belajar dimana saja

Belajar. Dari kecil tentu dong kita sudah dicekoki dengan yang namanya belajar. Belajar jalan. Belajar berbicara. Sampai belajar di bangku formal yaitu di sekolah selama 12 tahun sampai dilanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Aku masih ingat ketika mulai belajar di universitas. Kupikir ini sudah saatnya untuk tidak hanya sekedar mondar-mandir kampus ? kamar – kantin, tetapi seharusnya juga menambah bekal ilmu dari kehidupan nyata, belajar dari sekeliling kita.

Setelah dihitung-hitung, tak sadar kurang lebih sudah lebih dari 7 tahun aku bekerja sambilan di beberapa tempat, menclok sana menclok sini, walau duitnya sampai sekarang gak ada satu rupiah pun yang berhasil di tabung, hihi. Tapi setidaknya aku banyak belajar dari tempat kerjaku dan juga dari mereka, orang-orang sekelilingku *ngeles mode on*

Aku mencoba-coba untuk mengingat, apa saja yang benar-benar membuat aku tergugah untuk menjadi seorang Dimas, sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya: Continue reading “belajar dimana saja”

tesis membawa berkah (part two)

Guys! Akhirnya daku LULUS juga! Yippie! *tatapan bingung dari pembaca* Ya… Ya… Memang kemaren daku masih heboh sekali cerita tentang tesisku yang dianggap soto sama dosen pembimbing tercinta. Tapi good newsnya adalah… Sabtu lalu ketika daku dengan langkah sangat tidak percaya diri untuk bimbingan kedua, dan setelah menunggu sampe jenggot 2 meter saja *karena tidak begitu lama* akhirnya daku – si tampan ini – masuk ke ruangan bimbingan. Pasang senyum selebar tiga jari dan rambut abis disasak pake tangan di kamar mandi lantai bawah. Pak Taufiq dengan sigap langsung ingin langsung melarikan diri *ya gak lah! huehe*. Dengan senyum ramah, beliau mempersilahkan aku duduk dan kemudian sedikit mereview hasil revisiku. Beliau hanya bilang kalau kesimpulan saya lebih dipertegas, karena dianggap masih terlalu luas dan tidak fokus. Cuma itu? Iya, cuma itu teman-teman! Kok bisa ya? Hihi…

Pak Taufiq: “Mana Mas lembar pengesahannya?”

Dimas; “Hah lembar pengesahannya? Saya kira… Saya masih butuh revisi beberapa kali lagi Pak.” *wajah kaget plus bingung, butuh nafas buatan!*

Pak Taufiq: “Ya sudah, besok Senin saja, kamu lengkapi semua tesisnya dan sekalian saya approve.”

Dimas: *wajah sumringah* “Baiklah Pak!”

Dengan langkah riang gembira, dengan bunga-bunga disekeliling, dan suara burung bernyanyi *kayak Gita Gutawa di video klip Du Bi Du* aku pun melangkah ke arah sekreteriat Magister Hukum Bisnis UGM. Disana daku bertemu Dhony sohib sekelas yang sudah lulus tes pengacara *sirik berat plus ngarep ketularan pinter*.

Dhony: “Dimas! Gimana tesisnya? Dah ACC?”

Dimas: “Udah Dhon, akhirnya! Baruuuu aja, hehe….”

Dhony: “Wah selamat! Ayo kita ujian bareng!”

Dimas: “Ya gak mungkin lah Dhon, kan pendaftaran ujian terakhir hari ini… Huhu…”

Dhony: “Iya ya…” *wajah sedih*

Tiba-tiba keajaiban datang…

Mbak Dian yang bekerja di sekretariat ternyata menyimak percakapan kami dengan sangat baik, karena kami berdua memang kalo ngobrol seperti berada di tebing dan satu lagi di dalam jurang, karena kalo dah ngomong tentu saja dengan kekuatan suara 7 oktaf yang dasyat, hihi…

Mbak D: “Lho ya udah Mas Dimas, daftar sekarang aja! Kami tunggu sampe jam 6 sore nanti syarat-syaratnya.”

Dimas: “HAH? Apakah itu mungkin?” *sok EYD*

Continue reading “tesis membawa berkah (part two)”