aku di dunia serba kanan

Bukannya Tuhan menciptakan kedua tangan kita untuk dapat digunakan kedua-duanya? Sama lah seperti dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, dan dua hati untuk selingkuh *PLAK!*. Pertanyaanku nih, kenapa banyak orang menganggap aneh jika ada seseorang menggunakan tangan kirinya untuk menulis? KIDAL, begitu orang-orang menyebutnya. Mungkin mereka gak pernah tahu, betapa capeknya hidup di dunia yang serba kanan ini. Semua fasilitas tampaknya ditujukan untuk mereka yang beraktivitas menggunakan tangan kanan. Dan sayangnya, aku pun dilahirkan untuk menjadi seorang kidal. Untung saja aku punya orang tua yang sangat demokratis *atau dibiarkan sebenarnya, hihi*. Mereka tak pernah memaksaku untuk menggunakan tangan kanan untuk kegiatan yang bersifat personal. Walau untuk kegiatan yang bersifat sosio-normatif seperti bersalaman, makan, menerima barang, dan hal-hal lain tentu aku harus menggunakan tangan kanan dong. Bisa-bisa gak diakuin sebagai anak kalau daku makan di depan umum pakai tangan kiri, du du du. Tapi ssttt… kadang kalau pakai sumpit aku tetap menggunakan tangan kiri, susah sih!

Anyway, penderitaanku menggunakan tangan kiri dimulai sejak jaman sekolah dasar, dimana guru-guru SD itu dengan tak tahu dirinya berbicara,

“Ayo Dimas, nulisnya pakai tangan yang manis. Nah seperti itu… Jangan dibiasakan pakai tangan kiri ya. Gak bagus.”

URGH! Gak tahukah mereka kalau penelitian terbaru jika anak-anak kidal dipaksakan menulis tangan kanan secara terus-menerus bisa menyebabkan disleksia dan mengaburkan dominasi fungsi otak? Untung saja aku gak sampai disleksia, adanya sekarang malah menjadi manusia yang super duper berisik. Nyebelin pula. Continue reading “aku di dunia serba kanan”

lagi-lagi ayat-ayat cinta

 

Free Image Hosting at allyoucanupload.com

Setelah membaca novel Ayat-Ayat Cinta dengan penuh suka cita dan air mata beberapa bulan yang lalu *makasih Cahya atas pinjamannya*, akhirnya aku bisa juga menonton film Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal dan penuh pro kontra itu. Rasanya aku hampir jadi arca berlumut nungguin ini film tayang di bioskop, sebelumnya diberitakan bakal diputer bulan Desember tahun lalu, eh ternyata baru muncul di bulan Februari kemaren. Belum lagi begitu banyak yang nawarin aku buat nonton bajakannya, mulai dari download di internet sampe minjemin kepingan cakramnya *duh pilihan katanya oke banget ya, kikiki*. Sebenarnya, aku bukanlah cowok ganteng yang anti nonton film bajakan *ngelirik serial Heroes segambreng di rak* tapi ini aku lakukan demi menghargai kerja keras sang sutradara yaitu mas Hanung Bramantyo yang aku baca dari cerita di blognya sungguh-sungguh penuh dengan perjuangan yang sangat berat untuk membuat film ini bisa terealisasi. Apalagi ada abangku, Fajar Nugros, yang bikin behind the scene dari film AAC. Sekedar info, Hanung dan Fajar adalah kakak angkatan saya di SMU dulu *walau nasibnya gak ada nyerempet-nyerempetnya ke aku, du du du. Minimal kan bisa nawarin aku jadi pemeran pengganti onta di padang pasir*. Maka dari itu, kalo daku sampe nonton bajakannya, bisa-bisa langsung di air keras terus dijadiin gantungan kunci.

Continue reading “lagi-lagi ayat-ayat cinta”