Liburan Seru ke Lombok & Gili Trawangan

Wednesday, July 22nd, 2015

Pantai atau gunung? Pertanyaan yang tidak sulit untuk saya jawab. Di mata saya pasti langsung terhampar pemandangan langit biru, pasir putih, dan deburan ombak. Saya merasa sungguh beruntung sempat tumbuh dan menjalani masa kecil di sebuah pulau terpencil di utara Indonesia. Setiap pulang sekolah, saya langsung bergegas menyelesaikan makan siang, bersegera mengambil sepeda kecil saya, lalu berkumpul dengan teman-teman sepermainan lalu bermain air di pinggir pantai. Setiap hari. Hari itu kami bisa bermain dengan kerang, keesokan harinya menatap takjub tanaman kantong semar yang tumbuh di karang pantai, dan kami akan selalu menemukan hal menarik untuk dibicarakan. Setiap hari adalah petualangan.

Petualangan dalam hidup sejatinya tak akan pernah berhenti. Bedanya sekarang, petualangan saya di antara gedung bertingkat, suara klakson bersahutan, dan dering telepon di meja kantor. Tetapi di sela waktu, saya selalu merindukan pantai, sekedar ingin menikmati waktu yang berjalan pelan sampai menatap matahari terbenam. Sayangnya, saya tidak punya kemewahan berlibur dengan waktu yang cukup panjang, walau saya sangat ingin bisa mengeksplorasi Indonesia lebih jauh. Salah satunya saya sangat ingin berlibur ke Pulau Gili Trawangan di Nusa Tenggara Barat. Saya sering mendengar keindahan pantainya dan kebersihan udaranya karena memang tidak ada satu pun kendaraan bermotor di daratan Pulau Gili Trawangan.

Hingga beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan dengan beberapa blogger yang juga teman baik saya – Mbak Ainun, Mas Abe, Pakde Ndorokakung, Imam, Iphan, dan Alle atas undangan dari Mbak Dewi Shintawati, Regional Public Relations Manager, Bali & Lombok, Archipelago International. Kami pun menggunakan pesawat yang sama menuju Lombok dengan excited karena ini pengalaman pertama kami semua berjalan-jalan bersama ke luar kota.

 

Selfie bareng Mamski, Iphan, Mbak Ai, dan Alle

Ketika tiba di Lombok dengan perut mulai bergejolak karena kami belum sempat sarapan – kami berangkat pesawat pertama jadi sangat pagi – kami langsung diajak menikmati makanan wajib di Lombok yaitu Nasi Balap Puyung Rumah Makan Cahaya. Tentu saja terasa sangat nikmat dan berasa penasaran dengan semua sajian yang ada. Saya yang pecinta makanan pedas tak melewatkan plencing kangkung dan suguhan lainnya.

Setelah kenyang, kami langsung menuju ke Desa Sukarara yang merupakan pusat kerajinan tenun tradisional atau songket. Uniknya, sebagian besar perempuan yang ada di Desa Sukarara ini bekerja sebagai penenun. Mereka belajar sejak kecil dan belum boleh menikah jika belum menguasai ilmu menenun. Pemandangan perempuan menenun pun bisa kita lihat hampir di setiap rumah yang ada. Selama di sana, mata saya tertuju pada hamparan kain tenun yang coraknya sangat berwarna-warni dan cantik! Sesungguhnya saya sedikit menyesal karena tidak sempat meminang salah satu kain yang ada. Lain kali wajib banget untuk beli!

