#Day16: Hari Yang Biasa

Ini hari yang biasa. Hari dimana aku terbangun di pagi hari, memikirkanmu. Hari dimana aku bergegas mencari hangatnya sinar mentari untuk mengganti pelukanmu. Hari dimana aku menyeduh secangkir kopi hangat untuk menggantikan genggamanmu. Iya, ini hari yang biasa. Hari dimana aku menghitung waktu demi waktu sambil bertanya-tanya kapan kita bertemu. Hari dimana aku mengeja huruf demi huruf

#Day8: Jatuh Cintalah Pada Pria Yang Menulis

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menerjemahkan pertemuan pertama dalam barisan kata-kata, pertemuan selanjutnya dalam sekumpulan prosa, dan seterusnya tanpa pernah ada titik henti. Karena ia akan terus menulis di dalam pikirannya, mimpi-mimpinya, dan namamu selalu menjadi kosa kata favorit dalam hidupnya. Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Terkadang ia hanya akan menomorduakanmu

#DearBangkok: satu alasan bahagia

Dear You, Pernahkah kamu membayangkan, ketika terbangun dari lelap di pagi hari, ada satu alasan untuk kita tersenyum? Cukup satu. Setiap hari. Mulai dari seorang bermata indah yang ada disisimu, secangkir kopi panas, atau pesan singkat muncul di layar genggaman, “Good morning, sunshine”. Satu alasan untuk bahagia – yang bisa menjadi penyejuk diantara satu, sepuluh,

Cerita Pendek: Another Love Story

Aku dan dia bersahabat. Melewati ribuan tenggelamnya matahari. Menjejaki ratusan ruang. Dan entah berapa puluh tetes air matanya yang telah tumpah di pundakku. Aku tetap di sini, saat ini. Memandang kedua kerling matanya yang indah. “Aku akan pergi….” Kutercekat dalam diam. Lidahku seperti tertusuk paku. Selidik mataku meyakinkan ucapannya yang membuat hatiku luruh. Tapi dia

Surat cinta terakhir untukmu, kekasihku

Untuk kekasihku, Cinta ini, yang selama kujaga dan kudekap hanya untukmu Tiba-tiba hilang seperti embun dihempas cahaya mentari… Entahlah, aku hanya merasakan hampa dan sepi Terus bersemi… Setiap kali aku menatap wajahmu, Aku bahkan enggan untuk sekadar berpaling memandang wajah dan semu di pipimu lagi. Hanya satu… Satu hal kesungguhan dan keyakinan yang ingin aku

temani aku di taman sari

Sinar matahari luruh meredup. Siang seperti hilang dibalik banjaran awan yang menghitam. Aku hanya bisa tercekat, berdiri di atas bangunan yang mulai terlihat rapuh. Menyebar pandangan ke setiap sudut, tersirat masa lalu yang tersia-sia, terhapus oleh waktu yang berpendar cepat. Tapi, kenapa aku disini? Demi sejarah? Sejarah siapa? Aku atau bangunan ini? Pertanyaan itu menggoda