#Day13: Bantuan Tak Terduga

comments 4
dunia kerja

Pagi ini untuk pertama kalinya saya terpaksa menyetir sendiri dari rumah menuju tempat meeting di bilangan Sudirman. Sejujurnya karena sampai saat ini saya belum begitu lancar menyetir mobil, saya merasa tidak percaya diri, ditambah ketika hujan mulai turun dan jalanan semakin padat merayap, saya semakin khawatir lalu kemudian mengurungkan niat untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya baru setengah perjalanan saya memutuskan untuk memarkirkan kendaraan di salah satu perkantoran random dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan taksi.

Setelah meeting saya pun kembali ke kantor sendiri dengan taksi dan tentunya semua berjalan dengan baik-baik saja. Tetapi selama di kantor saya berpikir, “Bagaimana caranya untuk pulang nanti, ya?”. Terbayang harus naik taksi lagi, membelah kemecetan Jakarta, dan kemudian harus menyetir kembali ke rumah. Membayangkan saja rasanya sudah cukup khawatir. Saya terus berpikir dan hanya bisa menggumam dalam hati. Tepatnya, pasrah saja untuk menjalani satu-persatu perjalanan yang harus ditempuh.

Di saat jam pulang saya menyempatkan berkeliling kantor dan mengajak ngobrol santai beberapa teman baik, mulai dari Natalia yang baru pindah posisi meja sampai ke Rahne yang sedang berkemas-kemas hendak pulang. Saya pun menceritakan pengalaman hari ini kepada mereka dan Rahne pun berbagi cerita tentang niatnya untuk nonton film bersama suami di Plasa Senayan. Saya langsung bertanya, “Kak Rahne! Boleh nebeng gak ke Senayan City?”. Tentunya jawabannya boleh dan saya pun diantar dengan motor Vespa yang cantik bernama Clementine. Selama perjalanan kami masih sempat ngobrol ringan tentang banyak hal.

Di Senayan City saya menghubungi sahabat lama saya Ryan yang bekerja sebagai presenter berita di salah satu TV swasta yang berkantor di gedung yang sama. Ternyata dia belum pulang dan kami pun menyempatkan untuk ngobrol sambil makan malam. Selanjutnya, saya diantar Ryan menuju tempat saya menitipkan mobil. Rasanya senang sekali! Alih-alih saya berdiam diri dan memutuskan sendiri apa yang harus dilalui, saya mencoba berbagi cerita saya kepada teman-teman baik saya. Rasanya semua menjadi tampak mudah.

Hari ini mengajarkan saya, bahwa ketika kita ada kekhawatiran atau ketidaknyamanan, tak ada salahnya kita untuk berbagi cerita. Terkadang tanpa disangka-sangka akan datang bantuan dari berbagai arah yang tak pernah kita duga!

Seperti saya hari ini, semua tampak simpel tetapi kebaikan yang diberikan oleh teman-teman baik saya membantu untuk bisa mencapai apa yang saya perlukan yaitu selamat sampai tujuan – tanpa rasa lelah. Begitu pun dengan hidup kita, terkadang rintangan akan selalu ada, tetapi apabila kita hanya berdiam diri dan pasrah dengan keadaan, tentunya kita tak boleh berekspektasi akan mendapatkan bantuan yang tetiba jatuh dari langit dengan sendirinya. Semua perlu komunikasi dan tentunya usaha. Terkadang perlu juga ditambah sedikit keberuntungan, haha.

Setidaknya selain mendapatkan pengalaman bahwa bantuan bisa datang dalam keadaan yang terduga, saya juga belajar, bahwa belajar menyetir mobil tidak bisa setengah-setengah. Misalkan, belajar parkir mobil juga sangatlah penting. (*)

#Day12: Alasan Untuk Bahagia

comments 4
kuliah oh kuliah / mencintai hidup / yogya kita

Tiba-tiba saya teringat masa-masa saya menjalani OSPEK sewaktu menjadi mahasiswa baru UGM dulu. Seperti biasa kami harus mengikuti orientasi mahasiswa tingkat universitas sebelum mengikuti orientasi tingkat fakultas. Salah satu tujuannya adalah agar mahasiswa baru bisa saling mengenal antar fakultas, sehingga dibentuklah kelompok-kelompok yang terdiri dari perwakilan berbagai fakultas dan jurusan.

