ringgo VS revalina

Tugas daku sebagai wartawan media infotainment Chek & Bechek akhirnya bertambah. Kali ini ada segmen baru yang harus daku kerjakan, sebuah tugas mulia dari sang produser. Nama acaranya adalah Chek & Bechek Investigasi. Gak mau kalah dong sama infotainment laen. Nah kali ini yang harus daku lakukan adalah menginvestigasi pasangan Ringgo Agus Rahman dan Revalina S. Temat yang sampe sekarang gak mau ngaku kalo mereka pacaran. Haduh ada apa ini? Jelas-jelas kemaren mereka tertangkap basah makan duren bareng sambil jongkok di pinggir jalan, masih gak mau ngaku juga!

Nah, sekarang daku sudah menunggu Revalina yang lagi makan brongkos dan owol-owol *cantik-cantik kok makanannya serem* di salah satu restoran yang gak ternama blas. Enam reporter infotainment udah berkerumun di depan resto. Akhirnya Reva pun dengan anggunnya keluar dari resto itu.

Reporter 1: “Mbak Reva! Mbak Reva! Ngobrol bentar dong!” *tarik-tarik rambut Reva*

Reporter 2: “Mbak Reva, gimana rasa owol-owolnya?” *tampar pipinya Reva*

Reporter 3: “Revalina, bagaimana menurut Anda mengenai inflasi dunia yang sedang gonjang-ganjing sekarang? Apakah suku bunga BI harus diturunkan lagi menjadi 7,5%?”

Reporter lainnya dan Revalina: *menatap kejam ke arah reporter 3*

Reporter 3: “Lho kenapa sih?! Aku kan reporter baru, satu untuk semua! Satu berita untuk semua acara!” *teriak-teriak sambil menjambak rambutnya sendiri*

Dimas: “Udah Mbak Reva, cuekin aja, nanti ketularan gila lho… Mbak Reva, boleh dong denger klarifikasi sedikit. Bener gak Mbak Reva pacaran sama Ringgo?”

Reporter 4: *bisik-bisik* “Ringgo itu sapa ya?!”

Reporter 5: “Itu lho yang jadi lawan maennya Reva di pelem Pocong 2, yang jadi pocongnya. Aktingnya jadi pocong meyakinkan.” *sok tahu sambil bisik-bisik juga*

Revalina: “Aku sama Ringgo hanya teman aja kok. Aku sih semuanya teman.”

Dimas: “Masa sih? Kan kalian sering keluar berdua, gosipnya karena ayah Reva gak setuju ya? Karena turun kasta abis dari Panji terus ke Ringgo?”

Revalina: “Sama sekali enggak. Papa nggak bilang setuju atau nggak. Dia izinin sama siapa aja. Kalau jalan-jalan gitu nggak papa, wajar orangtua ikut campur. Asal dikenalin sebagai teman ya enggak papa.” *tetap menjawab dengan anggun*

Dimas: *duh susah bener ni orang diwawancarain* “Tapi Mbak Reva kayaknya berjodoh lho, wajah kalian berdua mirip banget si.”

Revalina: *tersipu malu* “Ah masa sih Dimas?! Makasih ya…”

Dimas: “Iya lho Reva, daku tak menyangka, kalian begitu mirip, tak sengaja daku melihat foto profil kalian di Facebook. Fotonya keren banget!”

Revalina: “Heh yang mana sih?”

Dimas: “Yang ini dong…. Yang satu ganteng, yang satu lagi cantik banget, bener-bener cocok dah.” *sambil ngasi liat foto-fotonya*

Revalina: *terdiam dengan shocknya*

Reporter 3: “Revalina, bagaimana menurut Anda mengenai penyewaan tanah hutan lindung untuk usaha pertambangan?”

Revalina: *menjambak-jambak rambutnya sendiri sambil tendang reporter baru*

Jadi begitulah laporan terakhir Chek & Bechek Investigasi. Bisa disimpulkan kalo mereka berdua bener-bener pacaran. Selain memililiki struktur gigi yang sama, lebar hidung yang mengerikan, status mereka di Facebook juga sama-sama In Relationship. Nah lo…

O iya, penasaran sama fotonya? Ini dia:

Free Image Hosting at allyoucanupload.com Free Image Hosting at allyoucanupload.com

skripsi yang malang

Pagi tadi dengan semangat Supersemar daku ngacir ke kampus. Ngapain Dimas? Apalagi kalo bukan buat bimbingan skripsiku yang udah jadi prasasti dengan debu setebal 5 senti di atasnya karena udah gak kesentuh hampir… *menghitung dengan jari* ya… kira-kira satu tahun lebih lah! Hihi…

