini. Makasih banyak ya Wiku… Dan, terima kasih juga buat Keyza dengan blognya yang gokil, telah menominasikan daku menjadi blog yang layak untuk dinominasikan, kikiki. Thanks my bro…

Baiklah, sekian dulu temans. Berhubung besok dah memasuki bulan Ramadhan, Dimas mengucapkan mohon maaf atas semua kesalahan yang pernah dibuat *terutama untuk Cinta Laura, hihi* dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa untuk yang menjalankannya. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan berkahnya untuk kita semua. Amien… Sampai jumpa! (*)