Pada masa itu saya bisa dibilang mahasiswa yang (sebenarnya) berkecukupan. Selain saya sudah menjalani kuliah setahun sebelumnya di kampus swasta dengan biaya dari orang tua sepenuhnya, saya juga sudah bekerja paruh waktu di salah satu pusat kaos oleh-oleh dan terkadang juga ditambah menjadi Sales Promotion Boy berbagai produk. Artinya secara materi, saya memilikinya lebih dari apa yang saya minta.

Tetapi terkadang masih timbul rasa iri pada diri saya. Kenapa sih teman-teman sekolah saya bisa kuliah di kampus menterang di dalam atau luar negeri? Kenapa saya hanya pakai kendaraan bermotor yang biasa saja dibandingkan beberapa teman yang lain? Dan masih banyak pertanyaan lainnya di kepala saya.

Hingga suatu hari, sepulang dari OSPEK, saya mengobrol panjang dengan salah satu mahasiswi dari kota kecil daerah Lampung. Sosoknya kecil, sederhana, senyumnya manis, dan anaknya sangat cerdas – karena ia bisa masuk UGM tanpa tes pada waktu itu. Sepanjang jalan boulevard kampus dengan seragam hitam putih dan senja yang mulai turun, kami bercerita sambil tertawa tentang banyak hal sampai pada titik entah mengapa kami berdiskusi mengenai biaya hidup di kota Jogja. Kemudian ia mengatakan, “Iya, Mas Dimas. Jogja ini kota yang murah ya… Aku dikirimin orang tua 75.000 per bulan dan rasanya cukup sekali. Untung saya tinggal sama paman, jadi malah bisa nabung sedikit”.

Dalam hati saya seperti tertampar, “Dia bisa bahagia dan bersyukur dengan duit bulanan yang tak banyak. Sedangkan aku? Duit sebanyak itu mungkin bisa terbuang begitu saja untuk main di warnet dalam seminggu dan hal-hal tak penting lainnya. Dan itu pun masih berasa kurang”.

Saya terdiam. Rasanya saya sangat tidak bersyukur atas apa yang saya miliki. Tuhan menegur dengan cara lain.

Esok harinya, saya pun mengantarkan pulang teman pria di ospek. Saya mampir ke kosnya dengan fasilitas yang tidak lebih baik dari apa yang saya tempati. Dia pun menceritakan betapa nyaman bisa tinggal di sana dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Lalu kami melanjutkan bercerita sambil menyantap makan malam di atas satu piring plastik yang dibawanya dari kota kecil di Jawa Tengah. Ia bersyukur atas apa yang ia miliki pada saat itu, karena untuk kuliah banyak pengorbanan yang harus dilakukan olehnya dan keluarganya.

Kedua teman ini memiliki satu kesamaan. Mereka datang ke Jogja untuk berjuang dan menunjukkan bahwa mereka bisa menghadapi segala rintangan. Mereka mungkin tidak seberuntung kita dalam hal materi, tetapi mereka kaya akan rasa bahagia.

Satu hal yang saya pelajari,

“I truly respect the people who stay strong even when they have every right to break down”.

Jadi, ketika saya merasa jatuh atau mendapatkan jauh dari apa yang saya harapkan, saya akan melihat ke sekitar, ternyata banyak hal yang membuat kita merasa kaya akan rasa bahagia. Bahagia bisa menyantap bubur kacang hijau favorit setiap pagi, bahagia dikelilingi teman-teman kantor yang luar biasa, bahagia melihat keluarga yang sehat, dan bahagia karena kita memang akan selalu punya alasan untuk bahagia, baik dalam keadaan sulit atau pun senang. Jadi, apa alasan kebahagiaan kamu hari ini? (*)

#Day11: I Love Monday

comments 5
aku dan jakarta / dunia kerja

Suatu ketika di satu kedai kopi, teman saya menyatakan kekesalannya sambil membaca linimasa akun soial media rekannya yang penuh keluhan akan pekerjaannya, “Kalau memang sudah gak nyaman, kenapa harus bertahan, sih? Kenapa gak resign aja dan cari kerjaan baru?”. Ia pun terus scrolling sambil terus berkomentar.