 

Selanjutnya kami menuju Kampung Adat Sade, dimana kampung ini masih didiami oleh suku asli Sasak dengan suasana yang sangat otentik. Bagi saya yang paling menarik adalah arsitektur bangunan rumahnya masih dipertahankan dengan sangat baik. Bahkan untuk mengepel lantai yang dari tanah, mereka masih menggunakan cara lama yaitu dengan menggunakan kotoran sapi. Unik, bukan? Saya sungguh menikmati suasana rumah adat yang masih dipertahankan sehingga saya merasa menjadi bagian dari masyarakat ini dan meloncat ke puluhan tahun yang lalu…

 

Setelah kami menikmati suasana dan cerita yang menarik di Kampung Adat Sade, kami pun langsung meluncur menuju pantai, yay! Tujuan kami kali ini adalah Pantai Kuta – Tanjung Aan yang cantik dan tidak terlalu ramai – yang tentunya menjadi nilai tambah bagi saya yang tidak begitu suka suasana ramai, haha. Terletak di Selatan Pulau Lombok, pantai ini ternyata berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Bagi yang gemar foto-foto, banyak spot menarik yang bisa diabadikan di pantai ini. Sungguh beruntung saya kali ini traveling dengan teman-teman blogger yang demen foto-foto, haha. O, iya kalau kalian berencana berlibur ke Lombok, jangan lupa untuk selalu membawa topi, sun block, kacamata hitam, dan baju kaos ganti supaya kamu nyaman selama perjalanan.

 

Nah the best part dari perjalanan ini adalah kami berkesempatan untuk beristirahat di smart hotel favehotels Langko, Lombok. Hotel ini merupakan hotel satu-satunya yang berada tepat di tengah kota, bahkan seberangnya langsung ada supermarket cukup besar dan coffee shop di sebelahnya. Hal yang sangat membekas bagi saya adalah pelayanannya yang sangat prima dan ramah. Kebetulan waktu itu saya ketinggalan card reader kamera saya di salah satu restoran sebelum kami menuju hotel, teman-teman favehotels Langko pun dengan sigap menelpon restorannya dan mengantarkan saya langsung menuju restoran tersebut. Akhirnya saya berhasil menyelamatkan card reader saya (dan tidak ada satu pun karyawan yang mau dikasih tip karena membantu saya!). Selain itu, saya sangat menikmati tinggal di favehotels yang kamarnya sangat nyaman serta breakfastnya yang enak, haha. Pasti kalau saya ke Lombok lagi tak akan melewatkan untuk tinggal di hotel ini. Recommended.

 

Akhirnya saat yang dinanti-nantikan tiba! Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan, YAY! Saya sungguh tak sabar untuk lekas sampai dan berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda –just like my old days. Perjalanan dengan speed boat sendiri hanya memakan waktu sekitar 10 menit dan ketika sukses berlabuh, kami langsung menuju ASTON Sunset Beach Resort menggunakan sepeda yang telah disewa. Kami pun bereputan mengambil sepeda dan tak sabar untuk segera menggenjotnya sambil ditemani angin laut yang semilir.

Karena keterbatasan transportasi, jadi memang tak disarankan untuk bawa koper segede kulkas seperti saya, haha. Jadi buat kita yang membawa koper cukup besar atau pun tidak bisa naik sepeda sebenarnya tidak perlu khawatir, karena ada pilihan transportasi cidomo yaitu alat transportasi local yang ditarik oleh seekor kuda, beroda 2 seperti dokar, tapi rodanya menggunakan ban mobil. Penasaran pengen coba naik, kan?

 

Walau lokasi hotelnya lumayan jauh dari dermaga kedatangan karena letaknya di kawasan matahari terbenam, sedangkan dermaga kedatangan di bagian matahari terbit, tetapi perjalanan dengan sepeda selama 30 menit tak berasa karena disuguhi pemandangan yang super apik. Pasir putih, pantai yang bening, dan langit yang biru. Apalagi yang bisa saya minta?

 

Beruntungnya ketika kami sampai di hotel ASTON, kami mendapatkan informasi kalau malam itu bertepatan dengan Party by The Beach di restoran milik ASTON yang berada tepat di pinggir pantai. Berkonsep night market, sejak sore berbagai booth makanan telah dibuka dengan makanan yang sangat beragam seperti jagung bakar, nasi campur, bakso dan makanan lain yang serba enak serta murah! Apalagi disuguhi dengan band reggae yang sangat komunikatif serta DJ Echa yang didatangkan langsung dari Sky Garden Bali. Semakin malam semakin seru!

