Belajar Untuk Fokus

Friday, February 27th, 2015

Hi, saya Dimas dan saat ini saya bekerja di salah satu digital agency terbesar di Indonesia. Jadi, terbayangkan paparan saya dengan teknologi hampir bisa dibilang 24 jam 7 hari. Setiap detik, setiap saat, dan setiap saya bangun pun saya bergegas periksa timeline Path, Twitter, sampai email dari kantor. Ya, segitunya saya mengomsumsi teknologi dalam keseharian. Terkadang saya merasa hidup di dunia yang bising dengan visual tulisan, gambar, suara, tetapi semua menjadi adiksi. Apabila sehari saja tidak akses rasanya menjadi ada yang kurang…

 

Ketika saya membaca tulisan dari Mas Adjie di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” permasalahan pertama saya adalah saya memiliki “Monkey Mind” dimana pikiran saya bisa loncat sesuka hati dalam satu waktu. Seperti monyet yang berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Istilah kerennya sih ‘multitasking’. Pikiran saya yang serba berloncatan ini pun ‘terlatih’ ketika dulu saya masih menjadi penyiar radio. Saya berlatih di mana tangan pegang mixer, telinga mendengarkan lagu, otak berpikir akan hal yang akan saya sampaikan di depan mic, dan mata mengawasi layar komputer. Satu waktu melakukan banyak hal dan ternyata tidak selamanya hal itu menjadi hal yang positif.

Kembali ke dunia yang penuh dengan teknologi, sekarang saya memang sering menjadi multitasking ketika bekerja. Tangan menyusun presentasi tetapi sesekali saya terlalu ‘gatal’ untuk cek update Path di gadget, periksa email di tab lain, atau sekedar membaca berita terbaru di halaman berita online. Sulit sekali rasanya fokus. Waktu mengerjakan presentasi yang harusnya satu jam bisa selesai, ternyata akhirnya mundur berjam-jam kemudian. Terkadang merasa kesal dengan diri sendiri.

Di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” saya belajar ternyata banyak sekali manfaat kita untuk melatih fokus dan ‘away’ beberapa saat dari internet. Misalkan saja waktu kita untuk membaca buku akan semakin banyak dan saya sangat percaya dengan hal satu ini. Bisa dibilang di kamar saya, hampir ada puluhan buku yang ‘belum sempat’ saya baca, bahkan beberapa masih dalam bungkus plastik. Kalau dibilang saya tak sempat membaca karena tidak ada waktu, rasanya tidak juga. Karena setiap pulang kerja dan setelah saya membersihkan diri, saya pasti akan kembali ke gadget, menulusuri timeline dan menonton video di YouTube lalu menghabiskan waktu berjam-jam dengan percuma. Hampir setiap hari. Seadainya saja saya bisa fokus dan menjedakan diri dari teknologi, saya yakin bisa membaca buku setiap hari dan semakin banyak ilmu yang saya dapatkan.

Kemudian di buku yang sangat memberikan pencerahan untuk saya ini, saya juga belajar bagaimana sih caranya supaya tidak selalu terhubung dengan internet? Salah satunya adalah tinggalkan gadget atau matikan.

Kalau tinggalkan gadget mungkin buat saya seperti kehilangan setengah nyawa ya, haha. Tetapi untuk mematikan gadget memang terkadang saya lakukan. Misalkan saja ketika sedang nonton film di bioskop, saya pasti akan mematikan gadget dan fokus ke layar. Dipikir-pikir, kita bisa melakukan itu juga ketika kita bekerja. Untuk fokus terkadang perlu untuk bersendiri serta terputus dari dunia luar. Selain itu, bersama sahabat-sahabat saya, kami juga punya kebiasaan ketika sedang nongkrong bersama, kami akan menumpuk semua gadget di satu tempat dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sampai kami selesai saling bertukar cerita. Rasanya sangat menyenangkan dimana kita fokus dengan cerita teman kita, tertawa tanpa ada jeda melihat gadget, dan waktu berasa lebih berarti.

In the end bagi saya sebenarnya teknologi banyak menolong saya untuk terhubung dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman – serta tentunya dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan keseharian, kita harus bisa menjaga agar teknologi tidak menginterupsi bahkan sampai menganggu kehidupan kita dalam keseharian. Melatih fokus dalam hal-hal yang menjadi prioritas serta kita harus bisa menempatkan teknologi sebagai tujuan awalnya untuk memudahkan aktivitas manusia – bukan mendistraksi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi buat kamu yang ingin tahu lebih banyak bagaimana kita bisa belajar fokus dan menemukan tips yang bermanfaat dari buku “Sadar Penuh Hadir Utuh”, buku Adjie Silarus ini baru akan terbit 24 Maret 2015 tetapi kamu bisa dapatkan lebih dulu dengan melakukan pre order dari tanggal 2-11 Maret 2015 pada link ini. Selain itu akan ada 20 tiket kelas “Sadar Penuh” untuk pembeli PO yang beruntung, lho. Yuk kita belajar fokus! (*)



Hei! Ini Smartphone Terbaik dari Huawei!

