#Day24: Mencari Teman Dimana Saja

Saturday, January 24th, 2015

 

Siapa yang setuju dengan kutipan di atas? Menurut saya mendapatkan teman yang bisa kita anggap sebagai teman sejati terkadang sulit untuk ditemukan. Terkadang pertemanan bisa berjalan dengan mulus – tetapi pasti akan selalu ada rintangan dan kejutan di setiap tikungan perjalanan hidup kita.

Memang, tak semua orang dapat menemukan teman baik dengan mudah. Bahkan terkadang kita dapat menemukan teman pada saat keadaan yang tak disangka-sangka. Sesimpel misalkan ketika saya masih fresh graduate dimana saya sering ikut tes kerja di beberapa perusahaan. Berawal dari antre bareng, tes bareng sampai tahap tertentu, dan akhirnya menjadi teman baik sampai sekarang. Tak terbayangkan padahal sudah berlalu kurang lebih 10 tahun yang lalu, haha.

Saya sungguh merasa beruntung selalu dikelilingi oleh teman-teman baik, tetapi saya menyadari dengan semakin bertambahnya umur, kesibukan pun bertambah juga hingga semakin sulit untuk dapat bertemu dengan teman-teman. Tapi saya percaya, teman itu tidaklah harus bertemu setiap hari, tetapi bisa meluangkan waktu untuk memiliki quality time ketika bertemu, walaupun itu hanya sebulan sekali.

 

Nah saya ada rekomendasi menarik nih supaya kamu juga bisa mendapatkan teman yang seru tanpa harus kopi darat, tentunya dengan cara online yang menyenangkan yaitu dengan install aplikasi Yogrt. Yogrt adalah aplikasi pencari teman berdasarkan lokasi terdekat. Kamu bisa mencari teman berdasarkan jenis kelamin dan umur yang kamu inginkan dengan fitur filter yang ada. Untuk berkenalan, kamu bisa mengajak mereka bermain game. Gamenya ada macam-macam, mulai dari Match 7 yang mencoba kecocokan satu sama lain hingga game iseng-iseng seperti Color Blind, Memory, sampai dengan Beat Pinguin. Seru banget, kan?

Nah, dalam rangka merayakan user ke 100.000, Yogrt mengadakan game seru #ChopChop yang hadiahnya gak main-main! Mulai dari Mini GoPro, Samsung GALAXY S5, sampai dengan iPhone 6! Selain itu juga ada hadiah voucher belanja dari Blibli.com untuk para pemenang peringkan 2 -1 0 dan para pemenang harian. Seru banget. Bahkan si @chikastuff sempat ngasih tahu kalau dia menang voucher belanja karena main game #ChopChop ini.

Saat ini aplikasi Yogrt baru bisa digunakan untuk Android. Kalau mau download, kamu bisa ke sini http://bit.ly/17Hi61Y. Saya juga udah download di gadget android saya, seru!

Untuk keterangan lengkapnya kamu bisa follow saja Twitter @YogrtID atau Likes Facebook Fanpage Yogrt. Pengumuman harian juga diumumin di Twitternya, jadi jangan sampai kelewatan! Selamat bermain dan mencari teman, yaaaa…. (*)



#Day19: Terbang Lebih Tinggi

Monday, January 19th, 2015

 

“Kamu tak ingin terbang lebih tinggi?,” tanyamu.

“Tidak. Aku merasa cukup, tak kurang tak lebih. Tak ada lagi yang aku cari,” jawabku singkat.

“Tapi… Kenapa kamu tak mencoba kepakkan sayap dan rasakan dunia yang berbeda? Kamu akan melihat hamparan pemandangan baru dan tak perlu lagi sembunyi dibalik sekumpulan awan biru”.

Aku menengadah dan menatapnya erat. “Kamu. Kamu alasanku untuk tak ingin terbang lebih tinggi. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia apabila aku hanya dapat melihatmu dari langit?”

“Kamu bisa menitipkan pesan kepada angin atau kamu juga bisa menyisipkan rindu di dalam setiap tetesan hujan. Aku akan menyimpannya dan mengumpulkannya sampai kamu pulang”. Ujarmu dengan mata berbinar dan jemari tanganmu mengenggam erat tanganku.

Aku terdiam, menatapnya pelan, melepaskan gengamannya, lalu terbang ke angkasa. Dan aku pun terbang lebih tinggi. Kulihat bayangannya semakin mengecil lalu menghilang.

Saat itu… menjadi saat terakhir kali aku melihatnya. Di antara tetesan hujan yang luruh dengan derasnya. (*)



#Day18: Seperti Tukang Sate

Sunday, January 18th, 2015

Kadang hidup itu seperti menanti tukang sate. Kenapa tukang sate? Karena bagi saya menanti tukang sate untuk lewat depan rumah itu waktunya tak pernah bisa saya duga. Ketika saya sudah merasa kenyang dan siap untuk tidur, rasanya entah berapa kali tukang sate favorit saya melewati depan rumah dengan suara khasnya. Tetapi sebaliknya ketika saya berasa kelaparan dan di rumah tidak ada makanan tersedia, entah kenapa tak ada satu pun tukang sate yang lewat. Saya sering bertanya-tanya, tampaknya filosofi Law of Attractions tidak bisa berhubungan dengan kebutuhan perut.

Sama seperti ketika kita hendak mencari barang yang dibutuhkan di dalam kamar. Terkadang ketika kita belum perlu, barang itu tampak di depan mata: tergelak di meja, samping kasur, lemari, atau di tempat terjangkau lainnya. Tetapi begitu kita perlu, rasanya benda itu hilang ditelan bumi. Biasanya karena kita terburu-buru dan panik. Berasa familiar?

Begitu pun dalam hidup. Ketika kita sudah mengetahui keinginan kita, kita akan berdoa setiap saat agar hal tersebut dapat segera terwujud. Tetapi Tuhan punya caranya sendiri untuk mewujudkannya. Kadang bisa segera diberikan, kadang perlu waktu yang cukup lama, dan seringnya keinginan kita belum dipenuhi sama sekali – untuk saat ini.

Saya belajar, ketika ada masa dimana saya menginginkan sesuatu bahkan menjadi salah satu doa utama saya untuk cukup lama, ketika akhirnya tercapai, terkadang pada akhirnya saya merasa bukan itu yang saya cari dalam hidup. Membedakan apa yang saya inginkan dengan apa yang saya inginkan orang lain melihat saya ternyata totally different. 

Akhirnya saya memahami, ketika kita membutuhkan atau memerlukan sesuatu, jangan terburu-buru. Terkadang yang terbaik akan diberikan pada saat yang tepat. Tidak perlu gegabah dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Memastikan apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan sesaat merupakan misteri terbesar yang harus saya pecahkan dengan hati-hati.

Pada akhirnya, seperti menanti tukang sate, ketika akhirnya tidak lewat, tentunya saya tak akan bersedih. Mungkin saya akan melewatkan malam itu dengan lapang dada sampai menanti datangnya pagi atau saya akan menelpon restoran fastfood terdekat untuk santap malam. Semua akan berbalik pada diri kita, pasti akan ada jawabannya tergantung bagaimana usaha kita dan campur tangan Tuhan untuk mewujudkannya. Ah saya jadi ingin makan sate, sayang malam ini ia lagi-lagi tak lewat depan rumah. (*)



#Day17: Kartu Pos Itu

Saturday, January 17th, 2015

Semakin lama saya semakin lupa rasanya menulis dengan jari tangan. Setiap hari jemari ini lebih jamak menyentuh papan huruf di laptop, gawai, dan benda teknologi lainnya. Hal ini bukan saya saja yang mengalami, tetapi saya yakin banyak orang yang turut merasakannya. Contohnya saja rekan sekantor saya Garth yang penasaran ketika melihat saya menulis semua jadwal meeting di dalam agenda hitam saya. “Jadi setiap hari lo catet semua jadwal di buku itu, Kak?,” tanya Garth.

“Iya, tapi tetep sih Kak, semua jadwal aku masukin lagi ke dalam gadget supaya tak lupa. Vice versa. Jadi kalau ada undangan via email akan langsung aku catat di buku ini,” jawabku sambil semangat. Bagi saya, kegiatan ini juga menyalurkan kesukaan saya menulis dengan pulpen dan terkadang memberikan warna tulisan berbeda untuk tujuan yang berbeda pula. Bisa untuk janji pertemuan yang personal sampai hari ulang tahun teman-teman. Hal ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak masa kuliah. Saya gemar mengumpulkan beragam alat tulis dan menulis catatan dengan rapi.

Toko kartu pos yang saya temukan di Beijing

Tetapi saya sadar bahwa kegiatan ini sangat personal. Tidak ada yang bisa saya bagi dengan orang lain. Lalu saya teringat, saya memiliki beberapa sahabat yang gemar mengirimkan kartu pos ketika mereka sedang bepergian – biasanya ketika mereka menginjakkan negara atau kota yang pertama kali dikunjungi. Sebagian besar kartu pos itu masih saya simpan dan sebagian kecil saya pajang di ruang kantor saya untuk sekedar mengingatkan rasa bahagia ketika menerimanya dan membaca tulisan tangan yang tertera.

Bagi saya, menerima kiriman kartu pos menjadi pelipur lara dimana saat ini hampir tak ada lagi teman atau saudara yang mengirimkan surat dengan tulisan tangan untuk bertukar kabar. Semua sudah tergantikan dengan teknologi yang semakin canggih dan terus tergantikan dengan cara baru. Pada akhirnya saya sering menjawab pertanyaan teman-teman saya yang menanyakan mau oleh-oleh apa ketika mereka akan menuju suatu tempat, saya pun dengan cepat menjawab, “Kalau tak merepotkan, boleh ya kirimin aku kartu pos”. Walau pun terkadang dibalas dengan tatapan bingung, pada akhirnya mereka pasti mengirimkan sehelai kartu melalui pos dengan kegembiraan yang tertulis dengan jelas. Mungkin mereka tak pernah sadar, kegembiraan itu menular dan saya menyimpan kegembiraan itu di setiap kartu yang akan saya jaga dengan baik.

Pertanyaannya, kapan kamu terakhir kali menerima/mengirimkan kartu pos? (*)



 photo dimasrounded_zpsd55d0ae3.png


DIMAS NOVRIANDI
Just an Indonesia-based lifestyle blogger covering city life, style, travel, gadget, and menswear world. Wishing his day had more than 24 hours.
CONTACT ME
[email protected]
CURRENT LOCATION
Jakarta, Indonesia

SEARCH

ARCHIVES

CATEGORIES

Find Me on Google Plus

find me on Instagram

find me on Facebook

find me on Twitter

find me on Pinterest

find me on Bloglovin

meet up with us

http://kopdarjakarta.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers