Belajar Untuk Fokus

comments 8
mencintai hidup
12 Flares Twitter 9 Facebook 3 Filament.io 12 Flares ×

Hi, saya Dimas dan saat ini saya bekerja di salah satu digital agency terbesar di Indonesia. Jadi, terbayangkan paparan saya dengan teknologi hampir bisa dibilang 24 jam 7 hari. Setiap detik, setiap saat, dan setiap saya bangun pun saya bergegas periksa timeline Path, Twitter, sampai email dari kantor. Ya, segitunya saya mengomsumsi teknologi dalam keseharian. Terkadang saya merasa hidup di dunia yang bising dengan visual tulisan, gambar, suara, tetapi semua menjadi adiksi. Apabila sehari saja tidak akses rasanya menjadi ada yang kurang…

 

Ketika saya membaca tulisan dari Mas Adjie di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” permasalahan pertama saya adalah saya memiliki “Monkey Mind” dimana pikiran saya bisa loncat sesuka hati dalam satu waktu. Seperti monyet yang berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Istilah kerennya sih ‘multitasking’. Pikiran saya yang serba berloncatan ini pun ‘terlatih’ ketika dulu saya masih menjadi penyiar radio. Saya berlatih di mana tangan pegang mixer, telinga mendengarkan lagu, otak berpikir akan hal yang akan saya sampaikan di depan mic, dan mata mengawasi layar komputer. Satu waktu melakukan banyak hal dan ternyata tidak selamanya hal itu menjadi hal yang positif.

Kembali ke dunia yang penuh dengan teknologi, sekarang saya memang sering menjadi multitasking ketika bekerja. Tangan menyusun presentasi tetapi sesekali saya terlalu ‘gatal’ untuk cek update Path di gadget, periksa email di tab lain, atau sekedar membaca berita terbaru di halaman berita online. Sulit sekali rasanya fokus. Waktu mengerjakan presentasi yang harusnya satu jam bisa selesai, ternyata akhirnya mundur berjam-jam kemudian. Terkadang merasa kesal dengan diri sendiri.

Di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” saya belajar ternyata banyak sekali manfaat kita untuk melatih fokus dan ‘away’ beberapa saat dari internet. Misalkan saja waktu kita untuk membaca buku akan semakin banyak dan saya sangat percaya dengan hal satu ini. Bisa dibilang di kamar saya, hampir ada puluhan buku yang ‘belum sempat’ saya baca, bahkan beberapa masih dalam bungkus plastik. Kalau dibilang saya tak sempat membaca karena tidak ada waktu, rasanya tidak juga. Karena setiap pulang kerja dan setelah saya membersihkan diri, saya pasti akan kembali ke gadget, menulusuri timeline dan menonton video di YouTube lalu menghabiskan waktu berjam-jam dengan percuma. Hampir setiap hari. Seadainya saja saya bisa fokus dan menjedakan diri dari teknologi, saya yakin bisa membaca buku setiap hari dan semakin banyak ilmu yang saya dapatkan.

Kemudian di buku yang sangat memberikan pencerahan untuk saya ini, saya juga belajar bagaimana sih caranya supaya tidak selalu terhubung dengan internet? Salah satunya adalah tinggalkan gadget atau matikan.

Kalau tinggalkan gadget mungkin buat saya seperti kehilangan setengah nyawa ya, haha. Tetapi untuk mematikan gadget memang terkadang saya lakukan. Misalkan saja ketika sedang nonton film di bioskop, saya pasti akan mematikan gadget dan fokus ke layar. Dipikir-pikir, kita bisa melakukan itu juga ketika kita bekerja. Untuk fokus terkadang perlu untuk bersendiri serta terputus dari dunia luar. Selain itu, bersama sahabat-sahabat saya, kami juga punya kebiasaan ketika sedang nongkrong bersama, kami akan menumpuk semua gadget di satu tempat dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sampai kami selesai saling bertukar cerita. Rasanya sangat menyenangkan dimana kita fokus dengan cerita teman kita, tertawa tanpa ada jeda melihat gadget, dan waktu berasa lebih berarti.

In the end bagi saya sebenarnya teknologi banyak menolong saya untuk terhubung dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman – serta tentunya dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan keseharian, kita harus bisa menjaga agar teknologi tidak menginterupsi bahkan sampai menganggu kehidupan kita dalam keseharian. Melatih fokus dalam hal-hal yang menjadi prioritas serta kita harus bisa menempatkan teknologi sebagai tujuan awalnya untuk memudahkan aktivitas manusia – bukan mendistraksi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi buat kamu yang ingin tahu lebih banyak bagaimana kita bisa belajar fokus dan menemukan tips yang bermanfaat dari buku “Sadar Penuh Hadir Utuh”, buku Adjie Silarus ini baru akan terbit 24 Maret 2015 tetapi kamu bisa dapatkan lebih dulu dengan melakukan pre order dari tanggal 2-11 Maret 2015 pada link ini. Selain itu akan ada 20 tiket kelas “Sadar Penuh” untuk pembeli PO yang beruntung, lho. Yuk kita belajar fokus! (*)

The Author

An Indonesia-based lifestyle blogger covering city life, style, travel, gadget, book and menswear world.

8 Comments

  1. jadi tertarik untuk PO bukunya, karena saya pun merasakan hal yang sama. Nyebutnya sih ‘multitasking’ tapi ternyata emang ga selamanya positif ya. Pikiran gampang loncat kemana-mana, sehingga yang harusnya menjadi prioritas malah terlewati

    [Reply]

  2. Terhubung dengan Internet sudah terlanjur terjadi. Ada kebutuhan-kebutuhan tersendiri yang nyaris tidak bisa dilepaskan dari Internet. Saya sendiri juga ada beberapa buku yang belum dibuka dari plastiknya karena lebih seru cek YouTube atau sekedar baca-baca artikel di Internet. Hahaha.

    Hmm, soal multitasking, paling pagi-pagi terkadang cek hape sambil nongkrong. :twisted:

    [Reply]

  3. Hai mas dimas.
    Saya juga lagi baca buku Adjie Silarus, tp yg judulnya “Sejenak Hening”. Selesai baca buku ini nampaknya saya akan langsung baca buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” ini. Thanks for your recomendation.

    Saya baru tau ada istilah Monkey Mind. I am totally Monkey Mind
    Oiya baru aja kemarin saya nulis di blog saya tentang fokus :).
    Saya iseng2 coba nulis tips biar fokus:
    http://venessaliveinvenus.blogspot.com/2015/05/ada-apa-dengan-fokus-aadf.html

    Thanks,
    Venessa

    [Reply]

    Dimas Novriandi Reply:

    Sama-sama, Vanessa! Terima kasih untuk tipsnya juga, ya! :D

    [Reply]

  4. Kucari says

    Memang sangat susah untuk Fokus, kadang kita tergoda dengan pilihan-pilihan yang lebih baik

    [Reply]

    Dimas Novriandi Reply:

    Betul, selalu ada pilihan baru dalam hidup dan fokus akan menjadi tantangan tersendiri.

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco