Belajar Untuk Fokus

comments 8
mencintai hidup

Hi, saya Dimas dan saat ini saya bekerja di salah satu digital agency terbesar di Indonesia. Jadi, terbayangkan paparan saya dengan teknologi hampir bisa dibilang 24 jam 7 hari. Setiap detik, setiap saat, dan setiap saya bangun pun saya bergegas periksa timeline Path, Twitter, sampai email dari kantor. Ya, segitunya saya mengomsumsi teknologi dalam keseharian. Terkadang saya merasa hidup di dunia yang bising dengan visual tulisan, gambar, suara, tetapi semua menjadi adiksi. Apabila sehari saja tidak akses rasanya menjadi ada yang kurang…

 

Ketika saya membaca tulisan dari Mas Adjie di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” permasalahan pertama saya adalah saya memiliki “Monkey Mind” dimana pikiran saya bisa loncat sesuka hati dalam satu waktu. Seperti monyet yang berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Istilah kerennya sih ‘multitasking’. Pikiran saya yang serba berloncatan ini pun ‘terlatih’ ketika dulu saya masih menjadi penyiar radio. Saya berlatih di mana tangan pegang mixer, telinga mendengarkan lagu, otak berpikir akan hal yang akan saya sampaikan di depan mic, dan mata mengawasi layar komputer. Satu waktu melakukan banyak hal dan ternyata tidak selamanya hal itu menjadi hal yang positif.

Kembali ke dunia yang penuh dengan teknologi, sekarang saya memang sering menjadi multitasking ketika bekerja. Tangan menyusun presentasi tetapi sesekali saya terlalu ‘gatal’ untuk cek update Path di gadget, periksa email di tab lain, atau sekedar membaca berita terbaru di halaman berita online. Sulit sekali rasanya fokus. Waktu mengerjakan presentasi yang harusnya satu jam bisa selesai, ternyata akhirnya mundur berjam-jam kemudian. Terkadang merasa kesal dengan diri sendiri.

Di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” saya belajar ternyata banyak sekali manfaat kita untuk melatih fokus dan ‘away’ beberapa saat dari internet. Misalkan saja waktu kita untuk membaca buku akan semakin banyak dan saya sangat percaya dengan hal satu ini. Bisa dibilang di kamar saya, hampir ada puluhan buku yang ‘belum sempat’ saya baca, bahkan beberapa masih dalam bungkus plastik. Kalau dibilang saya tak sempat membaca karena tidak ada waktu, rasanya tidak juga. Karena setiap pulang kerja dan setelah saya membersihkan diri, saya pasti akan kembali ke gadget, menulusuri timeline dan menonton video di YouTube lalu menghabiskan waktu berjam-jam dengan percuma. Hampir setiap hari. Seadainya saja saya bisa fokus dan menjedakan diri dari teknologi, saya yakin bisa membaca buku setiap hari dan semakin banyak ilmu yang saya dapatkan.

Kemudian di buku yang sangat memberikan pencerahan untuk saya ini, saya juga belajar bagaimana sih caranya supaya tidak selalu terhubung dengan internet? Salah satunya adalah tinggalkan gadget atau matikan.

Kalau tinggalkan gadget mungkin buat saya seperti kehilangan setengah nyawa ya, haha. Tetapi untuk mematikan gadget memang terkadang saya lakukan. Misalkan saja ketika sedang nonton film di bioskop, saya pasti akan mematikan gadget dan fokus ke layar. Dipikir-pikir, kita bisa melakukan itu juga ketika kita bekerja. Untuk fokus terkadang perlu untuk bersendiri serta terputus dari dunia luar. Selain itu, bersama sahabat-sahabat saya, kami juga punya kebiasaan ketika sedang nongkrong bersama, kami akan menumpuk semua gadget di satu tempat dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sampai kami selesai saling bertukar cerita. Rasanya sangat menyenangkan dimana kita fokus dengan cerita teman kita, tertawa tanpa ada jeda melihat gadget, dan waktu berasa lebih berarti.