 

photo by @aralle

O iya, hotel ASTON Sunset Beach Resort ini sangat nyaman buat berliburan bersama teman atau pun dengan keluarga. Selain kamarnya cukup luas dengan kamar mandi yang luas juga, rasanya pengen berlama-lama di dalam kamar – di kamar mandi juga sih, haha. Selain itu walau saya tidak bisa berenang, saya menyempatkan untuk menikmati bermain air di kolam renangnya yang nyaman bareng temen-temen lainnya. O iya, walau kamar mereka cukup banyak sekitar 100 lebih kamar, tetapi suasananya sangat tenang dan nyaman. Tanpa disangka juga, ketika saya bermain di pinggir pantai, saya bertemu dengan teman baik saya ketika SMA yang bermalam bersama keluarganya di hotel yang sama. Senang!

 

Selama di sana, kami juga sempat mencoba merasakan snorkeling lho, guys! Kalau kamu tidak bisa berenang seperti saya, jangan khawatir, karena ada pendamping dan pelampung yang akan menjaga kamu. Kami pun ramai-ramai menuju Gili Meno dan melihat pemandangan bawah laut yang menakjubkan dan tenangnya air laut yang jernih. Walau saya tidak berani berenang cukup jauh, tetapi rasanya sangat puas melihat ikan-ikan cantik berenang kesana-kemari.

 

Hal lain yang wajib kamu lakukan di Gili Trawangan adalah eksplorasi! Beruntungnya saya bepergian dengan Iphan yang sama-sama hobi keliling naik sepeda dan mencari spot foto yang seru, haha. Kami pun banyak mengeksplor hotel serta beberapa toko dan kafe lalu saling foto bergantian, seru banget!

 

Bagi saya liburan kemarin itu sangat memorable dengan pelayanan hotel dari Aston Sunset Beach Resort serta favehotels Langko yang fasilitasnya cakep banget, apalagi ditemani dengan teman-teman yang menyenangkan! Jadi, kalau kamu belum pernah ke Lombok dan Gili Trawangan, menurut saya destinasi ini bisa menjadi pilihan utama jalan-jalan bersama keluarga atau sahabat-sahabat kamu, tentunya selain ke Pulau Bali atau Bangka Belitung yang semakin mainstream. Nah, kamu sendiri kapan terakhir jalan-jalan ke pantai? (*)



Mesin Kopi Dolce Gusto, Miliki Coffee Shop Pribadi

Friday, April 17th, 2015

Sejak bekerja di dunia digital advertising agency saya punya sahabat. Bukan sosok yang bisa diajak bicara, tetapi selalu siap menemani setiap hari. Di ruang meeting, di balkon sambil menikmati sore hari, sampai menyesapnya di antara tawa bersama teman-teman kantor. Ya, ia adalah secangkir kopi, haha. Kopi selalu menjadi sahabat yang menyenangkan bagi saya, makanya saya selalu gembira ketika ada jadwal meeting di salah satu kantor klien saya yang menyediakan kopi enak gratis dari mesin kopi Nescafe Dolce Gusto dengan bentuknya yang elegan serta modern.

Akhirnya Beli Mesin Kopi Dolce Gusto

Karena pada dasarnya merasa perlu dan pengen bisa ngopi enak kapan pun di kantor, maka saya memutuskan untuk membeli mesin kopi Dolce Gusto pada minggu lalu dan meletakkannya di meja kantor! Yay! Salah satu keuntungannya memiliki ruang kerja sendiri adalah saya bisa meletakkan Coffee Maker Nescafe ini di meja kerja dan karena pada dasarnya desain Dolce Gusto ini udah cakep, malah bisa jadi dekorasi tambahan ruangan yang keren!

Anyway, karena semangat untuk nyoba bikin kopi ala barista, saya dan beberapa temen kantor pun mulai otak-atik mesin kopi ini dan rebutan memilih kapsul Dolce Gusto yang bisa menghasilkan minuman kopi, teh atau coklat dalam waktu kurang dari satu menit, dengan berbagai pilihan rasa, seperti Cappuccino, Espresso Intenso, Grande Intenso, Mocha atau Nestea. Lalu saya memilih rasa Mocha, masukan kapsul ke dalam alat, proses, dan voila! Berhasil! Ternyata mudah dan tak seribet yang saya bayangkan sebelumnya.