Jadi inget obrolanku dengan Dita sohibku dari kelas magister beberapa waktu yang lalu,

Dita: “Dim, piye skripsimu? Mosok udah mau wisuda magister malah S 1 nya belum? Padahal… Bukannya dirimu udah ngerjain skripsi dari awal kita masuk magister?! Dua tahun lalu dong! Ngapain aja lu?” *Dita geleng-geleng prihatin plus cemas dengan nasibku*

Dimas: “Ah masa? Gosip itu Dita, jangan percaya sama infotainment, hihi. Daku kan soalnya konsentrasi ma kuliah magister Dit.” *ngeles tentunya*

Padahal, sungguh beruntung daku mendapat dosen pembimbing skripsi paling baik hati, cerdas, dan menawan. Tapi dasar dakunya aja yang geblek, selalu menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa lulus segera.

Alhasil tadi pagi daku duduk manis di sofa berwarna merah pudar mengerikan dengan tiga orang lainnya yang menunggu Bu Antari, sang dosen pembimbing kami. Tiga orang yang bersamaku itu tentu saja adek-adek angkatan yang dengan terpaksa harus menyapa daku duluan. Yang pertama Si Gendut Nan Ramah *sebut saja dia SGNR*, yang kedua Si Manis Berjilbab *sebut saja dia Bunga, eh SMB ding* dan satu lagi Si Diam Gak Penting *gak penting lah pokoknya, lho?*.

SGNR: “Mas mau bimbingan ya?” *dengan senyum sumringah*

Dimas: *gak, daku mau dongkrak mobil!* “Eh iya nih, bimbingan Bu Antari juga ya?”

SGNR: “Iya Mas, ini baru mau bimbingan bab tiga. Mas mau bimbingan apah?”

Dimas: “Baru masukin draft skripsi si… Rencana wisuda kapan?”

SGNR: “Pengennya bulan Mei besok Mas, Mas sendiri?”

Dimas: “Mei juga dong!” *dengan pede amit-amit*

SMB: *melotot tak percaya sambil mengasah pisau* “Gak mungkin banget Mas! Keajaiban kalo Mas bisa pendadaran bulan ini!”

Dimas: “Kenapa gitu?” *shock berat, banting meja dan kursi, bakar mobil dosen, eh boong ding*

SMB: “Soalnya Bu Antari itu detail banget ngecek tiap tulisannya. Titik koma aja jangan ampe dah ada yang salah.”

SGNR: “Saya aja ya Mas, baru masuk bab tiga sebelumnya dah DELAPAN kali bimbingan!” *dengan bangganya, du du du*

Dimas: *mangap dan dirubung lalat*

SMB: “Tabahkan hatimu Mas, tetaplah semangat… Sudahlah, ikut wisuda Agustus saja.”

SGNR: “Eh Mas emangnya angkatan berapa sih?”

Dimas: “Dua ribu satu… Makanya mau ngerayu ibunya supaya bisa dicepetin sebelum daku terancam DO, huhu.”

SGNR: “KAKAKA…. Ternyata ada yang lebih tua dari aku! YES!” *tertawa dengan sangat girangnya*

Dimas: *tersenyum getir*

Dan obrolan kami pun terus berlanjut sampai akhirnya Bu Antari datang dengan sumringah. Kami berempat pun bersiap-siap dengan bergerola untuk bertemu dengan beliau. Rambutku masih oke, baju rapi, lipstik masih nempel, lho?

Eh pas si SMB berdiri mau masuk ke ruangan, tiba-tiba aja ada mas-mas-bodoh-tak-berpendidikan-pake-dasi-udah-jelek-item-pula ngeloyor masuk bertemu Bu Antari. Anjrit! Padahal kami dah sampe ingusan nungguin hampir dua jam dan dia baru aja dateng! Sial!

SGNR: “Dasar anak magister tak tahu di untung, apa seh maunya dia?!”

SMB: “Kurang ajar! Mas-mas jelek gak tau diri! Minta ditampar bolak-balik itu orang!”

SDGP: *tetep diam gak penting*

Dimas: “Iya! Anak-anak magister memang kayak gitu! Gak tau diri, nyebelin, sok asik, bla bla bla!” *untung aja mereka gak tau daku baru lulus dari magister, hihi…*

Setelah mereka puas maki-maki itu manusia, dan daku pun juga puas ngomporin mereka, ya dengan sangat terpaksa kami menunggu dan menunggu lagi… Setelah menunggu satu jam, akhirnya daku berhasil menyerahkan itu draft skripsi dan harus menemui beliau satu minggu kedepan buat bimbingan perdana. Lama sekali ya, huhu… Duh semoga saja nanti semua lancar dan keajaiban lagi-lagi menghampiriku, amien. (*)