In the end bagi saya sebenarnya teknologi banyak menolong saya untuk terhubung dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman – serta tentunya dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan keseharian, kita harus bisa menjaga agar teknologi tidak menginterupsi bahkan sampai menganggu kehidupan kita dalam keseharian. Melatih fokus dalam hal-hal yang menjadi prioritas serta kita harus bisa menempatkan teknologi sebagai tujuan awalnya untuk memudahkan aktivitas manusia – bukan mendistraksi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi buat kamu yang ingin tahu lebih banyak bagaimana kita bisa belajar fokus dan menemukan tips yang bermanfaat dari buku “Sadar Penuh Hadir Utuh”, buku Adjie Silarus ini baru akan terbit 24 Maret 2015 tetapi kamu bisa dapatkan lebih dulu dengan melakukan pre order dari tanggal 2-11 Maret 2015 pada link ini. Selain itu akan ada 20 tiket kelas “Sadar Penuh” untuk pembeli PO yang beruntung, lho. Yuk kita belajar fokus! (*)

Hei! Ini Smartphone Terbaik dari Huawei!

Leave a comment
gadget

Saya sangat suka membaca buku sejak dulu. Bahkan sampai sekarang hampir setiap hari saya selalu membawa satu buku sekedar untuk berjaga-jaga ketika macet atau menunggu sesuatu, saya bisa menyelesaikan membaca buku yang saya bawa.

Tetapi semakin hari rasanya ribet juga bawa buku di dalam tas saya yang padatnya kayak mal lagi midnight sale. Buku ini akan berebutan tempat dengan laptop, semua charger, sampai kamera (iya, saya hampir setiap hari bawa kamera) di dalam tas saya. Kebayang kan kalau saya traveling? Betapa semakin ribetnya barang bawaan saya.

Sempat berfikir untuk membawa tablet yang tentunya lebih multi fungsi. Bisa buat cek email, baca artikel seru di BuzzFeed, sampai baca buku. Iya, baca buku online. Tetapi setelah ditimang-timang, rasanya tetap berat untuk dibawa-bawa. Kalau baca buku pake gadget yang sehari-hari saya pakai, kok ya rasanya kurang mantap untuk baca artikel panjang atau novel. Karena memang dasarnya daku kepo, daku mulai browsing-browsing gadget yang gak malu-maluin buat dipake, mumpuni, harga kompetitif, plus satu lagi, enak buat akses bacaan di gadget. Setelah baca review sana-sini dan menimbang-nimbang, akhirnya pilihan daku untuk mencari phablet.

Hayo ada yang tahu phablet, tak? Phablet itu istilah baru perpaduan smartphone dan tablet. Artinya dengan kenyamanan maksimal ala smartphone dengan tampilan layar yang gak kalah sama tablet. Saat ini, phablet yang menurut saya paling hits dan cocok dengan kebutuhan saya jatuh ke Huawei Ascend Mate 7. Tahu Huawei, dong?

Huawei Ascend Mate7
 

Huawei tidak hanya menjual modem atau ponsel bundling, tetapi juga produksi smartpone yang berlayar lebar (6 inci) dengan prosesor yang mumpuni! Buat saya, layarnya yang berpenampang luas sangat membantu untuk membaca, membalas email, atau pun review kerjaan. Selain itu yang paling penting buat kita para komuter ibu kota tentunya adalah kemampuan daya tahan baterenya, karena menurut saya ukuran baterainya masih terbesar di kelasnya. Mudahnya buat saya, smarphone ini awet saya gunakan untuk berbagai aktivitas dan mampu bertahan hampir 2 hari penuh. Jadi kebingungan harus bawa power bank kemana-mana bisa dikurangi, deh.

Satu hal lagi, setelah pakai Huawei Ascend Mate 7 ini seperti mematahkan mitos bahwa kualitas barang produksi dari China hanya sekadarnya. Tetapi bagi Huawei, produk flagship ini menurut saya fiturnya paling unggul: mulai dari bodinya yang dibungkus logam, baterainya menggunakan 4.100 mAh lithium polymer yang lagi-lagi terbesar di kelasnya, dan ketika isi ulang baterai lebih cepat dibandingkan smartphone lainnya.

Nah untuk yang suka foto pun, smartphone ini juga mumpuni dengan kamera depan 8MP CMOS dan kamera utama 13MP CMOS. Satu hal lainnya yang seru adalah suaranya yang jernih, baik didengar secara langsung atau pun kalau kita pakai headphone. Jadi saya bisa bilang totalitas Huawei untuk produksi ini tidak tanggung-tanggung.

