kelam

Terima kasih telah melupakanku. Tapi tolong, jangan pernah biarkan aku menjadi luka yang enggan mengering, menusuk dalam, tertinggal pekat. Lalu membusuk dan luruh. Lupakanlah dilema itu, yang menggerus hatimu menjadi serpihan perih. Terbang sangat diantara dentingan malam, berhembus kejam.

Cintaku, pergilah bersama kelam. Simpan semua tangisan lemah itu, meleleh hancur. Dan aku, menjadi kosong, lelah, diam, lalu mati.

aku berbicara kematian

sepotong percakapan antara dua sahabat di sebuah film …

“Lu pernah gak membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti kita mati?”

“Maksud lu bro?”

“Iya, ketika kita mati, pernah gak lu ngebayangin, siapa saja yang akan datang menangisi kita, siapa saja sahabat sejati kita, dan apakah kita sebegitu berkesannya di hati mereka, sampai mereka harus datang ke pemakaman kita diantara kesibukan yang ada”

“Apaan si lu ngomong kayak gitu?! Orang normal gak pernah mikir kayak gitu?”

“Yah… gue kan cuma pengen tahu bro…”

Dan cerita pun dilanjutkan dengan adegan bunuh diri oleh tokoh yang bertanya itu, walaupun akhirnya terselematkan.

————————————————————————————————-

Continue reading “aku berbicara kematian”