#3 cup: Never ending Jakarta

Yiha! Daku kembali! Maaf sih selama ini daku menghilang karena harus masuk ‘NERO gank training center’ selama sebulan supaya bisa mencari penghasilan sebagai preman di kota Jakarta yang katanya kejam ini, hihi… Maafkan untuk semua teman-teman di Jogja yang daku tak sempat berpamitan satu-persatu karena keterbatasan halaman *bo! Berasa penulis tenar aja!*. Rencana awal sih sebenarnya pengen ngadain Farewell Party tapi kok kesannya daku tak akan kembali ke Jogja aja gitu *huuu! Bilang aja Dim kalo gak mau rugi! Hihi*. Ohh Jogja… Yang pasti daku akan mengunjungimu kembali! *mengelap air mata dengan selendang*

Jadi begini lah teman-teman, akhirnya daku terdampar dengan indahnya di Jakarta, dan sudah memulai hari dengan bekerja di perusahaan idaman. Perusahaan yang homy *hush! Bukan horny!*, rekan kerja yang seru, dan kerjaannya juga tak lepas dari dunia per-online-an, malah kantor ini punya blog yang setiap staffnya kudu menulis disono, hihi. Buat kamu yang pernah dateng ke Pesta Blogger 2007 pasti gak asing dengan nama Maverick PR Consultancy sebagai salah satu pemrakasa acara tersebut. So mulai sekarang I’m one of the Maverick! Hihi… Jadi sampai jumpa di Pesta Blogger 2008 ya, rugi lho kalo gak dateng, soalnya gak bakal ketemu Hanny, akuh dan teman-temankuh yang lain, setiap SMS langsung dari handphone kami, kikiki….

Selama seminggu orientasi kemaren daku sempat membantu salah satu associate untuk mencari tempat yang oke untuk press conference di salah satu hotel ternama di Jakarta. Well, dengan bermodalkan baju keren dan tampang ganteng *protes daku jitak pake durian!*, daku pun dengan semangat berangkat ke hotel itu… sendirian, huhu. Gimana nanti kalo daku keliatan sekali kalo ndeso ya? Dan karena daku bernama Dimas, tentu saja itu terjadi kawan…

Daku berjalan dengan tenang dan senyum selalu mengembang, bukan senyum 3 jari ala Indra Bekti, tapi cukup senyum manis seperti Monalisa. Kubertanya kepada Guest Relationsnya akhirnya daku diarahkan ke kantor admin mereka. Daku pikir kantor admin itu ya kantor kecil mungil gak penting gitu ya. Tapi ternyata kantornya malah gede aja, gak kalah bagus ma hotel roomnya. Dua pintunya pun dari kaca yang tinggi dan lebar, dan di dalamnya tampak sofa-sofa yang empuk. Daku dah sampe depan pintu, ada tulisan PULL. Tinggal pilih deh mau buka yang kanan apa yang kiri. Em yang kanan aja.

*dalam hati*

Pull itu… TARIK atau DORONG yak?! Aduh masa harus nelpon ke kantor? Bisa-bisa daku langsung diketawain sama semua associates dan kemudian daku turun tahta jadi penjaga kebersihan air mancur di depan kantor, huhu… Pull… Pull… Itu artinya… dorong! Iya DORONG! Gue yakin banget! Sama yakinnya kalo lagu Cinta Laura bakal jadi hits!

Daku dengan semangat menDORONG itu pintu dan… KLEK! Kok gak bisa? Daku dorong lagi… KLEK! Kok gak bisa sih?! Dengan tenaga lebih kuat dan… GLODAK! Pintu kanan nyangkut di belakang pintu kiri. Daku gak bisa ceritain lebih detail kenapa bisa seperti itu, emang daku arsitek?! Yang pasti semua orang di dalam kantor beserta tamu-tamu di dalamnya menatap takjub. Orang-orang dibelakangku pun ikut bingung dan bantuin membuka pintu.

Mbak Cantik: *bisik-bisik* “Mas ini kan PULL, harusnya di tarik bukan dorong.”

Mas Pede: “Iya Mas, sini saya aja yang coba tarik.”

GREK. Tetep gak bergerak malah tambah parah, hihi. Continue reading “#3 cup: Never ending Jakarta”

#2 cup: I was (not) born to be famous!