Jadi kalau kamu mencari gadget android berkualitas premium dengan harga yang tidak membuat kantong menjerit, kamu harus mempertimbangan Huawei Ascend Mate 7, deh. (*)

#Day24: Mencari Teman Dimana Saja

comments 4
gadget / tentang sahabat

 

Siapa yang setuju dengan kutipan di atas? Menurut saya mendapatkan teman yang bisa kita anggap sebagai teman sejati terkadang sulit untuk ditemukan. Terkadang pertemanan bisa berjalan dengan mulus – tetapi pasti akan selalu ada rintangan dan kejutan di setiap tikungan perjalanan hidup kita.

Memang, tak semua orang dapat menemukan teman baik dengan mudah. Bahkan terkadang kita dapat menemukan teman pada saat keadaan yang tak disangka-sangka. Sesimpel misalkan ketika saya masih fresh graduate dimana saya sering ikut tes kerja di beberapa perusahaan. Berawal dari antre bareng, tes bareng sampai tahap tertentu, dan akhirnya menjadi teman baik sampai sekarang. Tak terbayangkan padahal sudah berlalu kurang lebih 10 tahun yang lalu, haha.

Saya sungguh merasa beruntung selalu dikelilingi oleh teman-teman baik, tetapi saya menyadari dengan semakin bertambahnya umur, kesibukan pun bertambah juga hingga semakin sulit untuk dapat bertemu dengan teman-teman. Tapi saya percaya, teman itu tidaklah harus bertemu setiap hari, tetapi bisa meluangkan waktu untuk memiliki quality time ketika bertemu, walaupun itu hanya sebulan sekali.

 

Nah saya ada rekomendasi menarik nih supaya kamu juga bisa mendapatkan teman yang seru tanpa harus kopi darat, tentunya dengan cara online yang menyenangkan yaitu dengan install aplikasi Yogrt. Yogrt adalah aplikasi pencari teman berdasarkan lokasi terdekat. Kamu bisa mencari teman berdasarkan jenis kelamin dan umur yang kamu inginkan dengan fitur filter yang ada. Untuk berkenalan, kamu bisa mengajak mereka bermain game. Gamenya ada macam-macam, mulai dari Match 7 yang mencoba kecocokan satu sama lain hingga game iseng-iseng seperti Color Blind, Memory, sampai dengan Beat Pinguin. Seru banget, kan?

Nah, dalam rangka merayakan user ke 100.000, Yogrt mengadakan game seru #ChopChop yang hadiahnya gak main-main! Mulai dari Mini GoPro, Samsung GALAXY S5, sampai dengan iPhone 6! Selain itu juga ada hadiah voucher belanja dari Blibli.com untuk para pemenang peringkan 2 -1 0 dan para pemenang harian. Seru banget. Bahkan si @chikastuff sempat ngasih tahu kalau dia menang voucher belanja karena main game #ChopChop ini.

Saat ini aplikasi Yogrt baru bisa digunakan untuk Android. Kalau mau download, kamu bisa ke sini http://bit.ly/17Hi61Y. Saya juga udah download di gadget android saya, seru!

Untuk keterangan lengkapnya kamu bisa follow saja Twitter @YogrtID atau Likes Facebook Fanpage Yogrt. Pengumuman harian juga diumumin di Twitternya, jadi jangan sampai kelewatan! Selamat bermain dan mencari teman, yaaaa…. (*)

#Day19: Terbang Lebih Tinggi

comments 2
dimasastra

??Kamu tak ingin terbang lebih tinggi?,?? tanyamu.

??Tidak. Aku merasa cukup, tak kurang tak lebih. Tak ada lagi yang aku cari,?? jawabku singkat.

??Tapi… Kenapa kamu tak mencoba kepakkan sayap dan rasakan dunia yang berbeda? Kamu akan melihat hamparan pemandangan baru dan tak perlu lagi sembunyi dibalik sekumpulan awan biru??.

Aku menengadah dan menatapnya erat. ??Kamu. Kamu alasanku untuk tak ingin terbang lebih tinggi. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia apabila aku hanya dapat melihatmu dari langit???

??Kamu bisa menitipkan pesan kepada angin atau kamu juga bisa menyisipkan?rindu di dalam setiap tetesan hujan. Aku akan menyimpannya dan mengumpulkannya sampai kamu pulang??. Ujarmu dengan mata berbinar dan jemari tanganmu mengenggam erat tanganku.

Aku terdiam, menatapnya pelan, melepaskan gengamannya, lalu terbang ke angkasa. Dan aku pun terbang lebih tinggi. Kulihat bayangannya semakin mengecil lalu menghilang.

Saat itu… menjadi?saat terakhir kali aku melihatnya. Di antara tetesan hujan yang luruh dengan derasnya.?(*)

#Day18: Seperti Tukang Sate

comments 2
mencintai hidup

Kadang hidup itu seperti menanti tukang sate. Kenapa tukang sate? Karena bagi saya menanti tukang sate untuk lewat depan rumah itu waktunya tak pernah bisa saya duga. Ketika saya sudah merasa kenyang dan siap untuk tidur, rasanya entah berapa kali tukang sate favorit saya melewati depan rumah dengan suara khasnya. Tetapi sebaliknya ketika saya berasa kelaparan dan di rumah tidak ada makanan tersedia, entah kenapa tak ada satu pun tukang sate yang lewat. Saya sering bertanya-tanya, tampaknya filosofi Law of Attractions tidak bisa berhubungan dengan kebutuhan perut.

Sama seperti ketika kita hendak mencari barang yang dibutuhkan di dalam kamar. Terkadang ketika kita belum perlu, barang itu tampak di depan mata: tergelak di meja, samping kasur, lemari, atau di tempat terjangkau lainnya. Tetapi begitu kita perlu, rasanya benda itu hilang ditelan bumi. Biasanya karena kita terburu-buru dan panik. Berasa familiar?

Begitu pun dalam hidup. Ketika kita sudah mengetahui keinginan kita, kita akan berdoa setiap saat agar hal tersebut dapat segera terwujud. Tetapi Tuhan punya caranya sendiri untuk mewujudkannya. Kadang bisa segera diberikan, kadang perlu waktu yang cukup lama, dan seringnya keinginan kita belum dipenuhi sama sekali – untuk saat ini.

Saya belajar, ketika ada masa dimana saya menginginkan sesuatu bahkan menjadi salah satu doa utama saya untuk cukup lama, ketika akhirnya tercapai, terkadang pada akhirnya saya merasa bukan itu yang saya cari dalam hidup. Membedakan apa yang saya inginkan dengan apa yang saya inginkan orang lain melihat saya ternyata totally different. 

Akhirnya saya memahami, ketika kita membutuhkan atau memerlukan sesuatu, jangan terburu-buru. Terkadang yang terbaik akan diberikan pada saat yang tepat. Tidak perlu gegabah dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Memastikan apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan sesaat merupakan misteri terbesar yang harus saya pecahkan dengan hati-hati.

Pada akhirnya, seperti menanti tukang sate, ketika akhirnya tidak lewat, tentunya saya tak akan bersedih. Mungkin saya akan melewatkan malam itu dengan lapang dada sampai menanti datangnya pagi atau saya akan menelpon restoran fastfood terdekat untuk santap malam. Semua akan berbalik pada diri kita, pasti akan ada jawabannya tergantung bagaimana usaha kita dan campur tangan Tuhan untuk mewujudkannya. Ah saya jadi ingin makan sate, sayang malam ini ia lagi-lagi tak lewat depan rumah. (*)

#Day17: Kartu Pos Itu

comments 2
mencintai hidup / tentang sahabat

Semakin lama saya semakin lupa rasanya menulis dengan jari tangan. Setiap hari jemari ini lebih jamak menyentuh papan huruf di laptop, gawai, dan benda teknologi lainnya. Hal ini bukan saya saja yang mengalami, tetapi saya yakin banyak orang yang turut merasakannya. Contohnya saja rekan sekantor saya Garth yang penasaran ketika melihat saya menulis semua jadwal meeting di dalam agenda hitam saya. “Jadi setiap hari lo catet semua jadwal di buku itu, Kak?,” tanya Garth.

“Iya, tapi tetep sih Kak, semua jadwal aku masukin lagi ke dalam gadget supaya tak lupa. Vice versa. Jadi kalau ada undangan via email akan langsung aku catat di buku ini,” jawabku sambil semangat. Bagi saya, kegiatan ini juga menyalurkan kesukaan saya menulis dengan pulpen dan terkadang memberikan warna tulisan berbeda untuk tujuan yang berbeda pula. Bisa untuk janji pertemuan yang personal sampai hari ulang tahun teman-teman. Hal ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak masa kuliah. Saya gemar mengumpulkan beragam alat tulis dan menulis catatan dengan rapi.

Toko kartu pos yang saya temukan di Beijing

Tetapi saya sadar bahwa kegiatan ini sangat personal. Tidak ada yang bisa saya bagi dengan orang lain. Lalu saya teringat, saya memiliki beberapa sahabat yang gemar mengirimkan kartu pos ketika mereka sedang bepergian – biasanya ketika mereka menginjakkan negara atau kota yang pertama kali dikunjungi. Sebagian besar kartu pos itu masih saya simpan dan sebagian kecil saya pajang di ruang kantor saya untuk sekedar mengingatkan rasa bahagia ketika menerimanya dan membaca tulisan tangan yang tertera.

Bagi saya, menerima kiriman kartu pos menjadi pelipur lara dimana saat ini hampir tak ada lagi teman atau saudara yang mengirimkan surat dengan tulisan tangan untuk bertukar kabar. Semua sudah tergantikan dengan teknologi yang semakin canggih dan terus tergantikan dengan cara baru. Pada akhirnya saya sering menjawab pertanyaan teman-teman saya yang menanyakan mau oleh-oleh apa ketika mereka akan menuju suatu tempat, saya pun dengan cepat menjawab, “Kalau tak merepotkan, boleh ya kirimin aku kartu pos”. Walau pun terkadang dibalas dengan tatapan bingung, pada akhirnya mereka pasti mengirimkan sehelai kartu melalui pos dengan kegembiraan yang tertulis dengan jelas. Mungkin mereka tak pernah sadar, kegembiraan itu menular dan saya menyimpan kegembiraan itu di setiap kartu yang akan saya jaga dengan baik.

Pertanyaannya, kapan kamu terakhir kali menerima/mengirimkan kartu pos? (*)

#Day16: Hari Yang Biasa

comments 2
dimasastra

Ini hari yang biasa. Hari dimana aku terbangun di pagi hari, memikirkanmu. Hari dimana aku bergegas mencari hangatnya sinar mentari untuk mengganti pelukanmu. Hari dimana aku menyeduh secangkir kopi hangat untuk menggantikan genggamanmu.

Iya, ini hari yang biasa. Hari dimana aku menghitung waktu demi waktu sambil bertanya-tanya kapan kita bertemu. Hari dimana aku mengeja huruf demi huruf lalu terangkai namamu. Hari dimana aku rindu hingga aku bersenandung ditemani langit yang menjadi abu.

 

Aku udah bilang kan hari ini hari yang biasa? Hari dimana wajahmu memenuhi ruanganku, buku dipangkuanku, sampai di setiap tetesan hujan itu. Hari dimana aku tersipu untuk sekedar menatap wajahmu di foto itu. Hari dimana semua lagu seakan-akan berlirikan tentangmu.

Kamu tahu kenapa hari ini hari yang biasa? Karena aku terbiasa selalu menyebut namamu sampai bibir ini kelu. Karena aku terbiasa menari bersama bayanganmu di setiap sela waktu. Dan karena aku tahu, kamu pun terbiasa memikirkanku, di hari-hari biasamu. Setiap waktu. (*)

#Day15: Kejutan Yang Menyenangkan

comment 1
dunia kerja / mencintai hidup

Siapa di antara kita yang tak suka dengan kejutan yang menyenangkan? Saya rasa hampir semua orang akan menyukainya, apalagi kejutan yang bahkan untuk kita bayangkan saja rasanya tak akan mungkin terjadi!

Nah, kejutan yang dilakukan oleh group band Maroon 5 pada video klip ini sangat membuat hati saya berasa hangat! Sungguh menyenangkan melihat beberapa pasangan pengantin yang terkejut bahagia ketika tiba-tiba Adam Levine bersama teman-teman satu bandnya menjadi wedding singer dadakan menyanyikan lagu “Sugar”. Coba deh tonton video di bawah ini:

 

Gimana? Seru banget, kan? Seandainya saya berada di resepsi itu rasanya sudah lupa dengan acaranya, haha. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Maroon 5 ini bukan hanya sekedar untuk kepentingan pembuatan video, tetapi menunjukan kebaikan mereka meluangkan waktu untuk membuat orang lain – bahkan orang asing berbahagia…

Nah, masih terkait dengan kejutan, saya kemarin melihat salah satu postingan teman baik saya, Ollie, yang menjalankan resolusinya tahun ini untuk memberikan satu buku setiap hari kepada orang-orang terdekat atau yang ditemuinya pada hari itu. Kejutan yang sangat manis.

Bagi saya sendiri, terkadang kejutan yang menyenangkan juga datang dari teman-teman kantor. Seperti tiba-tiba ada camilan, bubur, atau pernak-pernik berbentuk Smurf di meja kerja saya. Bukanlah dari harganya, tetapi dari perhatian kecilnya yang bagi saya tak akan dilupakan.

Saya teringat apa yang dikatakan Maya Angelou:

I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.

Saya sangat setuju. Kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan untuk orang lain akan membekas dan menular – as a good karma. Kalau kamu sendiri, kejutan menyenangkan apa yang pernah kamu terima? (*)

#Day14: Tertawa Akan Masa Lalu

Leave a comment
dunia kerja / mencintai hidup

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam dunia kerja adalah masa dimana kita bisa menertawakan perjuangan kita dalam berkarir di masa lalu. Kadang kita tak pernah menyangka, kesulitan-kesulitan yang pernah kita hadapi dalam dunia kerja, ternyata sekarang menjadi cerita lucu dan mungkin membuat kita menggelengkan kepala – dengan sedikit rasa penyesalan.

Di antara obrolan dengan rekan-rekan kantor, sambil tertawa terbahak-bahak saya mendengarkan cerita-cerita kocak kenapa mereka pernah menangis di kantor. Mulai dari drama diminta revisi berkali-kali hal yang ‘terlalu simpel’ seperti membenahi tanda baca, kemudian ada yang dimarahi bos, dimarahi klien, sampai beberapa hal lainnya. Pada masa itu, pasti semuanya memiliki perasaan yang sama: ingin menyerah lalu mengundurkan diri dari perusahaan. Tapi bagi mereka, pilihannya adalah bertahan dan berjuang. Tentunya sekarang mereka semua menjadi sosok yang lebih kuat, berbakat di bidangnya masing-masing, dan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan dalam pekerjaan.

Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Pada masa itu dimana saya memiliki dua atasan langsung yang berbeda. Terkadang, zona waktu bekerja mereka juga berbeda, satu waktu Indonesia dan satu lagi waktu Eropa. Pekerjaan saya rasanya tak ada habis-habisnya, apalagi saya harus mengerjakan pekerjaan yang saling bertolak belakang, satu bidang kehumasan dan satu lagi bidang hukum. Rasanya ingin sekali menyerah, tetapi salah satu atasan saya datang ke meja saya dan menyampaikan, “Jangan khawatir Dim, semua ada masanya kok. Someday, kamu akan di posisi saya. Perjuangan kamu pasti ada hasilnya”.

Walau pun akhirnya saya tidak meneruskan berkarir di perusahaan itu tetapi lesson learned, terkadang ketika kita bekerja sungguh-sungguh, pasti ada hasil dan apresiasi yang kita dapatkan, bisa berupa karir yang berkembang, gaji yang bertambah, networking yang luas, dan yang pasti pengalaman yang sangat mahal harganya.

Sejujurnya saya pernah menyerah dalam menghadapi tantangan dalam berkarir – kemudian memilih mundur dan menjalankan karir yang baru. Karena bagi saya di masa muda dulu, if you do not choose to be happy, no one can make you happy. Jadi ketika saya sudah merasa tak bahagia di satu tempat, mungkin saya harus mencari tempat yang bisa memberikan itu. Tetapi ketika semakin dewasa, pertimbangannya akan semakin banyak, tak bisa hanya sekedar karena ketidaknyamanan atau keputusan emosi sesaat.

