8 Resolusi dalam Hidup, Waktu, dan Uang di 2018

Tidak terasa kita sudah melewatkan beberapa hari di tahun 2018. Apakah kamu sudah menyusun resolusi baru atau memperpanjang masa kontrak resolusi yang pernah kamu susun? Bagi saya, tahun ini bukanlah tahun yang ambisius untuk mencapai beberapa target yang (pada akhirnya) sulit untuk dicapai. Tetapi, ada beberapa keinginan dalam diri saya untuk mulai mengubah kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya. Berikut adalah beberapa wish list saya yang siapa tahu bisa memberikan inspirasi.

diego-catto-423897
Photo by Diego Catto on Unsplash

Banyak membaca buku

Tanpa saya sadari, saya mulai berhenti untuk membaca buku secara teratur sejak lulus kuliah. Padahal pada masa lalu, membaca buku adalah hiburan utama saya ketika ada waktu luang. Tetapi saat ini, ketika kita sudah dibombardir dengan beraneka ragam saluran sosial media, ternyata telah berhasil menyedot waktu kita tanpa kita sadari. Pernah tidak mencoba berhitung, berapa jam waktu yang kita habiskan untuk melihat update teman-teman kita di Instagram, menonton YouTube, atau sekadar berselancar di Twitter? Mungkin waktu yang dihabiskan untuk semua itu bisa tergantikan dengan 1-2 bab buku yang seru untuk dibaca. Bagi saya, dengan jadwal jam kantor yang panjang, saya mencoba untuk secara teratur membaca buku sebelum tidur. Rasanya cukup menyenangkan apabila bisa menyisihkan waktu sekitar 30 sampai 60 menit setiap harinya.

Mengontrol keuangan

Sejujurnya, saya bukanlah orang yang melek finansial (dan hey, sekarang pun masih belajar), apalagi sebelum saya bekerja di bank seperti saat ini. Saya sadar, saya termasuk konsumtif apalagi kalau menemukan buku bagus, makanan enak, atau toko online yang lagi menggelar promo/diskon. Tetapi semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa melek finansial adalah tanggung jawab pribadi. Ya, mungkin saja orang tua kita tidak mengajari tentang pengelolaan uang sebanyak yang seharusnya kita ketahui, tapi itu tidak berarti kita tidak dapat meluangkan waktu untuk belajar sekarang. Ada puluhan blog keuangan pribadi online yang memberikan saran keuangan yang keren secara gratis. Selain itu, banyak juga aplikasi di smartphone yang bisa kita unduh untuk mulai belajar mengelola uang. Bagi saya, selain menggunakan aplikasi Jenius untuk menabung dan mengontrol transaksi keuangan, saya punya aplikasi andalan lain bernama MoneyLover.

Mengelola waktu yang ada

Hanya ada 24 jam dalam sehari, tetapi dengan kemampuan manajemen waktu yang cerdas, seharusnya waktu yang ada sudah lebih dari cukup. Kuncinya: tetapkan rutinitas. Saya pernah berbincang dengan teman saya yang berprofesi sebagai penulis dan dia memiliki rutinitas yang sangat membantunya untuk mengatur waktu. Setiap hari, dia akan bangun dini hari untuk beribadah dan kemudian dilanjutkan dengan menulis sampai jam 6 pagi. Dalam keheningan pagi, dia bisa menulis sebuah artikel baru atau tambahan halaman untuk proyek bukunya. Selain itu, dia juga secara rutin menulis to do list yang harus dilakukan setiap harinya. Untuk hal ini, saya mulai belajar dan memulai menggunakan aplikasi todoist?di laptop dan smartphone saya dalam menyusun apa saja yang harus saya lakukan setiap harinya sampai 7 hari ke depan.

Selain itu, saya sangat terkesan dengan salah satu teman baik saya, Inne Nathalia yang pernah menjawab pertanyaan followers-nya di Instagram, “Bagaimana cara ia mengelola waktu diantara seluruh kesibukannya?” Jawabannya cukup singkat dan menohok, “make time”. Kalau kita tidak pernah make time atau meluangkan waktu untuk bertemu sahabat kita, menghadiri acara yang kita ingin datangi, mengerjakan hobi, atau hal lain yang kita inginkan, semua itu tidak akan pernah terjadi apabila kita tidak berusaha untuk meluangkan dan memprioritaskan waktu untuk hal itu.

