agen rahasia

Ekspresi wajahku datar. Senyumku tak mungkin tersungging. Nafas terasa berat dan detak jantung terasa cepat. Mataku menatap mereka tanpa jeda. Marah. Tapi aku harus tetap menahan diri. Tangan dan kakiku pun terikat tali yang sangat erat.

“Sudahlah, tak ada gunanya kamu diam! Katakan, siapa yang mengirimmu kesini!”

Pria berjaket kulit hitam itu kembali bertanya sambil berlagak menghunuskan pisau tajam itu di dadaku. Perih.

“You wish! Percuma kalian bertanya. Cuih!”

Kuludahkan air liurku ke muka pria berjaket kulit itu. Dan wajah bengisnya pun menjadi merah. Menahan amarah yang membara. Dan…

“DAR! PRAK!”

Sebuah kursi kayu menghantam tepat di kepalaku, dan lalu aku terkulai dengan darah menetes di pelipis. Gelap.

Continue reading “agen rahasia”

tiba-tiba aku teringat dia

Tiba-tiba aku teringat dia…

Dia yang duduk di bangku tepat dibelakang kursiku, ketika kami pertama kali bertemu di kelas SMU. Dia yang memakai peci hitam yang hampir menutup matanya dan tersenyum tulus dengan gigi terkurung kawat. Dan dia yang tampak malu memandang wanita disekeliling, karena pendidikan pesantren terlanjur begitu kental di darahnya.

Tiba-tiba aku teringat dia…

Dia yang kemudian menjadi teman ceritaku, teman menyusuri jalan kecil menuju sekolah itu, dia mendengarkan kisahku, aku mendengarkan kisahnya. Dan dia yang tak pernah bisa marah jika seseorang mengganggu hatinya. Continue reading “tiba-tiba aku teringat dia”