Teman saya yang lain pun menimpali, “Gak semudah itu juga kali dapat kerjaan baru. Banyak yang harus dipertimbangkan. Misalkan kayak gue, siapa yang mau bayarin cicilan kartu kredit gue? Haha”.

Saya pun ikut tertawa sambil manggut-manggut setuju. Kemudian saya pun bertanya sambil mata tetap tertuju ke layar laptop, “Memangnya gimana cara termudah supaya kita tahu kalau kita masih nyaman atau tidak di tempat kerja?”.

Teman saya lainnya pun menimpali, “Cara termudah? Gampang, Dim. Kalau lo setiap Senin pagi dan ketika mau berangkat kerja rasanya berat banget, artinya lo udah gak nyaman. Simple, kan?”.

Saya pun memandang teman saya, “Suka atau tidak suka akan Senin? Semudah itu?”. “Iya, semudah itu,” teman saya menjawab dengan yakin.

Saya pun mulai berpikir apakah selama ini saya pernah benci hari Senin? Well, rasanya saya selalu bahagia untuk datang ke kantor di Senin pagi. Bahkan hampir setiap hari saya selalu berusaha untuk hadir sejam lebih awal dari jam masuk kantor. Saya mencintai hari Senin sama halnya dengan hari-hari lainnya. Walau ketika harus bertemu dengan deadline, saya terkadang tidak menikmati hari apa pun yang berputar terlalu cepat, haha.

Bagi saya terkadang ketidaknyamanan itu menular. Ketika kita membaca tulisan atau update yang berisikan kemarahan atau kekesalan yang terus-menerus di social media rasanya seperti menekan tombol negatif di dalam diri orang lain. Layaknya dementor. Mengisap rasa bahagia dengan seketika.

Makanya tidak jarang saya mendengar teman yang unshared temannya di Path karena, “Ah isinya ngeluh melulu, capek bacanya”. Atau teman saya yang lain dengan segera unfriend temannya di Facebook karena lelah membaca kekesalan temannya akan salah satu tokoh politik. “Move on kali, capek bacanya,” ujarnya sambil merengut.

Terkadang kita tak sadar, social media menjadi ranah umum. Tidak ada rahasia yang betul-betul rahasia, karena itulah kita harus bijak untuk update sesuatu di akun yang kita miliki. Lalu, bagaimana caranya dong kalau ingit curhat? Hm, karena itulah Tuhan menciptakan orang-orang yang kita panggil keluarga atau sahabat, seringnya cerita secara langsung biasanya akan membuat lebih lega. Karena pada akhirnya, kita ingin didengarkan, bukan untuk dibaca, dikomentari, lalu harus kehilangan pertemanan karena emosi sesaat. Nah kamu sendiri, do you love your Monday? (*)

#Day10: Ketika Harus Sendiri

comments 4
mencintai hidup / tentang sahabat

Saya paling benci kesendirian. Semua ini dimulai sejak ketika saya harus tinggal terpisah dari orang tua ketika masa sekolah dulu. Saya benci ketika harus makan sendiri, saya benci ketika harus jalan-jalan sendiri, bahkan saya benci ketika harus tidur sendiri di malam hari. Karena itu, ketika saya baru masuk SMA dan harus tinggal sendirian di kos, hampir setiap malam ada beberapa teman sekolah saya yang menginap untuk menemani saya ngobrol sampai saya terlelap. Beruntung waktu itu kamar kos saya cukup luas. Karena kebiasaan ini, saya punya banyak sahabat dari satu angkatan karena pada akhirnya kamar saya menjadi tempat berkumpul dan menjadi tempat mengasingkan diri bagi teman-teman saya yang sedang putus cinta, haha.

Kamar Kos Waktu SMA di Jogja

Saya menyadari, mungkin saya adalah wujud nyata manusia komunal yang tidak bisa hidup sendiri. Bahkan pada waktu itu saya bisa bertahan untuk tidak makan malam ketika tidak ada yang bisa menemani saya. Bagi saya, keberadaan orang lain menjadi sangat penting dalam menjalani aktivas sehari-hari. Hal ini terus berlangsung sampai saya lulus kuliah kecuali kalau tidur harus ditemani, haha.