Mencoba hal lain dan selesaikan

Jangan pernah puas dengan kehidupan yang (menurut kita) nyaman – cobalah banyak hal lain. Apa pun hobi, minat, atau keterampilan yang kita miliki, cobalah kejar apa yang kita cita-citakan dengan penuh semangat serta melihat ke mana tujuan akhirnya. Ini berlaku untuk kehidupan pribadi atau profesional kita. Saya sadar, saya pribadi cenderung meniru orang lain yang tampaknya telah berhasil dengan kehidupan mereka. Tapi apa yang berhasil bagi mereka mungkin tidak sesuai untuk saya. Jadi, saya selalu mengingat dalam diri, janganlah mengejar impian orang lain.

Tahun ini, saya memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang saya sukai – menulis. Saya masih terus belajar: belajar mana yang berhasil dan mana yang tidak, sekaligus menerbitkan renungan saya secara online. Tentunya pembaca tulisan saya bisa bertambah atau tiba-tiba menghilang dalam semalam. Tapi apakah blog saya gagal atau tumbuh adalah tidak penting. Saya suka menulis dan akan konyol bagi saya apabila tidak mencoba menjalankan hobi saya.

Kebahagiaan datangnya dari bersyukur

Saya mulai belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang saya jalani mulai tahun 2018 ini. Saya banyak belajar mengenai #GratitudeList di InstaStory yang dilakukan oleh teman-teman baik saya seperti Chika, Rahne, dan Inne. Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah positivity yang selalu mereka tularkan untuk keselilingnya. Apakah mereka pernah sedih? Saya rasa sebagai manusia biasa tentu pernah, tetapi mensyukuri apa yang kita jalani setiap harinya, tentu akan membantu untuk meringankan langkah ke depannya. Bagi saya, refleksi diri adalah kunci kebahagiaan. Luangkan waktu beberapa menit setiap hari sebelum tidur untuk menuliskan apa yang kita syukuri di selembar kertas (atau kalau saya, menulis di aplikasi Android bernama Zest). Dan setiap kali kita merasa galau, lihat kembali daftar itu dan temukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang pernah kita lalui setiap harinya.

Dorong batas diri sendiri

Melunasi cicilan daripada yang kita pikir bisa kita lakukan, menabung lebih banyak dari yang kita perlukan, lupakan membeli barang yang masih sesuai dengan budget kita. Intinya, ini bukan untuk menyiksa diri kita sendiri, tetapi untuk mengingatkan diri kita bahwa penting untuk berlatih merasa tidak nyaman. Dorong batas diri sendiri dan hasilnya akan mengejutkan kita.

Hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah perhatian

Di era digital sekarang ini, fokus kita serba sekilas dan singkat. Kapan pun kita menghabiskan waktu dengan teman, pacar, atau anggota keluarga, coba hiraukan smartphone kita. Sebuah percakapan mendalam akan selalu membuat kedua belah pihak merasa lebih bahagia. Karena bagaimanapun juga, hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah waktu dimana kita mendengarkan serta memberikan perhatian.

Belajarlah dari orang-orang yang berbeda dari kita

Salah satu metode sederhana untuk belajar dari orang lain adalah dengan berinteraksi dengan orang-orang yang tidak mirip seperti kita di media sosial – dalam karir, kegiatan sosial, domisili, serta banyak hal lain. Kamu akan terkejut seperti apa yang bisa dipelajari setiap hari? dari mereka dengan hanya menggulirkan pertanyaan atau percakapan di Twitter atau di InstaStory kamu. Luangkan waktu misalkan di weekend untuk berinteraksi dengan mereka.

Ini adalah beberapa resolusi yang saya ingin jalani di tahun ini. Saya ingin memaksimalkan tahun 2018 untuk melihat ke depan, tidak mundur, dan satu hal yang sangat penting bagi diri saya sendiri adalah menulis lebih banyak. Lalu apa resolusi kamu di tahun baru ini? (*)

Gigi Tak Ngilu Lagi Dengan Sensodyne!

Akhir-akhir pola makan daku rada berantakan. Selain karena sering lembur di kantor, daku juga jadi gak memilih makanan selama ada yang bisa di makan, haha. Contohnya aja sarapan bisa beli susu kotak dan sandwich di salah satu convenient store di gedung kantor, lalu di siang hari makan soto dan beli beberapa camilan manis, dan menjelang malam bisa lebih random lagi. Mulai dari Thai ice tea sampai fast food bisa daku habiskan dengan lahap.

Intinya sih satu, daku gak boleh sampai sakit jadi kudu banyak makan, haha. Jadi ya wajar aja selama sebulan terakhir berat badan daku naik dua kilo *siap-siap daftar gym*. Cuma akhir-akhir ini daku rada terganggu ketika makan, bukan karena makanannya gak enak, tapi daku merasa nyeri atau ngilu setiap makan atau minum yang terlalu panas atau pun terlalu dingin. Rasa nyerinya kayak cinta bertepuk sebelah tangan *lebay*.

Daku pun secara penuh kesadaran diri mencoba untuk mengurangi makanan yang membuat gigi daku nyeri/ngilu. Sempet juga sih curhat ke sahabat daku yang kebetulan dokter gigi. Eh kalau dokter gigi gak mungkin kebetulan, ya? Hahaha. Jadi kata dia kemungkinan gigi daku sensitive. Ouch!

Nah dari daku baca-baca di referensi, gigi sensitif itu muncul kalau lapisan dentin di bawah email gigi terbuka. Jadi dengan kondisi kayak gitu kalau kita makan atau minuman yang dingin/panas/manis/asam atau saat menyikat gigi, akan menyebabkan saraf gigi terpicu menimbulkan rasa ngilu yang tajam dan cepat. Gigi sensitif itu jadi semacam alarm buat kita lho kalo struktur gigi sudah berubah jadi biar gak tambah parah tentunya kudu harus dirawat.

Selama ini daku sendiri sering beberapa kali ketemu temen yang punya gigi sensitif. Awalnya kirain drama aja *dijambak*, ternyata akhirnya daku merasakan sendiri. Untungnya, temen-temen daku menyarankan buat daku untuk pake Sensodyne. Secara daku gak mau nanggung-nanggung, daku pun beli Sensodyne Tooth Brush punya variasi sikat gigi yang didesain khusus untuk penderita gigi sensitif. Bulu sikatnya yang silky demi memaksimalkan effective cleaning pada daerah gigi yang nyelip sekalipun. Pokoknya enak banget buat gigi daku.

Tapi kan yah masa daku pake sikat giginya aja? Tentu saja daku juga beli Sensodyne Tooth Paste Gentle Whitening buat digunakan sehari-hari. Bahkan kadang daku sikat gigi di toilet kantor. Ini sih karena daku nyontoh temen-temen kantor dari Jepang yang pada rajin sikat gigi setiap abis makan, haha. Nah Sensodyne Tooth Paste Gentle Whitening ini memberikan perlindungan dari rasa ngilu pada gigi sensitif sekaligus mengembalikan warna putih alami pada gigi. Apalagi daku kan suka minum minuman berwarna termasuk teh atau kopi, jadi penting banget nih pake yang ada pemutihnya.

Nah setelah daku pake Sensodyne, sekarang buat makan dan minum apa aja jadi nyaman dan gak khawatir lagi. Apalagi cara kerja Sensodyne sangat cepat dimana daku merasa nyaman menggosok gigi, karena ternyata Sensodyne bekerja masuk ke dalam lapisan gigi. Menenangkan saraf dan membantu mengurangi rasa ngilu karena gigi sensitif. Jadinya, gigi dan kesehatan mulut terjaga, plus daku jadi lebih percaya diri. Apalagi tugas daku sebagai Public Relations ngewajibin untuk ketemu orang banyak.

Nah buat kamu yang punya pengalaman yang sama seperti daku? Ayo dong ikutan #ceritasensodyne contest! Ceritakan pengalaman dengan gigi sensitif kamu dan dapatkan grand prize berupa 2 iPhone 7 Plus & hadiah mingguan berupa jam tangan eksklusif!

Kamu juga bisa ngedapetin Sensodyne gratis, lho! Caranya langsung aja menuju link ini ya: http://www.clozette.co.id/ceritasensodyne(*)

dimas novriandi Proudly powered by WordPress
Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers