kelam

Terima kasih telah melupakanku. Tapi tolong, jangan pernah biarkan aku menjadi luka yang enggan mengering, menusuk dalam, tertinggal pekat. Lalu membusuk dan luruh. Lupakanlah dilema itu, yang menggerus hatimu menjadi serpihan perih. Terbang sangat diantara dentingan malam, berhembus kejam. Cintaku, pergilah bersama kelam. Simpan semua tangisan lemah itu, meleleh hancur. Dan aku, menjadi kosong, lelah,

kenapa harus aku?

“Iman! Kenapa harus aku sih yang jadi interpreternya representative UNSW?! Lu kan tau English ku lagi cacat-cacatnya?” Rasanya ingin menangis. Aku gak PD. Sudah lama tak berkomunikasi dengan bahasa asing itu. Membayangkan orang-orang mengantri ke meja konsultasi UNSW (University of New South Wales – Australia), dengan 2 representative bule di kanan-kiriku, dan aku harus menterjemahkan

doa untuk sahabat

Suatu hari, seorang teman menceritakan kesedihannya yang mendalam, tak ada kata-kata yang keluar dapat keluar dari bibir… tapi kupersembahkan untuknya jalinan doa yang kutuliskan di salah satu blog-ku yang sudah lusuh. Sekedar untuk awal blog di Friendster yang sebenarnya enggan untuk dimulai, tapi tak ada salahnya untuk diawali. Doa ini kupersembahkan untuk kamu, diujung sana,