In the end, apa yang saya pelajari dari obrolan seru dengan teman-teman di kantor hari ini adalah:

Laugh about your past, live in the present, and love what’s to come.

Tertawa akan masa lalu adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang menguatkan kita untuk menjalani hidup ke depannya.

Nah, apakah kamu sudah berdamai dengan pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan? (*)

#Day13: Bantuan Tak Terduga

comments 4
dunia kerja

Pagi ini untuk pertama kalinya saya terpaksa menyetir sendiri dari rumah menuju tempat meeting di bilangan Sudirman. Sejujurnya karena sampai saat ini saya belum begitu lancar menyetir mobil, saya merasa tidak percaya diri, ditambah ketika hujan mulai turun dan jalanan semakin padat merayap, saya semakin khawatir lalu kemudian mengurungkan niat untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya baru setengah perjalanan saya memutuskan untuk memarkirkan kendaraan di salah satu perkantoran random dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan taksi.

Setelah meeting saya pun kembali ke kantor sendiri dengan taksi dan tentunya semua berjalan dengan baik-baik saja. Tetapi selama di kantor saya berpikir, “Bagaimana caranya untuk pulang nanti, ya?”. Terbayang harus naik taksi lagi, membelah kemecetan Jakarta, dan kemudian harus menyetir kembali ke rumah. Membayangkan saja rasanya sudah cukup khawatir. Saya terus berpikir dan hanya bisa menggumam dalam hati. Tepatnya, pasrah saja untuk menjalani satu-persatu perjalanan yang harus ditempuh.

Di saat jam pulang saya menyempatkan berkeliling kantor dan mengajak ngobrol santai beberapa teman baik, mulai dari Natalia yang baru pindah posisi meja sampai ke Rahne yang sedang berkemas-kemas hendak pulang. Saya pun menceritakan pengalaman hari ini kepada mereka dan Rahne pun berbagi cerita tentang niatnya untuk nonton film bersama suami di Plasa Senayan. Saya langsung bertanya, “Kak Rahne! Boleh nebeng gak ke Senayan City?”. Tentunya jawabannya boleh dan saya pun diantar dengan motor Vespa yang cantik bernama Clementine. Selama perjalanan kami masih sempat ngobrol ringan tentang banyak hal.

Di Senayan City saya menghubungi sahabat lama saya Ryan yang bekerja sebagai presenter berita di salah satu TV swasta yang berkantor di gedung yang sama. Ternyata dia belum pulang dan kami pun menyempatkan untuk ngobrol sambil makan malam. Selanjutnya, saya diantar Ryan menuju tempat saya menitipkan mobil. Rasanya senang sekali! Alih-alih saya berdiam diri dan memutuskan sendiri apa yang harus dilalui, saya mencoba berbagi cerita saya kepada teman-teman baik saya. Rasanya semua menjadi tampak mudah.

Hari ini mengajarkan saya, bahwa ketika kita ada kekhawatiran atau ketidaknyamanan, tak ada salahnya kita untuk berbagi cerita. Terkadang tanpa disangka-sangka akan datang bantuan dari berbagai arah yang tak pernah kita duga!

Seperti saya hari ini, semua tampak simpel tetapi kebaikan yang diberikan oleh teman-teman baik saya membantu untuk bisa mencapai apa yang saya perlukan yaitu selamat sampai tujuan – tanpa rasa lelah. Begitu pun dengan hidup kita, terkadang rintangan akan selalu ada, tetapi apabila kita hanya berdiam diri dan pasrah dengan keadaan, tentunya kita tak boleh berekspektasi akan mendapatkan bantuan yang tetiba jatuh dari langit dengan sendirinya. Semua perlu komunikasi dan tentunya usaha. Terkadang perlu juga ditambah sedikit keberuntungan, haha.

Setidaknya selain mendapatkan pengalaman bahwa bantuan bisa datang dalam keadaan yang terduga, saya juga belajar, bahwa belajar menyetir mobil tidak bisa setengah-setengah. Misalkan, belajar parkir mobil juga sangatlah penting. (*)