Monday, February 23rd, 2015

Saya sangat suka membaca buku sejak dulu. Bahkan sampai sekarang hampir setiap hari saya selalu membawa satu buku sekedar untuk berjaga-jaga ketika macet atau menunggu sesuatu, saya bisa menyelesaikan membaca buku yang saya bawa.

Tetapi semakin hari rasanya ribet juga bawa buku di dalam tas saya yang padatnya kayak mal lagi midnight sale. Buku ini akan berebutan tempat dengan laptop, semua charger, sampai kamera (iya, saya hampir setiap hari bawa kamera) di dalam tas saya. Kebayang kan kalau saya traveling? Betapa semakin ribetnya barang bawaan saya.

Sempat berfikir untuk membawa tablet yang tentunya lebih multi fungsi. Bisa buat cek email, baca artikel seru di BuzzFeed, sampai baca buku. Iya, baca buku online. Tetapi setelah ditimang-timang, rasanya tetap berat untuk dibawa-bawa. Kalau baca buku pake gadget yang sehari-hari saya pakai, kok ya rasanya kurang mantap untuk baca artikel panjang atau novel. Karena memang dasarnya daku kepo, daku mulai browsing-browsing gadget yang gak malu-maluin buat dipake, mumpuni, harga kompetitif, plus satu lagi, enak buat akses bacaan di gadget. Setelah baca review sana-sini dan menimbang-nimbang, akhirnya pilihan daku untuk mencari phablet.

Hayo ada yang tahu phablet, tak? Phablet itu istilah baru perpaduan smartphone dan tablet. Artinya dengan kenyamanan maksimal ala smartphone dengan tampilan layar yang gak kalah sama tablet. Saat ini, phablet yang menurut saya paling hits dan cocok dengan kebutuhan saya jatuh ke Huawei Ascend Mate 7. Tahu Huawei, dong?

Huawei Ascend Mate7
 

Huawei tidak hanya menjual modem atau ponsel bundling, tetapi juga produksi smartpone yang berlayar lebar (6 inci) dengan prosesor yang mumpuni! Buat saya, layarnya yang berpenampang luas sangat membantu untuk membaca, membalas email, atau pun review kerjaan. Selain itu yang paling penting buat kita para komuter ibu kota tentunya adalah kemampuan daya tahan baterenya, karena menurut saya ukuran baterainya masih terbesar di kelasnya. Mudahnya buat saya, smarphone ini awet saya gunakan untuk berbagai aktivitas dan mampu bertahan hampir 2 hari penuh. Jadi kebingungan harus bawa power bank kemana-mana bisa dikurangi, deh.

Satu hal lagi, setelah pakai Huawei Ascend Mate 7 ini seperti mematahkan mitos bahwa kualitas barang produksi dari China hanya sekadarnya. Tetapi bagi Huawei, produk flagship ini menurut saya fiturnya paling unggul: mulai dari bodinya yang dibungkus logam, baterainya menggunakan 4.100 mAh lithium polymer yang lagi-lagi terbesar di kelasnya, dan ketika isi ulang baterai lebih cepat dibandingkan smartphone lainnya.

Nah untuk yang suka foto pun, smartphone ini juga mumpuni dengan kamera depan 8MP CMOS dan kamera utama 13MP CMOS. Satu hal lainnya yang seru adalah suaranya yang jernih, baik didengar secara langsung atau pun kalau kita pakai headphone. Jadi saya bisa bilang totalitas Huawei untuk produksi ini tidak tanggung-tanggung.

Jadi kalau kamu mencari gadget android berkualitas premium dengan harga yang tidak membuat kantong menjerit, kamu harus mempertimbangan Huawei Ascend Mate 7, deh. (*)



#Day24: Mencari Teman Dimana Saja

Saturday, January 24th, 2015

 

Siapa yang setuju dengan kutipan di atas? Menurut saya mendapatkan teman yang bisa kita anggap sebagai teman sejati terkadang sulit untuk ditemukan. Terkadang pertemanan bisa berjalan dengan mulus – tetapi pasti akan selalu ada rintangan dan kejutan di setiap tikungan perjalanan hidup kita.

Memang, tak semua orang dapat menemukan teman baik dengan mudah. Bahkan terkadang kita dapat menemukan teman pada saat keadaan yang tak disangka-sangka. Sesimpel misalkan ketika saya masih fresh graduate dimana saya sering ikut tes kerja di beberapa perusahaan. Berawal dari antre bareng, tes bareng sampai tahap tertentu, dan akhirnya menjadi teman baik sampai sekarang. Tak terbayangkan padahal sudah berlalu kurang lebih 10 tahun yang lalu, haha.

Saya sungguh merasa beruntung selalu dikelilingi oleh teman-teman baik, tetapi saya menyadari dengan semakin bertambahnya umur, kesibukan pun bertambah juga hingga semakin sulit untuk dapat bertemu dengan teman-teman. Tapi saya percaya, teman itu tidaklah harus bertemu setiap hari, tetapi bisa meluangkan waktu untuk memiliki quality time ketika bertemu, walaupun itu hanya sebulan sekali.

 

Nah saya ada rekomendasi menarik nih supaya kamu juga bisa mendapatkan teman yang seru tanpa harus kopi darat, tentunya dengan cara online yang menyenangkan yaitu dengan install aplikasi Yogrt. Yogrt adalah aplikasi pencari teman berdasarkan lokasi terdekat. Kamu bisa mencari teman berdasarkan jenis kelamin dan umur yang kamu inginkan dengan fitur filter yang ada. Untuk berkenalan, kamu bisa mengajak mereka bermain game. Gamenya ada macam-macam, mulai dari Match 7 yang mencoba kecocokan satu sama lain hingga game iseng-iseng seperti Color Blind, Memory, sampai dengan Beat Pinguin. Seru banget, kan?

Nah, dalam rangka merayakan user ke 100.000, Yogrt mengadakan game seru #ChopChop yang hadiahnya gak main-main! Mulai dari Mini GoPro, Samsung GALAXY S5, sampai dengan iPhone 6! Selain itu juga ada hadiah voucher belanja dari Blibli.com untuk para pemenang peringkan 2 -1 0 dan para pemenang harian. Seru banget. Bahkan si @chikastuff sempat ngasih tahu kalau dia menang voucher belanja karena main game #ChopChop ini.

Saat ini aplikasi Yogrt baru bisa digunakan untuk Android. Kalau mau download, kamu bisa ke sini http://bit.ly/17Hi61Y. Saya juga udah download di gadget android saya, seru!

Untuk keterangan lengkapnya kamu bisa follow saja Twitter @YogrtID atau Likes Facebook Fanpage Yogrt. Pengumuman harian juga diumumin di Twitternya, jadi jangan sampai kelewatan! Selamat bermain dan mencari teman, yaaaa…. (*)



#Day19: Terbang Lebih Tinggi

Monday, January 19th, 2015

 

“Kamu tak ingin terbang lebih tinggi?,” tanyamu.

“Tidak. Aku merasa cukup, tak kurang tak lebih. Tak ada lagi yang aku cari,” jawabku singkat.

“Tapi… Kenapa kamu tak mencoba kepakkan sayap dan rasakan dunia yang berbeda? Kamu akan melihat hamparan pemandangan baru dan tak perlu lagi sembunyi dibalik sekumpulan awan biru”.

Aku menengadah dan menatapnya erat. “Kamu. Kamu alasanku untuk tak ingin terbang lebih tinggi. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia apabila aku hanya dapat melihatmu dari langit?”

“Kamu bisa menitipkan pesan kepada angin atau kamu juga bisa menyisipkan rindu di dalam setiap tetesan hujan. Aku akan menyimpannya dan mengumpulkannya sampai kamu pulang”. Ujarmu dengan mata berbinar dan jemari tanganmu mengenggam erat tanganku.

Aku terdiam, menatapnya pelan, melepaskan gengamannya, lalu terbang ke angkasa. Dan aku pun terbang lebih tinggi. Kulihat bayangannya semakin mengecil lalu menghilang.

Saat itu… menjadi saat terakhir kali aku melihatnya. Di antara tetesan hujan yang luruh dengan derasnya. (*)



 photo dimasrounded_zpsd55d0ae3.png


DIMAS NOVRIANDI
Just an Indonesia-based lifestyle blogger covering city life, style, travel, gadget, and menswear world. Wishing his day had more than 24 hours.
CONTACT ME
[email protected]
CURRENT LOCATION
Jakarta, Indonesia

SEARCH

ARCHIVES

CATEGORIES

Find Me on Google Plus

find me on Instagram

find me on Facebook

find me on Twitter

find me on Pinterest

find me on Bloglovin

meet up with us

http://kopdarjakarta.com