Bahkan pada saat saya masih tinggal di kos, saya pun tak pernah mengunci kamar tidur karena saya selalu mempersilakan teman-teman satu kos untuk masuk ke kamar kapan saja sekedar untuk menonton TV, membuat susu karena saya selalu menyimpan susu bubuk, ataupun belajar di meja belajar saya – karena ada beberapa teman kos yang benci kalau harus belajar sendirian. Privasi merupakan nomor sekian bagi saya.

Saya pikir hal ini terjadi hanya pada saya. Lalu saya punya sahabat perempuan ketika SMA, namanya Nina, pendek cerita suatu saat kami terpisah karena dia harus kuliah di Bandung, sedangkan saya meneruskan pendidikan di Jogja. Karena dia juga tak biasa sendiri, setiap malam saya harus menemani dia makan melalui saluran telepon sampai dia selesai menyantap makan malamnya! Hal itu berlangsung beberapa minggu awal sejak dia tinggal sendirian di sana. Tetapi saya yakin, sekarang dia pasti tak pernah makan sendiri, karena sudah ditemani oleh suami dan kedua anaknya yang lucu di Eropa.

Lalu pada suatu ketika semua kebiasaan ini harus saya ubah. Satu situasi yang tidak bisa saya hindari. Pada saat itu, saya harus pindah ke kota Bangkok dan totally tinggal sendirian, sehingga saya harus melakukan sebagian besar aktivitas sendirian. Saya mencoba pertama kali nonton bioskop sendiri, makan malam sendiri, nongkrong di coffee shop sendiri, sampai jalan-jalan menjalajahi kota sendiri. Ternyata ada sensasi menyenangkan. Ketika kita bisa memutuskan apa yang ingin kita lakukan tanpa ada kompromi dengan orang lain. Ketika setahun berlalu, saya merasa keindividuan itu menjadi terpelihara lalu terkotakkan menjadi rasa nyaman. Saat itu saya memutuskan pulang.

Pada akhirnya, dalam segala hal memang harus seimbang. Terkadang dalam banyak hal kita harus kompromi atau melakukan berbagai hal bersama orang-orang yang kita percaya, tetapi ada saat-saat kita menikmati waktu sendiri.

Saat-saat sendiri bagi saya adalah waktu yang tepat untuk berpikir lebih dalam dalam menentukan keputusan yang akan diambil dalam hidup atau mengevaluasi diri atas pilihan yang saya ambil. Saat sendiri itu adalah saat saya bisa mendengarkan kata hati saya dan mengindahkan emosi sesaat lalu berpikir dengan logika. Demikian pun pada saat ini, saya menulis blog di sebuah cafe sendirian, dimana mungkin beberapa tahun yang lalu, saya sangat enggan melakukan ini. Anyway, selamat malam Minggu dan semoga weekend kamu menyenangkan! (*)

#Day9: Pengalaman Yang Mahal

comments 2
kuliah oh kuliah / mencintai hidup / tentang sahabat

Pagi hari ketika saya sedang dalam perjalanan ke kantor tak sengaja saya membuka linimasa Twiter. Ada satu twit dengan lampiran gambar yang langsung menarik perhatian mata saya. Gambar yang bertuliskan, “Selamat Selikuran Dagadu Djokdja”. Dalam bahasa Jawa, selikur itu diterjemahkan menjadi 21. Ternyata usia produsen kaos khas dari kota Jogja ini sudah menginjak usia yang tak bisa dibilang sebagai remaja lagi.

Pada usia yang sama, waktu itu saya masih bekerja paruh waktu di Dagadu Djokdja. Kepercayaan yang besar bagi saya pada masanya serta kesempatan yang mahal karena untuk menjadi Garda Depan/Gardep (begitu mereka menyebutkan para pekerja paruh waktu) di Dagadu Djokdja tidaklah mudah. Ketika itu kami harus melalui seleksi sebanyak 8 tahap dengan pendaftar hampir mencapai 700 mahasiswa/i dari Jogja. Sedangkan yang diterima ternyata hanya delapan orang dengan kontrak selama 8 bulan. Wah, tak sadar ternyata banyak angka 8 yang muncul, ya? Mungkin itu angka keberuntungan saya, haha.

Anyway, bagi saya pengalaman bekerja paruh waktu di Dagadu merupakan pengalaman yang mahal. Dalam banyak hal. Pada saat umur 20an awal, saya bukanlah pemuda yang bisa dibilang sabar. Pada saat itu saya belajar, tak semuanya bisa kita kerjakan sendiri. Ada beberapa hal harus dikerjakan bersama-sama. Melatih kesabaran dalam menjalankan berbagai proses menjadi kunci.

Saya juga belajar sabar dalam melayani konsumen. Saya baru sadar, tak semua orang bisa menghargai pekerjaan saya dan teman-teman yang bekerja di berbagai gerai toko di sekitarnya. Di sana saya menemukan berbagai wujud watak manusia.

Saya semakin paham bahwa orang baik tidaklah harus ditemukan dalam wujud dengan pakaian mentereng, mereka yang bisa makan enak di gerai fast food, atau menggunakan perhiasan mahal. Orang baik bisa ditemukan di mana dan situasi apa saja. Saat itu saya menemukan deretan teman baik yang menjaga gerai ice cream Baskin & Robin, toko Gramedia, sampai konter kecil foto instan di sebelah gerai Dagadu. Mereka sering berbagi panganan kecil mereka kepada saya dan teman-teman, menyapa hangat dengan tulus setiap hari, dan tak pernah bosan berbagi rejeki atas apa yang mereka miliki. Bukankah kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan? Mereka mengajari saya hal itu.

Selain itu saya belajar integritas. Bekerja dengan teman-teman yang seluruhnya mahasiswa (dan tentu kami butuh uang) serta diberikan kebebasan mengelola barang dagangan sampai keuangan setiap harinya, tentu kami sangat bisa melakukan kecurangan kapan saja apabila mau. Tetapi saya tak pernah menemukan itu. Kami diajarkan bagaimana dunia kerja sesungguhnya. Kepercayaan itu diberikan untuk dijaga, bukan untuk disalahgunakan.

Terakhir, persahabatan. Kami saling menghargai satu dengan yang lainnya sebagai keluarga. Saya ingat karena waktu itu secara umur saya yang paling kecil, terkadang saya mendapatkan jatah waktu makan lebih awal, haha. Mereka juga selalu memastikan saya aman sampai di kos sepulang kerja, meminjamkan uang ketika saya kehabisan dana di akhir bulan – dimana saya sering terlalu gengsi untuk minta tambahan ke orang tua, dan memastikan saya baik-baik saja dalam segala hal. Ah, saya jadi berpikir bahwa saya terlalu dimanja pada masa itu, haha.

Satu hal, yang pasti saya sangat bersyukur atas pengalaman yang mahal ini. Saat ini, mungkin sudah ada ratusan alumni Garda Depan yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Kami mendapatkan pengalaman yang tak disediakan oleh banyak perusahaan di Indonesia, tetapi Dagadu percaya, bahwa kemampuan bekerja harus dibentuk sejak dini dan kesempatan itu harus diberikan bagi mereka yang punya tekat dan memliki daya juang untuk menjalaninya. Sekali lagi, terima kasih Dagadu dan selamat beranjak dewasa! (*)

#Day8: Jatuh Cintalah Pada Pria Yang Menulis

comments 23
dimasastra

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menerjemahkan pertemuan pertama dalam barisan kata-kata, pertemuan selanjutnya dalam sekumpulan prosa, dan seterusnya tanpa pernah ada titik henti. Karena ia akan terus menulis di dalam pikirannya, mimpi-mimpinya, dan namamu selalu menjadi kosa kata favorit dalam hidupnya.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Terkadang ia hanya akan menomorduakanmu dengan sebuah buku, sepotong puisi, atau barisan kisah manis yang ditemukannya pada secarik kertas. Tiada sosok lain yang akan menggantikanmu. Bagaimana mungkin bisa terganti ketika ia sangat percaya tiada kata-kata yang lebih indah selain yang keluar dari bibirmu?

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan membawamu pergi berkelana di dunianya dengan rentetan cerita dan membiarkanmu yang memilih akhir kisahnya. Ia tak punya kuasa. Karena baginya, hanya kamu seorang yang menjadi perhentian dan selalu menjadi imajinasi terindahnya. Kemarin, hari ini, dan esok hari.

 

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menunggumu dengan secangkir kopi, musik mengalun di telinga, dan sehelai kertas untuk menulis. Ia tak akan pernah berkeberatan untuk menantimu di mana saja dan kapan saja. Sejatinya selama di sana ada kamu – dan ketika selama ia percaya, kamu akan hadir untuknya setelah itu.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menyusun kisahmu, menyisipkan kisahnya, lalu dijadikan satu cerita utuh. Tentu kamu diperkenankan menambahkan cerita sedih, gusar, atau tawa di dalamnya. Karena bukankah selalu ada lembaran kosong yang bisa kalian isi bersama?

Jadi, jatuh cintalah pada pria yang menulis. Temukanlah ia. Karena ia tersembunyi di ruang-ruang sepi, lorong-lorong toko buku, atau kedai kopi di sudut jalan itu. Mungkin ia terlalu lama menunggumu dan waktunya tak lama lagi. Karena pria yang menulis, tak selamanya akan menulis. Ia juga akan menjadi pria yang menjawab semua pertanyaanmu, pria yang memelukmu ketika kamu bersedih, pria yang akan menyimpan rahasiamu, dan pria yang selalu terjaga di antara perjalanan waktu hidupmu. (*)

#DAY7: Keluarga Yang Kita Pilih

comments 2
mencintai hidup / tentang sahabat

Saya percaya setiap individu pasti memiliki minimal seorang sahabat dalam hidupnya. Sosok dimana kita bisa menceritakan apa saja, yang tahu banyak mengenai kisah hidup kita, serta menempatkan nama kita di dalam doa yang selalu diucapkan setiap harinya.

Kembali pada masa ketika masih duduk di bangku sekolah, saya pernah yakin setiap hubungan persahabatan yang saya miliki pasti tak akan terpisahkan sampai tumbuh dewasa. Kami akan selalu bersama, saling menjadi prioritas utama, dan tak akan pernah lupa untuk bertukar kisah setiap saat. Dunia yang sangat ideal versi saya.

Tetapi dunia yang saya kenal kini, semua menjadi berbeda. Teringat waktu di bangku kuliah saya pernah membaca satu artikel yang mengatakan ketika kita mulai menua, lingkaran pertemanan akan semakin mengecil, tereduksi karena berbagai situasi, dan akhirnya akan tersisa mereka yang benar-benar saling memahami satu sama lain. Awalnya tentu saya tak begitu saja percaya, tetapi ternyata itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Ketika dunia sudah penuh dengan kesibukan bekerja dan/atau berkeluarga, kita mulai merasakan dimana sebagai manusia kita tumbuh dan berkembang ke berbagai arah yang berbeda. Apa yang kita baca, apa yang kita hadapi, apa yang kita yakini, serta apa yang kita temui sehari-hari, semua juga berbeda. Begitu pun pola berfikir.

Hal kecil saja, ketika saya membuka linimasa akun Facebook saya terkadang saya mengerenyitkan dahi, “Kenapa teman lama saya bisa berfikir seperti itu ya menanggapi isu ini?” atau “Kok dia bisa percaya berita yang belum tentu benar ini, ya?”.

Sedangkan di dunia pararel, mungkin teman lama saya berpikir hal yang sama mengenai saya ketika membuka linimasa Facebook atau Twitter saya, haha. Bisa jadi. Tentunya saya sangat menghormati pendapat orang lain di social media, toh kami sama-sama tidak saling terganggu secara langsung.

Anyway, apa yang ingin saya ceritakan adalah rasanya begitu bahagia ketika kita bisa menjaga lingkaran pertemanan untuk jangka waktu yang cukup lama. Apalagi pasti kita punya kenangan-kenangan yang kita jaga sampai sekarang dengan mereka yang dekat di hati. Misalkan saya yang masih mengingat saat-saat kuliah dimana bersama para sahabat merasakan kehujanan naik motor, makan di warung pinggir jalan dan harus berbagi lauk, sama-sama sedih karena tak bisa ikut keriaan di kampus karena harus kerja part time sehari dua kali, saling mendukung ketika mengerjakan tugas akhir, sampai banyaknya kesamaan – dan perdebatan yang harus dilalui bersama.

Nah, kemarin saya bahagia sekali bisa bertemu kembali dengan sahabat-sahabat yang sudah terjalin selama 14 tahun lamanya sejak sama-sama masih kuliah di Jogja. Kami biasanya saling kontak hanya melalui group WhatsApp, mengingat beberapa dari kami tinggal di luar kota dan luar negeri tetapi kebersamaan masa lalu menguatkan kami. Tak ada yang berubah, masih menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah kami lakukan, menceritakan berita yang tertinggal, serta merayakan masa-masa bisa berkumpul bersama. Priceless.

Hari, Ira, Pepy, Rizal, Mamas, dan Raja

Sungguh tiada yang lebih menyenangkan selain bisa bertemu dengan para sahabat yang mengetahui perjuangan hidup kita dari masa lalu, yang percaya kita bisa melakukan apa yang kita cita-citakan, dan selalu menggandeng tangan kita ketika merasa ragu. Mereka adalah keluarga yang kita pilih. Tentunya saya berdoa semoga persahabatan ini akan terus berjalan sampai ujung waktu. Bersama mereka, bersama sahabat-sahabat saya yang lain, dan tentu juga kamu yang telah berkenan berkunjung ke blog saya.

Oh iya, sudahkah kamu menghubungi sahabat kamu hari ini? (*)

#Day6: Belajar Hal Baru

comments 6
mencintai hidup

Kapan terakhir kali kamu belajar hal baru? Bisa apa saja, mulai dari belajar bahasa asing, merajut, bahkan sampai belajar membuat kue kesukaan kamu.

Kalau saya sendiri setelah dipikir-pikir, hal baru yang terakhir dipelajari adalah menyetir mobil. Iya, menyetir mobil. After all those times, di usia yang udah gak muda lagi, saya baru belajar, haha. Masih banyak check list yang ingin saya pelajari, misalkan seperti belajar berenang, beberapa keahlian digital marketing, atau mempedalam bahasa Inggris.

Tetapi selalu ada alasan bagi saya untuk menunda, karena keterbatasan waktu dan juga rasa malas yang mengalahkan keterbatasan waktu. Kalau dipikir-pikir, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menonton video YouTube, scrolling timeline social media, atau jalan-jalan di mall ketika weekend. Seandainya dikonversi waktunya, tampaknya akan sangat cukup untuk belajar sesuatu yang baru.

Belajar hal yang diluar kebiasaan kita akan selalu menarik, karena kita harus keluar dari kebiasaan dan zona nyaman, dimana kita sudah paham dengan baik apa yang harus dijalani. Terkadang, bahkan dengan belajar atau melakukan sesuatu yang berbeda, kita bisa menemukan passion atau hobi kita dengan tanpa sengaja.

Misalkan saja ada teman saya yang awalnya hanya sekedar ikut-ikutan latihan yoga atau lari outdoor karena diajak oleh temannya, in the end, mereka malah lebih rajin latihan dibandingkan teman yang mengajaknya pertama kali. Mereka menemukan hobi baru yang seru. Sounds familiar, kan?

Belajar hal baru bisa dari mana saja dan siapa saja. Hal ini ditanamkan di diri saya oleh para jurnalis kampus senior ketika saya aktif di media kampus dulu. Pesan yang mereka sampaikan adalah,

Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Ketika itu saya berfikir, “Wah, benar juga, ya!”. Kita bisa belajar hal yang baru dari siapa saja. Mulai dari supir taksi, klien di kantor, sampai di kamar ketika belajar bagaimana cara memasang dasi dengan baik melalui video tutorial. Yah, semoga saja kedepannya saya dan juga kamu, menjaga semangat penasaran untuk mencoba berbagai hal baru, mencari tahu sesuatu yang baru, dan bergegas untuk mencobanya tanpa rasa ragu.

Eh iya, saya baru mau mendaftar sesuatu yang baru, nih. Rencananya mau memulai kembali olahraga di gym center. Doakan saya konsisten latihan, ya! (*)

#Day5: Galau Berkarir

comments 6
aku dan jakarta / working world

Hari pertama kerja di tahun 2015, saya langsung dihujani berbagai pekerjaan dan jadwal meeting. Tetapi sejujurnya saya menanti-nantikan masa masuk kerja lagi karena libur panjang kemarin rasanya terlalu lama untuk dijalani. Well, mungkin ada beberapa teman yang akan mencubit saya karena ini, haha.

Sebelum makan siang, saya terlibat obrolan singkat dengan beberapa kolega di kantor. Intinya, akhir-akhir ini banyak orang yang sedang galau mengenai karir. Tidak yakin dengan karir yang dijalani, keinginan untuk berganti bidang pekerjaan, tak yakin dengan jalan yang dipilih, dan masih banyak alasan lain untuk mempertanyakan apakah ini memang perjalanan karir yang dimaui, ya?

Bagi saya pribadi, I’ve learned from my experience. Setidaknya dalam perjalanan karir saya selama ini, saya telah berganti-ganti pekerjaan cukup lumayan sering. Satu pengalaman yang kemudian saya yakini adalah:

Don’t overvalue short-term benefits. Higher pay doesn’t equate to a job that will make you feel complete.

Saya dua kali pindah kerja ke tempat yang memberikan benefit setengah kali lebih rendah dari gaji sebelumnya. Orang lain berfikir mungkin saya nekat – atau nekat ditambah kegilaan. Tetapi bagi saya, lebih baik memilih serta mencoba pekerjaan yang memberikan pengalaman baru, kesempatan untuk berkembang, dan ribuan pintu untuk belajar lebih profesional.

Keputusan yang saya akui tidak selalu tepat, tetapi tidak akan pernah saya sesali. Karena keputusan yang salah atau benar, semuanya memberikan kesempatan bagi saya untuk ‘naik kelas’ dalam pengalaman hidup.

In the end, satu hal yang membuat saya bertahan di satu tempat adalah lingkungan. Perasaan nyaman, tak pernah was-was menghadapi hari Senin, serta selalu ada ruang untuk berkreasi, merupakan hal yang istimewa dan tak semua orang memiliki kesempatan itu. Hal lainnya, bekerja sebagai satu keluarga besar yang saling menolong dalam menghadapi apapun membuat suasana kenyamanan bekerja menjadi paripurna dan utuh. Alhamdulillah, saya mendapatkan hal-hal tersebut saat ini.

Tentunya, tak semua orang akan dengan ‘mulus’ menemukan tempat terbaik untuk berkembang. Tetapi saya percaya kesempatan itu akan selalu terbuka selama kita berusaha untuk menemukannya. Kalau Agnez Mo dan Pinkan Mambo saja berani berjuang & berkarir sampai negeri Paman Sam, kenapa kita tak berani bermimpi lebih tinggi dan berjuang lebih keras? (*)

#Day4: Mencari Kebahagiaan

comments 3
bangkok story / mencintai hidup

Tiba-tiba saya dapat pesan melalui Line dari Ronny teman baik saya yang sedang liburan di Bangkok.

“Kak, dapat salam nih dari kantormu yang dulu, haha”.

Sepotong foto gedung terlampir dan saya pun seperti terbawa ke kenangan masa-masa bekerja di sana selama setahun lebih. Dimana saya tinggal sendirian, tak memahami mereka berbicara mengenai apa satu sama lain, serta saat saya benar-benar memahami makna sepi di dalam keramaian, haha.

Pada masa itu saya banyak belajar hal. Salah satunya adalah rasa sepi itu kita yang menciptakan sendiri. Kalau kita hanya terus mengasihani diri sendiri atau buruknya terlalu menikmati kesendirian itu tanpa melakukan sesuatu, akhirnya kita akan semakin terpinggirkan. Padahal di dunia luar itu banyak sekali hal yang bisa dinikmati dengan langkah pelan dan tanpa terburu-buru.

Ketika di sana saya bertemu dengan beberapa teman sesama ekspat dari Indonesia – yang akhirnya bersahabat dan terus bersilaturahmi sampai sekarang – dengan kesengajaan, modal nekat, dan teknologi. Berawal dari menghubungi mereka melalui akun social media dan akhirnya bertemu. Siapa sangka, ternyata kami satu frekuensi dan menjadi katalis kebahagiaan selama di sana.

Keluarga kecil dari Bangkok

Kesimpulannya, mencari kebahagiaan bisa melalui apa dan siapa saja, selama kita ada kemauan mencarinya, bukan hanya sekedar menunggu. Saya percaya, kebahagiaan itu bisa berwujud sebuah buku, secangkir kopi, obrolan singkat dengan teman kantor yang duduk satu ruangan, sampai sapaan “Hello” melalui online messenger. Teman saya pernah berkata,

“A simple hello could lead to a million things”.

Saya setuju, karena salah satunya mungkin akan mengawali kebahagiaan itu sendiri. Nah, kalau kamu, apakah masih mencari kebahagiaan itu? Atau apa wujud kebahagiaan kamu? (*)