Daku ingin bertanya, waktu kecil cita-cita kalian apa hayo? Kemungkinan terbesar cita-citanya paling standar anak kecil ingusan yang kemana-mana bawa permen adalah kalo gak jadi insinyur *selamat menangisi diri nak, sekarang adanya Sarjana Teknik, hihi* paling juga pengennya nanti jadi dokter. Yaaa ada juga si beberapa yang pengen jadi pilot atau presiden *Presiden? Di negara ini? Hebat sekali anak itu…*. Kalo dirimu apa Dim? Emmm dengan gagah berani daku bilang…. Daku ingin jadi petani! Iya petani. Kayaknya keren aja kemana-mana bawa cangkul dan celurit *lha itu petani apa PKI ya? Du du du…*. Belum lagi bisa makan beras tiap hari, soalnya daku tuh dari kecil punya kebiasaan aneh, suka makan beras! Hihi… Kan enak toh malah gak repot?

Mama: “Dimas, hari ini mau makan apa? ”

Dimas: “Apa aja deh Ma, yang penting kenyang.”

Mama: “Ya udah itu dah Mama sediain beras di meja satu kilo. Makan yang banyak ya!”

Dimas: “…….” *abis itu daku berubah menjadi punya bulu dan berparuh, alias jadi ayam kampung, huhu*

Tapi akhirnya semua berubah. Setelah lulus SMU daku ingin kuliah Peternakan. Berhasil gak Dim? Bo, dua kali daku keterima UMPTN di Peternakan tapi gak pernah diambil! Padahal daku udah membayangkan berjalan sambil membawa rantang, tikar dan teh hangat, kemudian duduk manis sambil memandang kambing-kambing peliharaanku berlarian dengan riang, lalu kemudian bernyanyi,

“Mana dimana anak kambing saya, anak kambing tuan ada di pohon waru. Mana dimana jantung hati saya, jantung hati tuan ada di kampung baru. Caca marica he hei! Caca marica he hei! Caca marica ada di kampung baru…”

Lalu siapakah Caca Marica yang dicari itu? Ada hubungannya kah dengan Cucu Cahyati? Atau Cica Kuswoyo? Hanya pengarang lagunya yang tau…

Well kembali ke cerita semula, akhirnya setelah kenyataan tak seindah yang dibayangkan, daku sadar, daku terlahir untuk terkenal. I was born to be famous! Daku terlahir untuk berada di depan lampu blitz dan kamera! Haha…. *tertawa kejam*

Karena punya bibir berlebih dan bisa diem kalo lagi tidur dan makan doang, makanya daku meniti karir menjadi penyiar. Penyiar Dim? Iya penyiar! Itu lho, orang yang suka ngomong sendiri, ketawa sendiri terus cerita-cerita gak penting *kabur ke Sandra Dewi sebelum digebukin para penyiar*. Awal karir daku siaran di radio rock yang sudah almarhum, padahal massa pendengarnya cukup lumayan tuh. Tapi siaran disana sungguh perjuangan luar biasa, karena daku tak pernah dengerin lagu rock. Paling maksimal cuma dengerin Geger Band yang kondang sekali itu. Terpaksa dah daku menghapal lagu-lagu Slipknot, Deftones, sampe Nine Inch Nail. Setiap pulang siaran rasanya bibir berbusa dan menjadi disleksia. Dan kemudian harus relaksasi dengan mendengarkan lagu Pance F. Pondaah dan Poppy Mercury di dalam kamar.

Lalu daku pernah juga siaran di TV Pemerintah bawain acara kuis jam 2 pagi, pake kemben sambil melet-melet terus bilang,

“Ayo dong, sekaliiii lagi aja kirim SMSnya, masa diem aja si…. Kalo kamu kirim sekaliii lagi, bakal dapet hape ini lho, sama senyuman akuh….”

PLAK! Emang daku cowok ganteng apaan! Jadi, selain daku siaran, kadang daku juga turun ke lapangan buat cari berita. Tapi entah kenapa kayaknya kamera memang bukan teman yang baik. Suatu hari ketika rekaman reportase, Continue reading “#2 cup: I was (not) born to be famous!”