filosofi durian

Tuesday, November 6th, 2007

Sebaris SMS dari anak kos yang lagi mudik ke Lampung masuk ke HPku,

“Du… Du… Duren…. Duren… Nyam nyam…. Hehehe… Kagak ngaruh ya Dim?” sender Iqbal Kos.

Durian? Ya gak ngaruh lah! Ih… Aku merinding membayangkan membuka buah yang berbau aneh itu dengan penampilan fisik yang aku bilang gak banget, yaks! Kemudian terus kubayangkan seandainya harus mengambil buah-buah mengerikan itu dengan tangan terbuka (eh terbuka apa mengucup ya? Kosakata yang aneh, hihi). Buah yang lengket dan berwarna kuning itu lalu kumasukkan ke dalam mulut, dan… kemudian meleleh di lidahku. Tidaaakkkk!

Sebenarnya bukan aku saja yang tidak suka durian (lebih sering disebut duren dan punya nama ilmiah Durio zibethinu). Bahkan di antara beberapa teman yang sudah kutanya melalui survey kecil-kecilan, ada beberapa yang menolak mentah-mentah ketika kutawari makan durian.

Teman 1, “Makasih Dim, sudah kenyang, huwek!”

Teman 2, “Apa durian?! Amit-amit Dim, baunya aja udah bikin mual!”

Orang yang tiba-tiba nimbrung, “Penting ya makan durian? Dibayar aja gue ogah!” (dalam hati Dimas, “Siapa juga yang mau bayarin lu gitu?!”;)

Kalau dibuka fans club anti durian mungkin bisa lah untuk membentuk partai baru politik di Indonesia, dengan jumlah anggota lebih dari 5000 orang. Lalu partai itu akan diberi nama Partai Anti Durian, dengan Ketua Umum, Dimas Novriandi. Lambang partainya akan dibuat seperti tanda dilarang parkir, tapi huruf P besarnya diganti dengan gambar durian, hihi… Eh by the way, ada yang mau jadi sekretaris jendralnya nggak?

Sebenarnya sih sejak kecil aku sudah enggan menyentuh yang namanya buah durian, tapi sayangnya, aku tinggal satu rumah dengan keluarga “Pemuja No Wahid Durian, jaminan mutu.” 6 berbanding 1. Tidak adil. Unfair. Selamat datang dunia anak tiri.

Apalagi dengan papaku yang besar di kota Medan, ya ya ya…. oke deh bisa disebut Kota Durian, yang beberapa ruas jalan banyak menjual durian yang bisa dimakan sambil jongkok. Kadang ditambah dengan menu lemang (ketan putih yang berbentuk bulat lonjong) yang gosipnya akan menambah lezat saat-saat memakan durian. Untuk penggemar durian, jika berada di Medan, silahkan berucap dalam hati, selamat datang di surga dunia… Dan untuk kita yang bukan durianvora, silahkan ambil satu buah durian yang paling besar, dan jatuhkan dikepala masing-masing. Bukannya lebih baik pingsan daripada harus mencium aroma aneh itu?

Kota Jogja pun tak mau ketinggalan. Ingin makan durian? Silahkan menggelinding ke arah Jalan. Magelang, cari saja bangunan TVRI Jogja (itu lho yang ada tower tinggi banget), nah disepanjang trotoar depan stasiun TV negeri itu berjajar pedagang yang menjual aneka durian. Banyak sekali pembeli yang berbondong-bondong berminat untuk mencicipinya.

Yah itu lah buah durian. Tapi dibalik semua itu aku menangkap filosofi (*) yang unik dari durian. Seorang teman mengatakan,

“Tau gak Dim, durian itu aneh. Coba bandingin sama buah-buah lain, pasti ada yang bilang suka, bilang gak suka, atau bilang biasa-biasa aja. Tapi kalo buah durian nih, seperti ada garis tebal yang membatasi, langsung saja terbagi menjadi dua kelompok. Mereka yang CINTA durian, dan mereka yang BENCI durian. Jarang sekali ada garis tengah.”

WOW. Iya juga… Kenapa bisa seperti itu ya? Manusia bisa menjadi begitu TEGAS dan mudah untuk memilih diantara pilihan yang ada. Seandainya saja hidup bisa semudah itu, memilih dengan cepat untuk suka atau tidak akan sesuatu. Tidak ada lagi kebimbangan. Atau keraguan-raguan dalam memutuskan sesuatu yang kadang menjadi awal kekacauan. Seandainya saja wakil rakyat juga bisa dengan tegas CINTA dengan rakyatnya dan BENCI akan ketidakadilan, betapa makmurnya negara ini. Dan aku pun akan sungguh rela jika durian ditetapkan menjadi buah kebangsaan Indonesia. Hm… Jadi berpikir, apa aku harus buat Partai Cinta Durian aja? Mungkin saja politik negara ini bisa menjadi lebih baik, bukan begitu?

(*) Ada filosofi lain dari buah durian, kurang lebih seperti don’t judge a book by its cover, artinya walau dari luar durian itu berduri, tapi isinya begitu manis dan lembut. Kita tentunya juga bisa belajar banyak dari filosofi itu :)


2 Responses to “filosofi durian”

  1. nadvi says:

    ih mas…duren kan enak…..

    [Reply]

  2. naqib najah says:

    padahal aku baru saja buat cerpen masalah kelzatan durian. coba baca aja, semoga besok terbit di media massa.

    [Reply]

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco

 photo dimasrounded_zpsd55d0ae3.png


DIMAS NOVRIANDI
Just an Indonesia-based lifestyle blogger covering city life, style, travel, gadget, and menswear world. Wishing his day had more than 24 hours.
CONTACT ME
dimas.novriandi@gmail.com
CURRENT LOCATION
Jakarta, Indonesia

connect with me

SEARCH

ARCHIVES

CATEGORIES

Find Me on Google Plus

find me on Instagram

find me on Facebook

find me on Twitter


Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers