shani dan aku

Shani dan aku. Dua manusia highlander kampus (angkatan tua yang masih beredar, -red) yang sebulan lebih terakhir menghantui setiap sudut kampus Hukum UGM. Dari ruang kuliah di pagi bolong sampai perpustakaan di malam hari. Tampak selalu sibuk berdua. Seperti Dora The Explorer dengan monyetnya (argh, aku monyetnya dong!). Kadang datang dengan wajah cerah ceria, kadang muncul dengan wajah kusam berminyak (tapi untung kami berdua punya kemampuan advanced dalam menggunakan kertas minyak untuk wajah, hihi).

Tidak pernah mudah menjadi mahasiswa peninggalan pra sejarah yang mengejar ketertinggalan dalam banyak hal, misalnya beberapa mata kuliah yang harus dibenahi, skripsi yang menggantung manis, sampai ujian-ujian lisan yang bagaikan mimpi buruk, ugh! Apalagi kami harus melakukannya diantara jadwal-jadwal keartisan kami yang cukup padat, halah!

Beneran, begitu banyak masa sulit yang harus dilalui, salah satunya: Continue reading “shani dan aku”

budek

Suatu sore di kos, terdengar sayup-sayup suara nada HP…

Gue : “Assalamu’alaikum, ada apa Pa?

Papa : “Wa’alaikumsalam. Gimana, lebaran kurban Dimas jadi pulang ke Jakarta gak? Katanya tiketnya mahal?”

Gue : “Iya ni Pa, Dimas kan ujian akhir tanggal 2 Januari, jadi gak bisa pulang.”

Papa : “Disana lebaran kapan?”

Gue: “Hah? Kenapa Pa?”

Papa : “Lebaran tanggal berapa?”

Gue : “Oh… Tanggal 30 si kayaknya, emang ada apa Pa?”

Papa : “Gak papa, jadi kapan ke Jakarta?”

Gue : “Hah? Gimana Pa?”

Papa: “Iya, jadi kapan liburnya? Ujiannya selesai kapan?”

Gue : “Heh? Kenapa Pa?”

Papa : “Duh kok jadi budek sih?! Papa kirimin uang ya buat berobat telinga, hehe.”

Gue : “Mau dikirimin uang Pa?! Asyik! Tau aja Dimas lagi butuh, iya ni Pa, kemaren-kemaren kan abis bla… bla… bla…”

Papa : … SENYAP… (dalam hati, “duh anakku satu ini, kalo uang aja langsung denger deh…”)