Serunya adalah sekarang membuat kopi menjadi semakin cepat dengan kualitas yang tinggi, plus untuk saya yang suka tiba-tiba ada panggilan meeting di ruangan lain, saya tak perlu khawatir kalau bakalan boros energi karena mesin kopi ini dilengkapi dengan Eco Mode System yang membuatnya hemat energi karena akan otomatis mati bila 5 menit tidak digunakan. Seru, kan?

Buat saya, kelebihannya yang bisa dirasakan adalah dengan NESCAFE Dolce Gusto bisa memberi pengalaman baru menikmati minuman bergaya coffee shop di kantor atau coffee shop experience at office. Haha beneran, deh! Bahkan saya jadi berpikir untuk punya satu mesin kopi yang sama untuk digunakan di rumah.

Nah, untuk kamu yang ingin mendapatkan mesin kopi keren ini jangan lupa datang ke 2nd Anniversary Nescafe Dulco Gusto dimana ada promo yang menarik buat kita *langsung cek dompet*

 

Beli Varian Kapsul Dolce Gusto

Nah, kekurangannya dari mesin Dolce Gusto ini apa, Dim? Hm, buat daku beli kapsulnya sih yang rada bingung harus dimana. Akhirnya karena ada request dari temen kantor untuk menyediakan pilihan kapsul yang gak kopi banget, saya pun hunting kapsul Dolce Gusto melalui online. Ternyata ada banyak lho dijual di beberapa e-commerce tetapi juga tersedia di beberapa mal di Jakarta. Setelah menimbang jarak, saya pun meluncur ke Senayan City dan mampir ke Best Denki lalu beli kapsul dengan varian Milo dan Green Tea Latte! Kaget juga ternyata ada rasa Milo, rasanya pengen langsung peluk gerainya, haha.

Ah, yang pasti saya puas banget dengan mesin kopi ini dan semoga review Dolce Gusto ini berguna buat kamu yang pengen punya mesin kopi modern dan membuat kamu bisa menjadi barista kapan pun! (*)



Pasangan Mantap untuk Gadget Kamu

Thursday, April 2nd, 2015

“Selain toko buku, paling gak tahan kalau udah lihat gadget dan aksesorisnya,” jawab saya singkat ketika teman saya menanyakan apa yang paling membuat saya betah berlama-lama di mall. Terus terang saya sangat mudah tergoda dengan gadget dan terutama aksesorisnya, walau hubungannya seperti love and hate relationship. Saya selalu ‘gatal’ untuk membungkus gadget saya dengan pelindung atau casing supaya lebih nyaman digenggam dan terlindungi dengan baik.

Bahkan beberapa bulan yang lalu ketika saya liburan di Bangkok, saya menyempatkan untuk mampir di toko aksesoris gadget dan membeli beberapa casing & kabel charger untuk smartphone saya. Penampilannya sih OK ya, tetapi sayangnya dalam beberapa minggu ternyata sudah bocel sana-sini plus kabelnya ada yang udah tak bisa digunakan lagi. Huft, sedih. Mencari kualitas aksesoris yang OK itu memang tak semudah menemukan deretan penjual aksesoris di ITC.

Buat saya hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang gak kelar-kelar. Mungkin kalau saya kumpulin biaya yang telah dikeluarkan untuk beli aksesoris beberapa kali sudah bisa buat beli aksesoris yang jauh berkualitas. Apalagi setiap hari setidaknya saya membawa beberapa gadget mulai dari smartphone sampai laptop ke kantor. Maka dari itu saya sekarang lebih berhati-hati untuk membeli aksesoris.

Nah, kebetulan weekend kemarin ketika saya sedang berjalan-jalan ke Mal Taman Anggrek mata saya tertuju ke toko CAPDASE, dimana salah satu smartphone saya pakai pelindung dari merek ini. Maka langsunglah saya meluncur dan kepo tanya-tanya ke mas-mas penjaganya yang ramah. Ternyata toko CAPDASE ini yang pertama di dunia dan menyediakan lebih dari 400 aksesoris elektronik berkualitas tinggi seperti pelindung HP, charger, kabel, audio dan sambungan untuk smartphone pada mobile, tablet dan notebooks yang dapat kita gunakan sebagai sarana untuk menikmati hidup.

Ngomong-ngomong menikmati hidup, berhubung saya sedang mencari headphone untuk digunakan sehari-hari karena di kantor saya kebetulan menerapkan open space office?- dimana tidak ada sekat antar satu kubikel dengan kubikel lainnya – terkadang kami tidak bisa terhindari dari suasana ramai rekan kantor yang sedang meeting, diskusi, suara musik, sampai keseruan bermain Counter Strike. Nah, cara instan untuk mendapatkan ‘dunia’ sendiri adalah dengan menggunakan headphone dan karena itu penting banget untuk punya yang oke. Masalahnya, selama setahun lebih bekerja di sini saya sudah mencoba 2 merek berbeda dengan harga yang lumayan tetapi kualitasnya tidak sesuai dengan harapan.Nah, ternyata saya baru tahu kalau CAPDASE mengeluarkan produk keren Pulse Bluetooth headphone yang nggak bikin ribet karena tanpa kabel dan bisa ditekuk untuk menghemat tempat di dalam tas. Selain itu yang penting buat saya yang membawa beberapa smartphone berbeda (IOS dan Android) tentunya seneng banget ternyata headphone ini compatible dengan semuanya!

 

Kemudian fitur active noise cancellation-nya bener-bener menjadi surga buat saya dan semakin membuat saya lebih mudah konsentrasi bekejra sambil mendengarkan musik. Satu hal lagi, saya tak perlu khawatir karena baterainya bisa digunakan selama 10 jam. Cukup dong untuk sehari penuh bekerja, hehe. Makanya saya happy banget menemukan headphone ini! Kalau mau tau lebih lengkap bisa dapetin informasinya pada link ini: http://bit.ly/PulseCapdase atau kamu juga bisa follow akun social media CAPDASE di Twitter @id_capdase dan Instagram?@id_capdase.

Jadi, kalau kamu sekarang sedang galau mencari pasangan mantap untuk gadget kamu mulai dari aksesoris handpone?sampai headphone yang kualitas terjamin dengan harga terjangkau, meluncur deh ke toko CAPDASE dan temukan berbagai pilihan OK untuk gadget kamu! (*)



Belajar Untuk Fokus

Friday, February 27th, 2015

Hi, saya Dimas dan saat ini saya bekerja di salah satu digital agency terbesar di Indonesia. Jadi, terbayangkan paparan saya dengan teknologi hampir bisa dibilang 24 jam 7 hari. Setiap detik, setiap saat, dan setiap saya bangun pun saya bergegas periksa timeline Path, Twitter, sampai email dari kantor. Ya, segitunya saya mengomsumsi teknologi dalam keseharian. Terkadang saya merasa hidup di dunia yang bising dengan visual tulisan, gambar, suara, tetapi semua menjadi adiksi. Apabila sehari saja tidak akses rasanya menjadi ada yang kurang…

 

Ketika saya membaca tulisan dari Mas Adjie di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” permasalahan pertama saya adalah saya memiliki “Monkey Mind” dimana pikiran saya bisa loncat sesuka hati dalam satu waktu. Seperti monyet yang berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Istilah kerennya sih ‘multitasking’. Pikiran saya yang serba berloncatan ini pun ‘terlatih’ ketika dulu saya masih menjadi penyiar radio. Saya berlatih di mana tangan pegang mixer, telinga mendengarkan lagu, otak berpikir akan hal yang akan saya sampaikan di depan mic, dan mata mengawasi layar komputer. Satu waktu melakukan banyak hal dan ternyata tidak selamanya hal itu menjadi hal yang positif.

Kembali ke dunia yang penuh dengan teknologi, sekarang saya memang sering menjadi multitasking ketika bekerja. Tangan menyusun presentasi tetapi sesekali saya terlalu ‘gatal’ untuk cek update Path di gadget, periksa email di tab lain, atau sekedar membaca berita terbaru di halaman berita online. Sulit sekali rasanya fokus. Waktu mengerjakan presentasi yang harusnya satu jam bisa selesai, ternyata akhirnya mundur berjam-jam kemudian. Terkadang merasa kesal dengan diri sendiri.

Di buku “Sadar Penuh Hadir Utuh” saya belajar ternyata banyak sekali manfaat kita untuk melatih fokus dan ‘away’ beberapa saat dari internet. Misalkan saja waktu kita untuk membaca buku akan semakin banyak dan saya sangat percaya dengan hal satu ini. Bisa dibilang di kamar saya, hampir ada puluhan buku yang ‘belum sempat’ saya baca, bahkan beberapa masih dalam bungkus plastik. Kalau dibilang saya tak sempat membaca karena tidak ada waktu, rasanya tidak juga. Karena setiap pulang kerja dan setelah saya membersihkan diri, saya pasti akan kembali ke gadget, menulusuri timeline dan menonton video di YouTube lalu menghabiskan waktu berjam-jam dengan percuma. Hampir setiap hari. Seadainya saja saya bisa fokus dan menjedakan diri dari teknologi, saya yakin bisa membaca buku setiap hari dan semakin banyak ilmu yang saya dapatkan.

Kemudian di buku yang sangat memberikan pencerahan untuk saya ini, saya juga belajar bagaimana sih caranya supaya tidak selalu terhubung dengan internet? Salah satunya adalah tinggalkan gadget atau matikan.

Kalau tinggalkan gadget mungkin buat saya seperti kehilangan setengah nyawa ya, haha. Tetapi untuk mematikan gadget memang terkadang saya lakukan. Misalkan saja ketika sedang nonton film di bioskop, saya pasti akan mematikan gadget dan fokus ke layar. Dipikir-pikir, kita bisa melakukan itu juga ketika kita bekerja. Untuk fokus terkadang perlu untuk bersendiri serta terputus dari dunia luar. Selain itu, bersama sahabat-sahabat saya, kami juga punya kebiasaan ketika sedang nongkrong bersama, kami akan menumpuk semua gadget di satu tempat dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sampai kami selesai saling bertukar cerita. Rasanya sangat menyenangkan dimana kita fokus dengan cerita teman kita, tertawa tanpa ada jeda melihat gadget, dan waktu berasa lebih berarti.

In the end bagi saya sebenarnya teknologi banyak menolong saya untuk terhubung dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman – serta tentunya dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan keseharian, kita harus bisa menjaga agar teknologi tidak menginterupsi bahkan sampai menganggu kehidupan kita dalam keseharian. Melatih fokus dalam hal-hal yang menjadi prioritas serta kita harus bisa menempatkan teknologi sebagai tujuan awalnya untuk memudahkan aktivitas manusia – bukan mendistraksi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi buat kamu yang ingin tahu lebih banyak bagaimana kita bisa belajar fokus dan menemukan tips yang bermanfaat dari buku “Sadar Penuh Hadir Utuh”, buku Adjie Silarus ini baru akan terbit 24 Maret 2015 tetapi kamu bisa dapatkan lebih dulu dengan melakukan pre order dari tanggal 2-11 Maret 2015 pada link ini. Selain itu akan ada 20 tiket kelas “Sadar Penuh” untuk pembeli PO yang beruntung, lho. Yuk kita belajar fokus! (*)



 photo dimasrounded_zpsd55d0ae3.png


DIMAS NOVRIANDI
Just an Indonesia-based lifestyle blogger covering city life, style, travel, gadget, book and menswear world. Wishing his day had more than 24 hours.
CONTACT ME
[email protected]
CURRENT LOCATION
Jakarta, Indonesia

SEARCH

ARCHIVES

CATEGORIES

Find Me on Google Plus

find me on Instagram

find me on Twitter

find me on Pinterest

find me on Bloglovin

meet up with us

http://kopdarjakarta.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers